The adventure of sandal jepit

April 10, 2007 at 6:09 am (The adventure of sandal jepit)

Sandal apa yang paling ngetop sedunia? Yup, jawabannya adalah sandal jepit! Lho, kok bisa? Lha iya dong, sandal jepit emang sandal paling top, ngedapetinnya gak butuh banyak duit, sederhana dan nyaman dipakai. Itulah salah satu sebabnya mengapa kemana-mana gue selalu pake sandal jepit (kecuali kalo kuliah tentunya, bisa-bisa sandal jepitnya malah pindah ke kepala karma ditimpukin dosen), di samping tentunya sebab-sebab yang lain (bilang aja lo terlampau kere buat beli sandal yang bagusan).

Kolega Save us, mengapa pada edisi kali ini kita bicara sandal jepit, kayak nggak ada topik yang lain aja. Iseng banget! Kurang kerjaan! Dasar loe! Waahh… jangan keburu nyumpah-nyumpah kayak gitu dulu dunk. Gue nulis ini bukan nggak ada sebabnya. Ini semata-mata buat ngobatin kekesalan hati gue, yang mungkin juga kekesalan ini adalah kekesalan yang sama dengan kekesalan kolega Save us, terutama sesama sandal jepit mania.

Pernahkah kalian memiliki sesuatu yang sangat kalian sayangi, sesuatu yang setia melindungi kalian, selalu siap mengorbankan dirinya demi kalian, sangat lengket dengan kalian hingga kalian dengannya tak bisa terpisahkan. Kemudian suatu hari datanglah petaka itu, tanpa alasan yang jelas, seseorang dengan kasarnya dan tanpa merasa berdosa merenggut dia dari kalian. Pernahkah kalian merasakan hal yang sama? Gue pernah, sering lagi, dan gue yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang pernah merasakan hal yang sama. Ya, semua orang mungkin pernah kehilangan sandal jepit.

“Ah, loe berlebihan ngungkapinnya, itu kan cuma sandal jepit. Kayaknya dari tadi loe kebanyakan mendramatisir.deh” Hey, jangan pernah meremehkan sandal jepit. Bukankah sandal jepit setia melindungi kita dari kerikil-kerikil yang setiap saat bisa melukai telapak kaki kita, dari tai kucing yang kadang sulit dideteksi sebelumnya keberadaannya. Sandal jepit rela mengorbankan dirinya jadi kotor, atau benjol-benjol. Lalu dengan alasan apa kita meremehkan sandal jepit! (atau jangan-jangan yang bilang barusan, itu yang ngambil sandal jepit gue kemaren..).

Dan di tempat manakah, kalian paling sering kehilangan sandal jepit? Gue rasa jawabannya bakal sama, yaitu di mesjid atau langgar! Bayangin, rumah Allah jadi tempat yang paling tidak aman. Gue rasa ini bukan salah mesjidnya. Melainkan salah orangnya. Orang ke mesjid yang seharusnya beribadah terkotori dengan sering hilangnya sandal jepit? “Tapi kan kebanyakan karena nggak sengaja!” seseorang menginterupsi. Ya, betul. Memang kebanyakan nggak sengaja. Tapi apakah kita tidak bisa meresapi yang mana punya orang dan yang mana punya kita, ataukah karena sandal jepit begitu tidak berharga bagi kalian.

Seringkali kasus kehilangan sandal jepit memiliki modus operandi yang hampir sama. Yaitu biasanya pelaku meninggalkan sandal jepit yang lain sebagai pengganti punya kita. Dan hamper tidak pernah mereka meninggalkan barang yang lebih baik. Biasanya pasangan sandal yang tersisa adalah pasangan sandal  hasil perkawinan antara sandal yang jenis kelaminnya sama, sebelah kiri dengan kiri atau kanan dengan kanan. Atau pasangan hasil kawin silang antara sandal jepit warna biru dengan warna merah. Atau hasil perkawinan yang tidak sederajat, yang satu ukuran nomor tujuh dan yang satu lagi nomer sepuluh setengah. Atau malah hasil kawin paksa antara sandal jepit dengan bakiak.

Apakah karena alasan itu gue nggak mau ngambil gantinya sebagai ganti sandal jepit gue yang hilang. Nggak!, gue punya prinsip bahwa sekecil apapun atau semurah apapun suatu barang, bila itu bukan milik kita, maka pantang buat mengambilnya. Kalo kita mengambil sandal gantinya toh kita sama aja dengan mereka yang mengambil punya kita. Sama-sama mencuri! Bahkan seorang syeikh pendiri sebuah partai islam internasional dalam kitabnya ‘Nidzamul Uqubat’ mengatakan bahwa hukuman bagi pengguna barang milik orang lain (yang nantinya akan dikembalikan, bukan untuk dicuri) tanpa seizing pemiliknya (ghashab) bisa dikenai sanksi penjara 6 bulan!

Kolega Save us, gue cuma ingin menegaskan, jangan pernah meremehkan hal-hal kecil. Bila dari awal kita meremehkan hal-hal yang kecil maka ke depannya kita bakal meremehkan hal-hal yang besar. Ya, begitu pula jangan pernah meremehkan suatu dosa atau keharaman meski itu hanya seujung kuku, karna sungguh Allah akan mengadili segala perbuatan kita walaupun hanya sebiji atom.

“Lho, Allah kan Mahaadil, tak mungkin Allah menjatuhkan adzab yang besar untuk dosa yang kecil” mungkin ada yang nyeletuk dalam hati kayak gitu (ayo ngaku, siapa yang nyeletuk barusan?). Ya, Allah Mahaadil. Dosa yang paling kecil nanti di akhirat akan dihukum dengan hukuman yang paling ringan di neraka. Apakah itu? “Adzab teringan di neraka pada hari kiamat, adalah laki-laki yang di kedua kakinya ada dua butir bara api yang dapat mendidihkan otak” (HR Tirmidzi). Mau loe?

1 Komentar

  1. sandal jepiter said,

    hehe…
    lucu bgt ne..
    baru tw ternyata samdal kawin jg y…
    ummm. biasanya buta uji teori mendel pake kancing baju..
    ternyata bisa jg y pake sandel jepit..
    yah..
    sy mah..
    sbgai sandal jepiter setuju z..
    mereka nikah..tpi jgn nikah silang..
    kasian ntar anaknya..
    yah.. walaupun anak sandalnya ntar warnanya bakal meriah ato malah gak jlas…
    oy jgn dinikahin yang sesama jenis jg y..
    (pesen buat para maling sendal..
    ops,,,maksudnya yang sering salah ngawini sandal. sengaja ato tidak)
    umm..emang ironi c..
    di mesjid aja berani nyolong..apalgi di t4 lain..
    dilema jg..
    mw k mesjid dgn niat make barang-barang qt yg paling bagus…(walaupun cuma sandal jepit)
    eits..tuh sendal malah ilang dengan jejak yang tak jelas..)
    mw pake sndal yang jwlwk jg..
    agk gmna gitu..
    pusying..
    lama-lama orang jd tambah males deh k mesjid…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: