SURAT CINTA

April 10, 2007 at 6:10 am (SURAT CINTA)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api

Yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..

Seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan

Yang menjadikannya tiada

 

My Dear….

Gue suka banget dengan puisi ini. Asli! Padahal bait puisi, senandung milik Sapardi Djoko Damono ini sebenarnya terlampau pendek untuk sebuah ungkapan cinta, tak sepanjang roman-roman cinta yang biasa dipakai para pujangga dan pembual untuk merayu kekasihnya. Akan tetapi bait di atas gue pikir mewakili sebuah cinta yang betul-betul tulus. Makanya gue bela-belain nulis puisi itu sebagai preambule.

Karena cinta adalah aktivitas personal, aktivitas yang tak menginginkan balasan. Oleh karena itu gak ada istilah cinta bertepuk sebelah tangan. Kalau cinta ya cinta, ya udah. Karena cinta yang mengharapkan balasan, sejatinya bukanlah cinta. Ketika mencinta, itulah budi bahasa kalbu yang segenapnya dicurahkan. Ikhlaskanlah deras curahan itu mengalir. Bahkan, ketika yang dikasih, balas menyakiti, tidak sepantasnya kita menagih cinta itu lagi. Karena cinta kita semestinya setulus cinta dari kayu kepada api, walaupun sang api yang dikasihi menyakitinya dan menghitamkannya. Seikhlas cinta awan kepada hujan. Walaupun dengan hujan itu awan menjadi tiada. Deuu.. romantis yaa… gue orangnya memang romantis kok, hehehe..

 

My Dear..

Bicara cinta yang agung, selayaknya kita iri dengan cintanya alam semesta, cinta sang matahari yang setia jutaan tahun menyinari bumi, setiap hari tanpa sekali pun ingkar janji. Padahal apa balasan bumi? Sebagaimana kasih pepohonan yang merelakan sebagian tubuhnya dilubangi, dikotori oleh burung-burung demi menyediakan tempat berhuni.

Dan cinta…. gue sepakat dengan lagu lama yang disenandungkan ulang oleh Balawan

 

Kalau kau benar-benar sayang padaku

Tak perlu kau ungkapkan semua itu

Cukup tingkah laku

 

Semua bisa bilang cinta

Semua bisa bilang…

Apalah artinya cinta

Tanpa kenyataan

 

Karena cinta adalah bahasa kalbu, yang wujud dalam bahasa tingkah laku. Maka cinta sejati bukanlah mainan gerak bibir, tapi cerminan pengorbanan hakiki. Ya tokh?

Alangkah agungnya karunia ini, andainya tidak ada cinta apalah jadinya semesta. Seorang ibu akan melemparkan jabang bayinya ketika terlahir, sang induk ayam akan memakani daging anak-anaknya. Rembulan tak akan mau begadang saban malam  menemani makhluk-makhluk dunia.

 

Namun, My Dear

Karena cinta adalah sebuah cahaya agung yang disematkan Allah ke segenap makhluknya, sebuah cahaya dari Cahaya.

Maka demi cinta… maka sudah sepatutnyalah cahaya itu tunduk patuh kepada si pemberi cahaya.  

Cinta bukan sembarang senjata yang bisa sekehendak hati dimain-mainkan oleh manusia.

Cinta adalah fitrah. Maka gunakan fitrah itu sesuai dengan fitrahnya….

”Cinta yang paling utama adalah cinta kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada Perjuangan di jalan-Nya..

Cinta yang kedua adalah cinta kepada Ibu, Ayah, Saudara, Sahabat, Istri, anak, harta, perniagaan…

Cinta yang ketiga, sejatinya adalah cinta yang sungguh hina, adalah cinta yang menomorduakan cinta yang pertama, sembari mengutamakan cinta yang seharusnya dinomorduakan.

Apatah lagi cinta kepada kemaksiatan, dan cinta kepada musuh-musuh-Nya, maka cinta yang ini tidak berhak disebut sebagai cinta”.

Begitu kira-kira intisari firman Allah, Sang MahaCinta dari surah atTaubah.

Ah, resah rasanya, gundah gulana, karena selama ini kita telah terperosok dengan menomorduakan-Nya

 

My Dear,

Gue malu pada Allah, bahwa selama ini apa yang kita agungkan sebagai cinta nyatanya hanyalah kubangan maksiat belaka. Kita nodai cinta yang mulia. Allah yang memberi cinta namun kita hancurkan karunia itu dan kita gunakan di kubangan lumpur dosa. Sungguh kita manusia tak tahu diri…

Sungguh nista…

Kita abaikan perintah-Nya, yang sejatinya adalah perintah dalam rangka kecintaan-Nya kepada makhluk-Nya.

Kita durhakai Dia dengan malah mengerjakan larangan-Nya. Padahal larangan-Nya sebenarnya adalah karena sayangnya Dia kepada makhluk-Nya.

Ketika Dia mensyariatkan jalan cinta yang sejati… malah bilik hati kita menertawakan, kita anggap Pacaran atau apalah namanya… sebagai ’sebenarnya cinta’

Ketika Dia larang untuk mengikuti kebiasaan orang-orang kafir dalam bercinta, sekali lagi kita anggap kuno larangan itu sembari bersuka ria dengan Valentine atau apalah namanya…. dengan sombongnya kita katakan hari itu sebagai ”hari cinta”

Betapa angkuhnya kita di hadapan Yang Mencipta dan Yang Memiliki.

 

My Dear,

Allah… ArRahman…. arRahiim..  semesta bertasbih kepada-Nya, dedaunan, rerumputan, gunung-gunung bebukitan, kuman terkecil hingga gajah dan jerapah. Semua tak pernah berhenti menyebut asma-Nya.

Dan manusia…. bahkan seharusnya manusialah yang lebih banyak mengagungkan dan mencurahkan cinta kepada-Nya. Karena manusia diberi akal, manusia dijadikan pemimpin bagi semesta.

Dan kecintaan mana lagi yang lebih besar, dibandingkan dengan mengokohkan ketakwaan, mengagungkan syariat-Nya, meneladani sunnah Rasul-Nya dan mengabdikan diri semata untuk perjuangan di jalan-Nya.

Maka, kalaupun kita saling mencinta jadikanlah cinta kita adalah cinta yang kedua, jauh di bawah kecintaan kepada Allah dan RasulNya dan Jihad di jalanNya. Biarlah loe jadikan gue yang kedua! Yang penting di barisan cinta pertama loe adalah cinta kepada Allah. Cinta mana yang lebih mempesona daripada itu…

Dan bila suatu saat kita kumandangkan cinta, maka jadikan  kumandang cinta itu adalah cinta semata-mata karena Allah, seraya kita buang jauh-jauh cinta semu yang selama ini telah melenakan.

 

My Dear,

Cinta gue cinta sejati… bukan cinta semu… seperti dengan besar mulut dikatakan orang yang berpacaran ”engkaulah cinta sejati, cinta gue hanya untuk loe, sehidup semati”  Ugh, betapa angkuhnya bila demikian. Sehingga dia menganggap sepi cinta-cinta yang lain, dan menganggap sejati kemaksiatannya.

Namun, gue akan mengatakan begini, ”Gue cinta elo, tapi gue lebih cinta Allah. Cinta gue telah banyak kebagi-bagi buat Allah, buat Rasul, buat perjuangan Islam, buat Ortu, buat saudara-saudara muslim… sisanya buat elo paling cuma beberapa persen. Tapi gue akan mencintai loe dengan tulus ikhlas sebagaimana cinta Rasul kepada Khadijah, cinta Ali kepada Fatimah.”

Gue juga gak bakalan mau kayak Romeo yang sudi mati demi Juliet. Enak aja! Mati apaan kayak gitu, gak keren banget. Gue pengen kita nantinya sama-sama mati syahid, entah itu di medan jihad atau di tiang gantungan akibat penyiksaan orang-orang kafir. Wuih, keren gak tuh.

Gue juga gak janji bakal ngasih kemewahan. Maka siap-siaplah tinggal di rumah kontrakan yang…. yaaah mirip-mirip rumahnya Abu Dzar alGhifarilah, yang bila berdiri kepala kesantuk atap, bila bersonjoran kaki menyentuh dinding

Kalo loe gak bersedia ya udah. Gue juga gak maksa kok. Toh Allah menjanjikan banyak bidadari surga yang sejuta kali lebih cantik daripada elo. Elo gak ada seujung jarinya tuh. 

 

My Dear,

Terakhir, biarlah cinta ini disimpan dalam bilik-bilik kalbu kita. Jangan sampai syaitan bisa mengambil kesempatan menyeret kita untuk menodainya. Biarlah kita tabung, kita pelihara dan kita kerangkeng… hingga nanti Allah sedia mempersatukannya dalam ikatan yang sah dan Dia ridhai

Oke?

Amiiin!

Wassalam

Gue

7 Komentar

  1. biru hati said,

    oke…;)

  2. aisyah said,

    setuju!!!

    Mencintai Allah, tidak akan pernah mengenal “Cinta Bertepuk Sebelah Tangan” dan tidak akan pernah disakiti, bahkan Allah akan membalas Cinta kita 100000000000000x lipat lebih besar dibandingkan Cinta yang kita berikan kepadaNya

  3. bunga said,

    quote….(Kalo loe gak bersedia ya udah. Gue juga gak maksa kok. Toh Allah menjanjikan banyak bidadari surga yang sejuta kali lebih cantik daripada elo. Elo gak ada seujung jarinya tuh. )

    waduh,…sadis amat ya?…gayanya kaya yg yakin udah bakal masuk surga aja,…yg bakal dikasih bidadari…hehe,…masih untung ada yg mau,…udah yg dunia ditolak di akhirat ga dapet apa2,…malah siksaan,…gaya amat ya,….

    btw jadi selama ini beribadah karena kepingin banyak bidadari yg 1jtx cantik dr pada bidadari bumi yak?….mmhh,….ketawan deh belang nya,..hehe

    peace!

  4. diyas said,

    bila cinta tak berbalas yaudah. tapi jangn maksain diri gitu dong. cewe didunia ga cuma satu. aku tau kamu bener2 menyayangi di, tapi ga harus kamu mengalah dengan kenyataan . ok. so smile guys.

  5. tina said,

    maaf telat banget komentarnya.
    puisi cinta itu milik Sapardi Djoko Damono atau khalil gibran (lafadz cinta ditulis 1833-1931) ???
    tengkyu

  6. syahdie said,

    Dia yang menjadikan bidadarilah yang lebih Agung. . . .Allah, ,simpanlah cintaku kepadanya. . .tapi, ,sampaikanlah CintaMU kepadaku. . .apapun kata dunia,cintaMU adalah segalnya bagiku. . . .

    nikahkan kami dengan rahmatMU didepan kekesih kami. . . .
    jagalah ia untuk jadi bidadariku ya rabb…
    “asfarien”

  7. kolega media gelap said,

    [QUOTE]Kalo loe gak bersedia ya udah. Gue juga gak maksa kok. Toh Allah menjanjikan banyak bidadari surga yang sejuta kali lebih cantik daripada elo. Elo gak ada seujung jarinya tuh. [/QUOTE]

    wah klo yang ini gue gak setuju mas….jangan kasar2 kaya gitu…..klo boleh gue edit gini aja

    [QUOTE]Kalo loe gak bersedia ya udah. Gue juga gak maksa kok. Toh Allah menjanjikan banyak bidadari surga yang cantikinya subanallah.tapiklo elo mau di akherat nanti klo Allah swt memberikan pilihan buat gue antara elo dan bidadari gue akan milih elo untuk menemani gue di surga…itupun klo gue di ijinkan Allah untuk masuk surga:D[/QUOTE]

    klo atasnya semua bagus…sep gue setuju….gue gak perduli itu puisi siapa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: