RUANG RINDU

Agustus 29, 2007 at 4:50 am (RUANG RINDU)

Lama tak sua. Tiap kali Save us lama gak hadir ke hadapan pelupuk mata kalian, selalu aja ada berita-berita miring, ada yang bilang Save us udah mati lah. Ada yang mau coba ngidupin Save us lagi… eh sembarangan, emangnya Save us udah jadi mayat. Kemarin setelah lama gak buka blog, bahkan ada yang nyeletuk jangan-jangan gue udah bosan dakwah…. Yee.. enak aja, nggak gue banget gituh. Padahal kan udah gue wanti-wanti jauh-jauh hari. Save us itu media yang serba gak jelas, bentuknya gak jelas, yang bikin gak jelas siapa, isinya gak jelas, aturan edisinya gak jelas (loncat-loncat), kapan pertama terbit gak jelas, terbit tiap kapan gak jelas, dan kapan mau terbit lagi juga gak jelas, termasuk yang ngebaca kayaknya juga gak jelas.

Nah, untuk menghadapi gosip-gosip gak sedap itulah (yah, ternyata Save us udah jadi selebritis makanya ikut-ikutan digosipin) akhirnya…. Jreeeengg…. Save us mau gak mau mesti muncul lagi.

“Hahaha… paling-paling sekitar satu dua edisi lagi juga ngilang lagi… itu biasa mah… dulu-dulu juga gitu” celetuk seseorang dari ujung sana.

Ya… biarin.. semau gue dong.

Eh, pren. Kalian sering denger lagu Ruang Rindunya Letto, gak?. Iya sih, emang terlampau melow. Tapi lagu itu asik juga, kan? Nah, ngomong-ngomong tentang ruang rindu itu… Percaya nggak walau Save us lama sekali gak nongol namun sesungguhnya tiap kali denger lagu itu benak gue langsung aja terbayang-bayang kalian. Gue rindu loe-loe pade, walau kita gak saling kenal dan pertemuan kita hanya lewat perantara media butut ini. Tapi sesungguhnya loe-loe udah tersimpan di dalam bilik hati gue yang terdalam. Walau lama tak bertemu, namun seperti katanya Letto, di ruang rindu kita tetap bertemu.

Kalian percaya kan?

Hahaha… mau-maunya percaya? Ngapain juga gue ngerinduin loe… ih kayak gak ada kerjaan aja. Mending gue ngerinduin yang lain…..

Tapi ngomong-ngomong soal ruang rindu… loe percaya nggak tentang keberadaan ruang rindu? Iya, ruang rindu… dimana konon walaupun si perindu tak bertemu langsung, namun di suatu tempat yang bernama ruang rindu, mereka bisa bertemu bermesraan saling melepas rindu. Sehingga kepedihan yang lama terpendam bisa terobati begitu rupa. Ruang rindu ada gak yach…. karena kalau memang ada, gue ingin segera bertamasya ke sana sekarang juga. Karena kepedihan gue saat ini begitu membuncah! Kerinduan gue sudah tak terperikan!!

Pagi tadi gue lihat di Televisi tentang rencana penggusuran ribuan rumah warga yang berada di sapanjang jalan tol. Pemerintah DKI Jakarta tak menggubris kepedihan mereka dan tetep keukeuh bakal menggusur ‘perumahan mewah’ milik warga miskin itu. (Loe paham kan maksud gue bikin miring tu tulisan? Rumah yang dimaksud sebenarnya hanyalah gubuk reot dan tumpukan kardus!) Huh, alih-alih memberikan rumah yang layak, eh ini udah miskin dipelorotin lagi. Lalu kemana lagi mereka harus pergi… bila senantiasa diusir!

Kemanapun aku pergi

Bayang-bayangmu mengejar

Bersembunyi dimanapun

Slalu engkau temukan

Aku merasa letih….

Bahkan Ebiet G Ade sendiri tak tahu harus menjawab apa.

Gue geregetan. Mana katanya Pemerintah yang berupaya mensejahterakan rakyatnya?! Woi, Om Fauzi Bowo! Loe juga mungkin nanti tampaknya sama saja. Kampanye sih manis-manis, tapi gue gak yakin loe bakal menghentikan penggusuran-penggusuran ini.

Di saat kepedihan hati ini maka mendadak gue ingin lekas menuju ruang rindu…

Di ruang rindu gue ingin ketemu sama Bang Umar bin Khattab!

Gue akan mengadu pada beliau, sebagaimana dulu seorang Yahudi tua pernah menghadap pada beliau. ”Woi, bang Umar! Lihat tuh atas nama keindahan kota, ribuan rumah warga miskin di DKI Jakarta mau digusur paksa!”

Wajah bang Umar pun mengerut dan memerah. Giginya menggeretak. Diambilnya sebuah tulang dan digoresnya keras dengan sebilah pedangnya.

”Ini, serahkan pada Gubernur DKI Jakarta, berlaku luruslah. Ingatlah kamu akan menjadi tulang belulang. Kalau tidak berlaku lurus, maka aku yang akan meluruskanmu dengan pedangku!” tegas Bang Umar.

Ahhh… Bang Umar! Satu tulang mana cukup. Masalahnya yang perlu dikirimi tulang ini ada ribuan oknum. Rakyat yang digusur ribuan. Dan bukan sekali saja… kejadian ini sudah jadi hal yang biasa….” protes gue

”Apaa!!!” Bang Umar terhenyak tak percaya.

Pagi tadi pula gue lihat berita di layar tivi tentang penyiksaan TKW di Malaysia, Pemerintah hanya diam melihat warga-warga muslimnya dianiaya, bahkan ada yang sampai mati terbunuh.

Aargghhh…. apa pula ini! Bukankah kata Allah nyawa seorang muslim begitu berarti. Bahkan lebih berarti daripada isi bumi.

Gue terperangah. Kembali gue berlari ke ruang rindu. Gue set pertemuan dengan Khalifah Mu’tashim billah.

“Khalifah… khalifah…. di sana khalifah… kembali muslim dianiaya!” teriak gue sambil berlari ke arah beliau.

Beliau terkejut. Beliau yang dulunya, karena mendengar seorang muslimah dilucuti kehormatannya oleh tentara romawi dan langsung mengerahkan pasukan untuk menyerbu Romawi yang panjangnya nauzubillah…. ketika ujung depan pasukan sampai ke tempat perang, ujung belakang masih ada di dalam kota.

”Oke! Panggil para panglima! Kita segera mobilisasi pasukan. Kali ini mesti lebih banyak…. eh tapi dimana tempatnya… dan siapa pelakunya? Romawi lagi? Atau Persia?” tanya Khalifah Mu’tashim

Mmm…. bukan Khalifah…. di Malaysia…. negri yang penduduknya juga muslim. Pemerintahnya juga muslim….” sahut gue sambil menggaruk-garuk kepala.

Brak! Khalifah Mu’tashim terduduk mendadak tak percaya.

Gue kemudian baca koran hari ini. Harga-harga naik lagi. Para pengungsi korban Lapindo terancam kelaparan, sementara di beberapa desa terpaksa memakan nasi aking.

Gubrak! Aduh, karena tergesa berlari, gue sampai kesandung. Gue udah tak tahan. Gue mau segera ke ruang rindu. Gue pengen ketemu dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis!

Beberapa saat kemudian, di ruang rindu…

Khalifah Umar bin Abdul Azis menyambut gue dengan ramah di rumahnya yang teramat sederhana.

Sebentar… ini masalah umat atau masalah pribadi…. soalnya kalau masalah pribadi kita tidak akan memakai lampu yang didanai dari uang umat ini” Tahan beliau sebelum gue memulai pembicaraan.

Masalah umat, mas khalifah! Ini lho…….” gue langsung menunjukkan Koran yang tadi gue baca.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis deras. Beliau terpana, di pemerintahan, beliau pernah memacahkan rekor dimana tak seorangpun ditemukan warga miskin yang hidup di daerah kekhilafahan. Sekarang…..

”Panggil Yahya, petugas amil zakatku…. suruh dia menguras baitul maal. Dan segera selesaikan masalah kemiskinan ini. Aku tak akan pernah bisa tidur nyenyak sebelum masalah ini terselesaikan.” titah beliau masih dalam keadaan terisak.

Gue tercenung.

Palestina kembali membara. Daerah-daerah umat kembali dicaplok oleh zionis Israel la’natullah. Palestina ini….. ini tanah umat. Tak berhak diinjak oleh Yahudi keparat itu. Gue setting Ruang Rindu, kali ini tujuan gue Sultan Abdul Hamid 2, sultan yang termasuk deretan khalifah terakhir di masa Kekhilafahan Turki.

”Sultan….Gue…” gue terdiam sejenak. Muka beliau tampak merah padam. Entah apa yang beliau hadapi. Gue tunggu sampai kemarahan beliau mereda.

”Oh, maaf…” kata Sultan setelah menyadari kehadiran gue. ”barusan tadi ada seorang Yahudi bernama Theodore Hertzl memohon kepadaku untuk memberikan tanah Palestina untuk pemukiman Yahudi” Lanjutnya.

”Lalu apa jawab Sultan?”

Demi Allah! selama aku masih hidup, aku tak akan membiarkan sejengkal pun tanah Palestina di tangan mereka. Tanah itu bukan milikku… tanah itu milik umat!” jawab beliau.

Sultan, sayang sekali….” sahut gue. ”Sepeninggal sultan, dan setelah kekhilafahan runtuh pada maret 1924, Kaum Yahudi telah merampas dengan paksa tanah suci itu. Darah kaum muslim membanjir di sana. Sementara Pemerintah negri-negri muslim tak bergeming, dan….” kata-kata gue terhenti. Gue lihat muka Sultan kembali merah padam. Hii.. mending gue kabur… gue set ruang rindu segera ke tempat lain…

”Hei, anak muda. Jangan menghalangi jalan kami!” teriak seseorang mengejutkan gue.

Gue buruan minggir. Sosok tegap berwibawa di atas kuda itu…. tak salah lagi. Pasti ini Panglima Salahuddin!

”Panglima Salahuddin kan….?” tanya gue.

”Maaf, anak muda. Tapi aku dan pasukanku mau bergegas menuju Baitul Maqdis untuk membebaskan tanah itu dari kaum salibis yang merenggutnya. Tak akan kubiarkan mereka mengotori tanah suci itu. Allahu Akbar!” serunya yang disahut denan takbir serupa oleh segenap pasukannya.

Oii… Panglima…. tunggu dong…. gue mau foto-foto dan minta tanda tangan dulu….!” Tapi terlambat, pasukan itu telah melaju dengan cepat. Huuhh

Kembali ke habitat.

Palestina masih terjajah.

Negri muslim yang lainnya terobarak-abrik terpecah-pecah.

Penguasa-penguasa bermuka manis dengan rakyat sementara tangannya menindas dengan zalim.

Rakyat terbebani hutang. Kemiskinan merajalela. Harta rakyat dikuras habis.

Aqidah tercerabut, syariat dipinggirkan. Hukum kufur merajalela.

Akhhh… gue gak betah hidup di sini! Gue pengen di ruang rindu aja! Saat kedamaian di bawah naungan islam menaungi semesta. Saat islam meraja, saat bumi menjadi hamparan sajadah, saat ukhuwah terpelihara, saat taqwa mengakar melangit. Gue pengen di sana aja!

Jalanku hampa

Dan kusentuh dia

Terasa hangat oh di dalam hati

 

Mata terpejam dan hati menggumam

Di ruang rindu kita bertemu.

 

5 Komentar

  1. bunga said,

    ko dakwahnya sekedar mengomel aja yah???…..bukannya sebaikna bergerak nyata?…tapi senyata apapun ,..masalah itu semua kan ga bisa diselesaikan dengan membalikan tangan,…dan diperlukan kearifan apalagi di jaman sekarang yang serba relatif,…semua itu harus ada dasar pemikiran yang ga bisa disamakan …..selamatkan dirimu,..dan keluargamu,..ini adalah langkah nyata yg harus ditekankan oleh setiap diri,..kalo diri dan keluarga sudah benar maka ga ada lagi masalah di dunia ini,..karena masing2 diri dan kelaurganya akan menjadi kontrol sosial yg cukup efektif,…da nikah belum?kalo belum,..selamatkan keluarga kita dulu….:)
    salam

  2. pengagum said,

    dari situs o-solihin, saya lari kesini, sambil nungguin buka puasa (kantor udah sepi, pada pulang mudik, sedihnya tiap tahun harus piket hari raya)
    bagus sekali cara penulis (wallahu a’lam siapa penulisnya), semoga barokah Alloh selalu dicurahkan kepadanya. Saya baru baca sekitar 2-3 tulisan, langsung respek terhadap cara penulis ini memulai penyampaian ide, membawanya mengarungi alam pikiran pembaca, kemudian menuntaskannya dengan cara yang efektif.
    salut, dan semoga karya-karyanya selalu keep on track dan berada di jalan-Nya.

  3. Muhyi said,

    akh… artikel2 yang ada di sini boleh diprint dan disebarkan ga ma saya???

    boleh ye….!!

  4. misbah makmun said,

    Asalamualaikum

    Ya sobat, bila kita melihat /menikmati keindahan apapun bentukannya sepatutnya kita memuji Allah. Tiada manusia sampai kapanpun seindah RasulAllah dalam
    segala hal, kemudian diikuti para sahabat yang ratusan dan Sultan umar bin Abd
    Aziz, Sultan Harun Al Rasyid, Salahuddin dll. Sermua itu terjadi karena kehendak
    Allah.
    Marilah kita bersyukur pada Allah yangtelah menciptakan mereka, kita berharap lebih banyak lagi orang-orang mempelajari mereka dan meneladaninya. Dan akhirnya
    semoga Allah menciptakan lagi orang sekelas mereka pada sekarang ini.

    Salam

  5. hadiyya said,

    assalamu’alaikum
    wuiiiiiiiiiiiiiiiiiiih,,,,kereeeeeeeeen..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: