Mengenangmu…. Mencintaimu…..

April 24, 2007 at 3:22 am (Mengenangmu.... Mencintaimu.....)

Terik matahari menggelayuti kota Makkah.

Pelepah-pelepah tamar tersusun membangun sebuah salib besar. Salib, dimana disana disandarkan seorang laki-laki muda. Salib, dimana dirinya menjadi saksi bisu sebuah episode eksekusi mati, yang bahkan untuk masa jahiliyyah saat itu terlampau sangat kejam. Dimana si laki-laki meregang nyawa saat panah-panah bertancapan tanpa henti ke seluruh tubuhnya, dimana pedang-pedang beringas menyayat-nyayat dagingnya.

Di saat-saat seperti itu, salah seorang pemimpin Quraisy mendekatinya seraya berkata: ”Sukakah engkau, bila Muhammad saat ini menggantikanmu, dan engkau sehat wal’afiat bersama keluargamu?” Tenaga laki-laki itu tiba-tiba pulih kembali, dan dengan suara laksana angin kencang dia teriakkan, ”Demi Allah, tak sudi aku bersama anak isteriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedang Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri…!”

Di detik-detik sebelumnya, kalimat serupa itu pula yang diteriakkan teman seperjuangannya kepada sang pembesar Abu Sufyan bin Harb sesaat sebelum dipancung, ”bahkan di saat aku dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tak akan rela andai kata Rasulullah dicucuk duri di rumah beliau”. Kalimat yang menyebabkan sang pembesar hanya bisa berkata, ”Belum pernah kulihat seseorang yang dicintai oleh para sahabatnya seperti mereka mencintai Muhammad”

Dua laki-laki itu, Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ditsinnah…

 

Kita menengok ke belakang, saat perang Uhud sedang berkecamuk dengan dahsyatnya… Saat itu serangan mendadak yang dilancarkan pasukan musyrik tiba-tiba memutar balik keadaan dan mengkocar-kacirkan barisan kaum muslimin. Di saat yang genting itu seorang laki-laki menyerbu ke daerah dimana didapatinya seseorang berdiri, dan menjadi sasaran empuk serbuan musuh. Lelaki itu Talhah bin Ubaidillah. Seketika dilihatnya orang itu adalah Rasulullah, sang pujaan hati yang telah bercucuran darah, maka naik pitamlah dia, dan dengan lompatan dahsyat diayunkannya pedang ke segala penjuru.

”Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan berdiri tegak, nanti panah-panah akan mengenaimu! Biarkanlah aku yang berkorban, jangan engkau…”

Dan bagaikan satu peleton tentara, Talhah berdiri kukuh bagaikan tameng hidup melindungi buah hatinya. Dan cukuplah cerita dari Abu Bakar ini menggambarkan episode dahsyat itu,

”Itu semuanya adalah hari Thalhah….! Aku adalah orang yang mula-mula mendapatkan Nabi saw, maka berkatalah Rasul kepadaku dan Abu Ubaidah: ”tolonglah saudaramu itu… (Talhah)!” Kami lalu menengoknya, dan ternyata pada sekujur tubuhnya terdapat lebih dari tujuhpuluh luka berupa tusukan tombak, sobekan pedang dan tancapan panah, dan ternyata pula anak jarinya putus….!”

 

Gue cuma bisa terdiam, gue hanya berdecak kagum dalam hati. Gilee… betapa dahsyat! Setau gue gak pernah ada cerita pengorbanan seorang manusia kepada manusia lain sedahsyat pengorbanan para sahabat kepada Rasulullah. Tidak romeo kepada juliet, tidak juga leonardo di caprio kepada kekasihnya dalam pilem titanic (eh, siapa sih yang meranin tokoh wanitanya itu? gue lupa nih) Cinta yang bukan cinta gombal, kaya cinta-cinta loe… mmm, jauh jack! Namun kecintaan yang tiada tara, yang membuat para pencintanya berebut mengorbankan nyawa demi sang terkasih. Hingga seorang Tsumamah yang dulu paling membenci dirinya, berucap, ”ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada di muka bumi ini satu wajah pun yang paling aku benci melebihi wajahmu. Tapi akhirnya wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai….”

Itu belum seberapa, dan cerita di atas hanya seujung jari dari contoh kecintaan mereka, namun bolehlah buat merangkum gue sudahi dengan hadis dari Ibnu Sirin, ia berkata kepada ’Abidah, ”Aku memiliki sebagian dari rambut Nabi saw. Kami menerimanya dari Anas bin Malik dari keluarga Anas.” maka ’Abidah berkata, ”Sungguh, satu lembar rambut Nabi saw. yang ada padaku lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya” (HR alBukhari)

Lalu siapa sebenarnya sosok yang teramat dicintai itu, padahal dia pula yang mengatakan kepada orang-orang yang mencintainya ”Aku tidak mempunyai wewenang untuk memberimu manfaat atau mudharat…”

Muhammad bin Abdullah, dia hanyalah manusia biasa. Bukan malaikat, bukan tukang sulap kaya David copperfield, bukan tukang hipnotis kaya Romi Rafael, bukan mentalist kaya Deddy Corbuzier. Dia manusia biasa banget, gak beda dengan manusia lainnya, gak beda dengan gue dan elo …..Namun ke-manusiabiasaannya itu menampilkan pesona yang begitu luar biasa, menjadi cahaya yang meyakinkan segenap orang sekelilingnya untuk melebur ke dalam cahaya itu.

Dialah Muhammad, seorang pemimpin yang dalam waktu singkat berhasil menguasai seluruh jazirah arabia, namun hartanya yang paling mewah hanyalah sepasang alas kaki kuning hadiah Negus dari Abessinia. Tinggalnya di pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Kamarnya dipisahkan oleh batang pohon yang direkatkan lumpur bercampur kapur. Beliau sendiri yang menyalakan api, mengepel lantai, memerah susu, dan menjahit alas kakinya yang putus. Santapannya yang paling mewah, yang jarang dinikmatinya adalah madu, susu, dan lengan kambing. Beliau pula yang di akhir hayatnya, baju besinya masih tergadai di tempat seorang Yahudi.

Kelakuannya tenang dan tenteram. Beliau gagah berani, namun memiliki senyuman memikat, bahkan dalam hal-hal tertentu beliau lebih pemalu daripada gadis pingitan. Kemampuan intelektualnya tidak diragukan. Daya imajinasinya sangat tinggi, dan ekspresinya sangat mendalam.

Akhlak dan pergaulannya sangat luhur. Sosok ganteng yang ramah, diulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tidak dilepasnya sebelum yang dijabat melepaskannya. Beliau tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan teman-temannya yang sedang duduk. Beliau berjalan dengan penuh dinamisme, bagaikan turun dari satu dataran tinggi. Beliau menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya, berbicara perlahan dengan menggunakan dialek lawan bicaranya sambil sesekali menggigit bibirnya, menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuk ke telapak tangan kanannya.

Dia pula yang pada suatu ketika ingin memanjangkan sholatnya karena kerinduannya kepada Rabbnya, namun tiba-tiba mempersingkat shalatnya hanya karena mendengar seorang bayi sedang menangis.

Di dalam dirinya terkumpul berjuta keagungan. Seorang suami yang begitu penyayang kepada istri-istrinya. Ayah yang sangat mencintai anak-anaknya. Kakek yang menyempatkan bercanda dengan cucu-cucunya. Sahabat yang agung. Sosok guru yang disegani. Pemimpin yang berwibawa, panglima yang gagah berani, dan Kepala Negara yang begitu adil. Di luar itu beliau adalah Nabiyullah, hamba Allah yang begitu takut akan Tuhannya…

Maka di saat ini, 1400 tahun lebih sepeninggalnya, maka resapan keagungan itu sungguh masih terpancar.. Mengenang sosok bersahaja, mencintainya…  Shalawat menggema, salam cinta mengangkasa… Allahumma shalli ’ala muhammad wa ’ala ali muhammad….

Dan semerbak wangilah dunia dengan dendang doa dan shalawat

Namun mendidihlah kemudian. Bergejolaklah lahar api neraka…

Ketika lantunan shalawat tergantikan dengan noda-noda penghinaan…

Ya Allah…. Manusia sehina apa yang berani mencela dan menghina rasulmu yang mulia ini…. Padahal para musuh besarnya layaknya Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sufyan saja terkagum dan jatuh hati dengan keluhuran dan kemuliaan manusia ini…

Gue terkesiap. Bukan satu dua kali penghinaan yang disematkan pada sang pujaan hati. Waktu gue kecil dulu… gue masih ingat kehebohan tragedi ”Satanic verses”. Novel karangan Salman Rushdie yang menggegerkan dunia dengan pelecehannya terhadap Rasulullah dan ayat Qur’an. Seluruh dunia islam mengecamnya, bahkan Ayatullah Khomeini menghalalkan darahnya. Tapi toh, kenyataannya, Salman Rushdie tidak pernah tersentuh, dia aman di luar negeri sana.

Nah, ternyata gak kapok juga. Kaum kafir kembali bikin ulah, berpayung istilah ’kebebasan pers’ mereka mengolok-olok sang junjungan melalui gambar-gambar karikatur rendahan. 30 September 2005 tepatnya, ketika Jyllands-Posten, surat kabar asal Denmark itu dengan angkuhnya menerbitkan 12 buah karikatur yang mengolok-olokkan sang Rasul, Muhammad SAW. Masih ingat? Ouw, kebangetan sekali kalau loe lupa! Masalahnya, walaupun kasus penistaan itu sudah terhitung basi dan kadaluwarsa dari segi tanggal, namun masalah ini belum pernah dituntaskan.

Saat gambar karikatur itu menjadi heboh, gue segera browsing gambar laknat itu ke internet. Beruntung, gue dapet, dan….. wajar bila seluruh dunia islam murka. Lebih 14 abad sepeninggal Rasulullah, kaum muslimin tidak pernah berani mengilustrasikan Rasulullah. Seberani-beraninya mereka, paling-paling hanya sebatas menggambar lingkaran yang di dalamnya bertuliskan huruf arab ’Muhammad’ (itu yang biasa gue liat di komik-komik yang gue koleksi dulu). Dan kini muncul gambar-gambar yang menunjukkan sosok Rasulullah secara langsung, dan lebih dari itu dengan gambar rendahan selevel ’shinchan’ dan dengan nada penuh ejekan. Walah, ini nantang, jack!

Gimana nggak, misalnya di salah satu gambar, diilustrasikan nabi membawa pedang dengan wajah beringas, sedangkan di kiri kanannya ada dua orang perempuan. Atau di gambar lain, wajah nabi digambarkan seperti bajak laut, dengan bulan sabit mengitari wajah dan bintang menutupi mata kanan beliau. Dan yang lebih dahsyat, dalam satu gambar nabi digambarkan memakai sorban hitam yang di atasnya terdapat bom yang siap meledak. Di bom tersebut tertera kaligrafi laa ilaha illallah muhammadurr rasululullah…

Maka sangat wajar bila hati seluruh kaum muslimin meledak! kaum muslimin turun ke jalan, boikot, gedung Kedubes Denmark dan Norwegia di Suriah dan Libanon dibakar, negara-negara TimTeng menutup kedutaan. Tapi toh, sang penjahat tetap tak bergeming!

“Minta maaf untuk apa?” begitu malah ucap Editor Jyllands Posten, Flemming Rose saat didesak untuk meminta maaf. Betul-betul bikin gemes! Dan mereka, sampai sekarang tetap menolak meminta maaf atas pemuatan karikatur tersebut. Permintaan maaf mereka saat itu cuma karena telah menimbulkan perasaan tidak enak kaum Muslim. Hanya itu?!!

Dan karikatur itu, parahnya malah dicetak ulang di berbagai surat kabar Eropa. Di Perancis oleh Harian France Soir dan majalah Charlie Hebdo. Di Norwegia oleh majalah Kristen Norwegia, Magazinet. Di Selandia Baru oleh Wellington’s Dominion Post dan Christchurch’s The Press. Di Australia, The Courier Mail, koran terbesar di negara bagian Queensland, juga memuat ulang kartun-kartun tersebut di edisi akhir pekannya.

Dan belum sempat kaum muslimin bernafas damai, setahun kemudian muncul lagi kasus serupa dari tanah yang sama. Kembali ‘anak-anak’ Denmark bikin ulah dengan perlombaan karikatur. Kali ini yang mengadakan adalah anggota muda Partai Rakyat Denmark (Denmark People Party). Kembali, seperti sebelumnya tak satupun tindakan dari Pemerintah Denmark. Bedebah!

Dan bisa jadi dua kasus di atas hanyalah kasus yang mewakili berbagai penghinaan lainnya. Di dunia maya lebih mengerikan lagi. Cobalah browsing di internet, pakai google saja… maka kita akan mendapatkan berbagai gambar pengolok-olokan terhadap Nabi Muhammad,  mulai dari menjadikan wajah –yang diklaim sebagai gambar beliau- sebagai gambar iklan rokok, iklan viagra, penggambarannya sedang memandikan babi, gambar di tissue toilet, dan…. Sori, gue terlalu sangat geram untuk menuliskan lanjutan contohnya di sini

Bertubi-tubi? bahkan kemudian kaum muslimin hanya bisa melongo ketika Paus Benedictus XVI, yang notabene pemimpin umat Katolik sedunia, seenaknya mencaci maki Rasulullah dan ajarannya.       

Jadi tentunya penghinaan-penghinaan ini akan terus berlanjut. Dan kita sekali lagi hanya bisa mengutuk dan memboikot. Hanya itu….. padahal mereka di balik gedung-gedung pencakar langitnya sedang tertawa terkekeh-kekeh melihat begitu tidak berdayanya umat Islam……

Kemana perginya Talhah bin Ubaidillah??!

Kemana Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ditsinnah??!

Kemana Ksatria-Ksatria pembela Rasulullah?!!!!

 

 

2 Komentar

  1. ita said,

    mengenangmu…mencintaimu…, maknanya sangat mendalam sehingga menimbulkan kerinduan kepada Rasulullah saw. harapannya semoga dakwah dari “saveusgue” dapat membawa perubahan yang positif bagi generasi muda.

  2. All Mine….. » Blog Archive » Mengenangmu…. Mencintaimu….. said,

    […] Mengenangmu…. Mencintaimu….. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: