MUAK

Mei 7, 2007 at 9:17 am (MUAK)

Di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang puteri nan cantik jelita. Dia tinggal di menara tinggi yang dijaga oleh naga yang menyemburkan api. Sang putri sudah bertahun-tahun tertidur. Konon tidurnya ini hanya bisa dibangunkan oleh kecupan cinta sejati dari seorang pangeran.

Berita keberadaan putri ini terdengar sampai ke negri tetangga, tempat tinggal seorang pangeran budiman dan rupawan. Dia kemudian bergegas pergi menaiki kuda terbangnya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang nenek sihir tua yang sedang mengendarai sapu terbangnya. Sang Pangeran dan Nenek Sihir pun saling jatuh cinta. Dan mereka hidup berbahagia selama-lamanya….

Hahaha… gak nyambung ya… terserah gue dong! Mau ceritanya gue akhiri dengan Pangeran akhirnya menikahi sang naga juga terserah gue. Kenapa? Protes?!

Oke, sekarang mari kita simak cerita yang kedua…

 

Semenjak tragedi 911 atau 11 September yang meluluhlantakkan menara kembar WTC, dan gedung pertahanan AS di Pentagon, muncullah satu selebritis baru di dunia terorisme. Usamah bin Laden yang diyakini otak di balik tragedi kemanusiaan terbesar itu. Tokoh yang sangat berbahaya, yang dengan alQaeda-nya bagaikan setan yang selalu menghantui sendi-sendi kemanusiaan yang selama ini dibangun oleh Amerika. Maka, demi melindungi umat manusia dari petaka yang lebih berbahaya, AS rela mengorbankan diri untuk terjun langsung memimpin perang global melawan terorisme. Tak ayal, dua negara poros setan dalam waktu berdekatan berhasil diselamatkan dari kejamnya terorisme. Dua negara yang beruntung itu adalah Afghanistan dan Irak. Namun tugas Amerika dan sekutunya tentunya belum bisa dianggap selesai. Usamah bin Laden sampai saat ini masih bercokol di dunia. Dia dan alQaeda masih terus menjadi ancaman laten bagi perdamaian dunia.

Sementara itu di Timur Tengah aksi ketegangan seperti tak pernah reda. Aksi bom bunuh diri yang masih sering dilancarkan oleh kaum militan Palestina mengusik kedamaian yang berusaha dibangun oleh Israel dan Otoritas Palestina. Wajar, bila Israel melakukan tindakan bertahan demi menyelamatkan dirinya.

Di Indonesia, tidak jauh beda. Jamaah Islamiyyah yang diyakini merupakan bagian AlQaeda terus menebarkan terornya. Pasca tragedi bom Bali I kemudian menyusul bom Bali II, serangkaian aksi terorisme yang diorganisir mereka terus saja terjadi dan menghantui kehidupan masyarakat sipil. …..

Cut! Cut!

Sekarang mari kita perhatikan perbandingan antara cerita yang pertama dengan cerita kedua. Cerita pertama tadi jelas-jelas cerita ngibul. Dongeng belaka, yang digunakan untuk membodohi anak-anak.. Kuda terbang, naga menyemburkan api, nenek sihir, dan lain-lainnya… mana ada di kehidupan nyata. (Atau jangan-jangan loe masih percaya tentang cerita pangeran, putri dan naga? Dasar kanakan!) Sampai di sini orang dewasa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, betapa mudahnya anak kecil dibohongi. Namun untuk cerita yang pertama, tak urung juga mendapatkan protes, bahkan dari anak kecil sendiri. Kok tokoh baiknya malah kawin sama nenek sihir sih. Terus nasib sang putri jelita bagaimana?

Nah untuk cerita yang kedua sebenarnya rada-rada mirip. Cerita kedua juga adalah cerita ngibul. Namun kali ini bukan anak kecil yang dikibulin, melainkan kita!. Pihak yang mengibulin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, betapa mudahnya orang-orang muslim itu dibohongi. Sayangnya, beda dengan cerita pertama yang banyak diprotes karena keanehan jalan ceritanya, dan penyelewengan cerita tokoh-tokohnya, namun untuk cerita yang kedua sangat sedikit terdengar protes. Padahal cerita kedua juga aneh banget, dan penuh dengan kibulan-kibulan.

Dan begitulah…. ternyata selama ini, kita begitu mudah dikibuli oleh propaganda-propaganda yang dikoar-koarkan barat yang sejatinya adalah penghinaan besar-besaran kepada umat muslim. Dengan berbagai media yang dikuasainya, Barat membuat kesan seolah-olah pemberitaan-pemberitaan yang dialamatkan kepada muslimin itu adalah benar adanya. Dan secara tidak sadar kita telah dihina habis-habisan. Sebuah penghinaan yang sistematis!

Suatu ketika gue berdebat dengan salah seorang guru. Kala itu beliau menyatakan bahwa kaum Taliban dan pejuang Palestina adalah para teroris. Asli, gue sangat keberatan. Menurut beliau teroris adalah istilah bagi orang atau kelompok yang menyebarkan rasa takut di masyarakat dan menggunakan senjata untuk menyebarkan rasa takut tersebut. Nah, karena itu menurut beliau para pejuang palestina dan pejuang taliban itu pantes diberi label teroris bila mengikuti definisi di atas.

Keberatan, Pak! kalo Bapak mengatakan begitu, berarti saya juga boleh mengatakan Pangeran Dipenogoro, Imam Bonjol, dan Panglima Sudirman juga adalah para teroris! alasannya mereka adalah komplotan yang menyebarkan rasa takut ke masyarakat Belanda saat itu, dan mereka mengangkat senjata….”

Interupsi gue diputus ”Oh, nggak bisa, mereka itu berjuang untuk kemerdekaan tanah air mereka, mereka adalah pahlawan”

Berarti Bapak yang tidak adil,” sahut gue cepat. ”Apa bedanya Pejuang Bersenjata Palestina dan Pejuang Taliban dengan pasukan sabilnya Pangeran Dipenogoro atau Tentara gerilyanya panglima Sudirman. Mereka sama-sama memperjuangkan hak kemerdekaan tanah airnya dari penjajahan. Persamaannya mereka sama-sama dilabeli sebagai ’musuh’ oleh para penjajahnya, namun diberi label pahlawan bagi rakyatnya. Kalo Bapak mengatakan kaum Taliban mengancam keamanan dan menimbulkan kekacauan, maka apa bedanya dengan tentaranya Panglima Sudirman yang juga menimbulkan kekacauan bagi penjajah sekutu saat itu? Anehnya, untuk kasus yang satu kita puja sebagai pahlawan, yang satu kita cap jelek sebagai teroris!?” Hehehe…satu-kosong. Gue merasa menang. Beliau gak berkutik.

Pembunuhan karakter. Begitu mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan media-media Barat saat ini. Sebutlah nama Usamah sekarang di hadapan orang banyak, maka kesan yang ada terhadap nama itu adalah identik dengan pimpinan kelompok teroris AlQaeda, biang keladi peledakan WTC. Padahal menilik sejarah, Usamah adalah nama seorang sahabat Rasulullah yang sangat disayangi beliau, putra dari Zaid bin Haritsah, anak angkat kesayangan Rasulullah. Begitu hebatnya pemuda ini, hingga di usia 18 tahun, sudah dipercaya oleh Rasul sebagai panglima memimpin sebuah angkatan bersenjata, membawahi sahabat Abu Bakar dan Umar. Nah, dan sekarang, nasib nama Usamah telah terlampau jelek. Jangan beri nama anak Usamah, nanti salah-salah dituduh sebagai anggota AlQaeda!

Nasib yang sama juga menimpa tokoh-tokoh kebanggaan islam yang lain. Rupanya mereka belum puas hanya melakukan pembunuhan karakter terhadap Muhammad Rasulullah. Para Sahabat utamanya pun tak luput dari penghinaan. Nama Abu Bakar akan diidentikkan dengan Abu Bakar Ba’asyir, tokoh yang dituduh oleh media sebagai otak bom Bali dan sejumlah peristiwa terorisme. Padahal, kita tahu persis nama Abu Bakar adalah nama Khalifah pertama, sahabat terdekat Rasulullah. Nasib yang sama juga menimpa Khalifah yang kedua, Umar alFaruq. Sekarang orang mengenal Umar alFaruq sebagai salah satu gembong terorisme yang berhasil dibekuk oleh AS. Tak ketinggalan Khalifah keempat, Ali. Saat ini nama Ali lebih identik sebagai pentolan kasus bom Bali, Ali Ghufron. Dan masih banyak nama-nama lainnya. Sehingga wajar bila sekarang orang-orang muslim rada-rada malu menggunakan nama-nama islam. Mereka lebih pede memakai nama-nama seperti Alex, Jason, Alice, Michael, Brandon… katanya sih lebih keren.

Dan ternyata, bukan hanya tokoh-tokoh islam yang dibunuh karakternya. Barat belum puas. Sehingga supaya merata dibuatlah skenario untuk menjelek-jelekkan seluruh umat islam. Dan akhirnya ditemukan cara yang tepat. Jamaah Islamiyyah! Lihat saja bila disebut begitu, maka yang ada di benak orang sekarang adalah sebuah organisasi teroris yang terkait dengan alQaeda. Hahaha… berarti sekarang semua umat Islam telah disebut sebagai teroris. Padahal, Jamaah Islamiyyah adalah istilah padanan lain dari umat islam. Arinya, semua yang mengakui Allah Tuhannya, Muhammad Rasulnya sama dengan te-ro-ris Keren, keren… hebat dan sistematis sekali penghinaan yang mereka lakukan. Sekarang orang jadi takut mengaku sebagai jamaah islamiyyah. Bisa ditangkap!

Dan yang bikin kesalnya, penghinaan sestematis dari barat ini diterima mentah-mentah oleh kaum muslimin. Ibaratnya mereka mengarahkan moncong senjata ke mulutnya sendiri dengan ikhlasnya….

Bukan satu dua kali gue dibilang orang ekstrimis, fundamentalis, dan radikal. Terakhir beberapa saat yang lalu saat gue bincang-bincang dengan anak satu tingkat di bawah, kemudian dia teriak ”Awas! Ada bom!” seraya menunjuk ke arah tas gue seakan-akan gue teroris yang bawa-bawa bom. Buseett, emangnya apa salah gue, kenapa gue jadi dicap ekstrimis, radikal, atau teroris? Padahal gue gak pernah melukai orang, gak pernah ngejahatin orang, kalo ngusilin orang sih sering… Tapi apa karna itu gue jadi disebut teroris?!

Nggak, coy! Pemikiran loe itu loh… radikal, loe itu islam garis keras!!!” salah seorang sohib akhirnya membantu menjawabkan.

Oalaahh…. jadi itu toh. Gara-gara itu? Jadi gara-gara gue selama ini anti pacaran, ngajakin pengajian, koar-koar masalah pentingnya penegakan syariat islam secara kaffah, bahayanya pemikiran kapitalis, keculasan Amerika menjajah negri-negri Islam maka gue termasuk si radikal ekstrimis!?

Kalo begitu betapa asalnya sebutan radikal ekstrimis tersebut. Definisi radikal ekstrimis tergantung siapa yang bilang. Nah, kalo begitu apa salahnya kalo gue bilang, sebenarnya loe lah yang ekstrimis dan radikal! Karena loe hobi nyontek, rajanya pacaran, dan suka gosipin orang. Radikal karena loe begitu keras kepala menentang larangan Allah, Ekstrimis, karena perbuatan loe itu sungguh ekstrim berlawanan dengan syariat Allah.

Lagian, pengkategorian islam menjadi islam garis keras dan islam moderat gak pernah dikenal dalam khazanah islam. Itu hanya pembagian dari Barat. Islam moderat, adalah yang sesuai dengan keinginan Barat, dan islam ekstrim atau islam garis keras, yang tidak sejalan dengan keinginan Barat. Kelompok yang memperjuangkan islam disebut dengan kelompok pemberontak, islam fundamentalis, atau teroris. Sedangkan kelompok yang bersedia bersimpuh terhadap keinginan Barat disebut islam toleran. Dalam Islam, gak pernah ada! Allah hanya membagi umatnya menjadi Muslim, yaitu yang berserah diri mengikuti jalan perintahNya; Fasik, yang mengaku islam tapi tidak mau mengkuti ajaranNya; Munafik, yang bermuka dua antara islam dan kafir; dan Kafir yaitu yang tidak mengakui Allah sebagai TuhanNya. Cuma itu….

Dan seperti tak puas hanya membunuh karakter kaum muslim, mereka pun melanjutkan dengan pembunuhan karakter simbol-simbol islam. Kita menyaksikan sendiri di media, misalnya pengidentikan orang Arab yang notabene identik dengan islam sebagai sekumpulan orang barbar yang kolot, bodoh, dan suka kekerasan. Sementara bahasa Arab, bahasa resmi umat Islam dijadikan bahan lawakan yang seru. Para ulamanya ditiru dan diparodikan untuk dijadikan model lawakan, yang selalu riuh dijadikan bahan tertawaan. Kemudian bila ada orang yang memanjangkan janggutnya dengan harapan bisa menyuburkan sunnah malah diteriaki kambing atau teroris. Ketika ada sebagian umat muslim yang memakai gamis putih panjang, maka masyarakat memicingkan mata kalau tidak meledek: ada unta kesasar!. Para akhwat yang berjilbab panjang -karena percaya begitulah jilbab yang sesuai syariat- pun juga mesti lebih bersabar dengan berbagai olokan, seperti ’ninja sasat’, orang eskimo dan lainnya

Astaghfirullah…..

Kebenaran dilecehkan, Ajaran Allah dipreteli, dan umatnya terhinakan. Sementara musuh-musuh Allah menjelma menjadi layaknya superhero dan ajaran Syaitannya dijadikan keagungan. Kalau begitu caranya gue katakan ”Dunia sudah betul-betul gila!”

Dan gue sudah betul-betul muak…..

1 Komentar

  1. mithe said,

    😀, tenang coy. klo aku punya anak cowok, salah satunya ku kasih nama usamah. Nama Usamah g’ bakalan ilang kok, tetap lestari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: