SAAT KEJUJURAN DITERTAWAKAN

April 10, 2007 at 6:13 am (SAAT KEJUJURAN DITERTAWAKAN)

Sebenarnya tulisan ini udah lama ingin gue buat. Cuma karena banyaknya kesibukan sehingga nggak kesampaian terus buat nulisnya. Lagipula saat itu gue dalam keadaan emosi. Gue pikir kurang baik menuangkan suatu pemikiran dalam keadaan emosi.

Kolega Save us, saat gue menulis ini nggak ada kepikiran buat menyombongkan diri dengan berkata gue nih orang jujur, dan elo nggak jujur. Nggak ada! Sejujur-jujurnya gue bilang gue masih jauh dari predikat orang jujur. Kadangkala sebagai manusia gue juga sering khilaf. Tapi yang jelas, gue percaya kalo jujur itu adalah suatu kebenaran. Dan kebenaran musti ditegakkan dan diperjuangkan. Gimanapun, nggak peduli elo dibenci dan dimusuhi, atau bahkan dibunuh. Karena gue percaya mati dalam kebenaran jauh lebih baik daripada hidup aman dalam kemunafikan. Ah, jadi kebanyakan ngelanturnya, jadi malah lupa apa yang pengen ditulis tadi….

Kolega Save us, pernahkah kalian nyontek saat ujian? Gue pernah, dulu, saat gue masih belum begitu paham akan islam. Tapi kini insya Allah nggak lagi. Hey, kenapa pandangan kalian jadi berubah kayak gitu! Kalian nggak percaya, atau kalian nganggap tidak menyontek adalah suatu hal yang aneh? Maka bila kalian berpikir demikian, maka sungguh kalianlah yang aneh.

Trus pernahkah kalian menyontekkan hasil jawaban kalian ke orang lain? Kembali sorotan mata tajam terarah ke gue. Mata sinis itu, dan cemoohan itu. Yep, karena itulah gue jadi bela-belain menuliskan tulisan ini.

Kolega Save us, gue selalu aja menghindar kalo saat ujian ada temen yang nanya atau minta dicontekin. Gue selalu pura-pura cuek, atau cari-cari alasan yang pada intinya menolak memberikan contekan. Agak risih memang dan rasanya emang nggak enak menolak permohonan teman. Hingga akhirnya suatu ketika pada saat ujian, seorang teman mencak-mencak, karena gue nggak mau mencontekin jawaban ujian gue. Saat itu, asli, perasaan gue nggak menentu. Gue tumpahkan kekesalan gue ke teman-teman yang lain. Gue bilang gue tetap pada pendirian gue, gimanapun gue ingin berpegang teguh pada prinsip, bahkan gue bilang gue berani mati demi prinsip tersebut. Nggak nyangka, respons dari teman gue malah ngetawain pendapat gue, padahal gue saat itu betul-betul serius. Asli, hati gue saat itu terluka dan dangan majas hiperbola gue katakan hati gue remuk berkeping-keping. Bukan! Bukan karena guenya yang ditertawakan. Gue sakit hati karena mereka mentertawakan kejujuran! Mentertawakan kebenaran!!

Kolega Save us, Allah memerintahkan kita berbuat jujur. Banyak ayat AlQur’an dan hadits yang menunjukkan demikian. bahkan dalam suatu hadits, Rasululullah mengatakan bahwa salah satu ciri orang munafik adalah berdusta. Nggak hanya itu, Allah juga mengharamkan perbuatan curang. Karena itu musti kita pahami bahwa ketika kita berbuat jujur, semata-mata karena itu adalah perintah Allah, bukan karena adanya standar manfaat dari kejujuran tersebut. Sepakat?!

Selain itu Allah juga memerintahkan kita tolong menolong dalam berbuat kebaikan  dan melarang kita tolong-menolong dalam berbuat keburukan. Firman Allah:

“Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam keburukan dan dosa” (QS AlMaidah:2) 

Dari ayat di atas jelas, bila itu perbuatan keburukan baik yang menolong maupun yang ditolong memiliki status yang sama, sama-sama berdosa.

Makanya gue berprinsip mencontekkan orang lain sama dosanya dengan mencontek itu sendiri. Bahkan bisa jadi memberi contekan dosanya lebih besar. Karena dengan memberi contekan, kita telah memberi kesempatan orang lain untuk berbuat dosa.

“Ah, berlebihan loe. Contek-mencontek aja dibikin masalah. Gue rasa perbuatan itu wajar-wajar aja. Loe sendiri juga pasti pernah mencontek!!” mungkin ada diantara kalian yang berpikiran kayak gitu.

Kolega, gue rasa penuturan gue nggak berlebihan. Mencontek gue rasa adalah suatu masalah yang nggak bisa dianggap sepele. Ketika guru atau dosen telah memberikan ujian dan mengakadkan tidak boleh mencontek, buka buku dan lainnya, maka apabila kita mencontek maka kita jelas telah berbuat tidak jujur dan telah curang. Beda halnya bila akad awalnya memang diperbolehkan mencontek. Sehingga dalam hal ini haramnya mencontek sama aja status haramnya dengan daging babi, haramnya berzina, atau haramnya membunuh. Karena dalam islam nggak dikenal istilah sedikit haram, agak haram, atau sangat haram. Pokoknya kalau Allah telah melarang sesuatu, nggak ada alasan buat kita memilih-milihnya atau membuat skala prioritasnya. Jadi sekali lagi sama sekali nggak berlebihan!

Trus yang bilang contek mencontek adalah wajar-wajar aja…, maka inilah jawaban gue: Apakah hanya karena banyak orang yang melakukan, dan itu sudah jadi tradisi, maka kita dengan seenaknya menganggap itu sebagai hal yang wajar. Trus seandainya suatu ketika zina menjadi tradisi, maka dengan entengnya kita juga bakal menyebutnya sebagai sesuatu yang wajar. Apakah karena banyak orang yang melakukan maka itu menjadi legitimasi terhadap kebenaran perbuatan tersebut. Nggak sobat, perbuatan yang haram nggak boleh dianggap wajar. Adalah kurang ajar bila kita memberikan predikat wajar pada sesuatu larangan Allah.

Kemudian tentang gue sendiri pasti pernah mencontek…. Bukankah diawal-awal sudah saya tegaskan: iya, gue pernah mencontek. Tapi gue berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak lagi mencontek atau mencontekkan. Lagipula, apa jika gue juga seorang pencontek maka status hukum mencontek akan berubah, atau apakah itu akan jadi legitimasi bagi loe buat mencontek juga. Betapa naifnya elo bila begitu….

“Sebentar… sebentar… perbuatan tidak jujur kan tidak hanya mencontek…. Nah, gue juga pernah ngeliat elo misalnya berdusta, atau berbuat curang….”

Yup, seratus buat loe! nggak cuma masalah contek-mencontek. Tapi gue pengen aja nulis panjang lebar tentang masalah itu. Mengenai gue, di awal-awal gue kan udah bilang (aduuuh! Baca lagi dah mulai awal) kalo gue masih jauh dari predikat sebagai orang jujur. Kadang gue juga khilaf, misalnya berbohong dan lain sebagainya. Cuma gue yakin akan kebenaran, kalo gue tidak jujur Allah benci ama gue, dan gue bakal disiksa ntar di akhirat dan kalo gue jujur Allah bakal ridla ama gue. Jadi sedapat mungkin gue belajar jadi orang jujur. Dan gue rasa nggak salah kalo dalam keadaan yang masih jauh dari kesempurnaan ini, gue mengajak orang lain untuk berbuat jujur. Terus terang gue kurang sependapat dengan pernyataan yang bilang jangan mendakwahi orang kalo elo sendiri belum sempurna. Lihat diri loe dulu dong! Nah, kalo semua orang berpikir kayak gitu maka risalah islam ini hanya sampai di segelintir orang seperti sahabat-sahabat Rasul aja. Soalnya semua orang merasa dirinya tidak sempurna dan tidak pantas untuk berdakwah.

Kalo makai perasaan emang sulit. Terkadang kita berada dalam kondisi kepepet. Kalo nggak mencontek bisa-bisa nilai kita hancur dan nggak lulus. Trus misalnya kalo tidak memberi contekan kita bakal dimusuhi, nggak enak sama teman, dibilang sombong atau mau pinter sendiri, atau macem-macem. Ya..itu tadi, seperti kasus yang gue ceritain di awal, teman gue yang nggak gue contekin mencak-mencak (Padahal sebenarnya kalo dia tahu, gue sendiri saat itu dalam keadaan ‘blank’ hanya sedikit yang bisa gue jawab, sisanya kosong atau kalo terisipun jawabannya asal). Tapi percayalah sobat, semua hal diatas: nilai hancur, nggak lulus, dibilang sombong, dimusuhi… nggak ada artinya bila dibandingkan dengan murka Allah bila kita berbuat sesuatu yang dilarang-Nya. Terlalu tidak berharga apabila kita menjual keyakinan kita hanya untuk seonggok kenikmatan dunia yang sesaat.

Kolega Save us. Gue nggak terlalu berharap loe –dengan selembar kertas lecek potokopian buram ini- bakal berubah. Gue juga nggak peduli apakah sehabis loe baca tulisan ini loe nyumpah-nyumpah, ngetawain gue, merobek kertas ini, atau membuangnya ke tempat sampah, dijadikan coret-coretan, pesawat-pesawatan, atau malah dijadikan kertas kerpean buat ujian. Gue nggak peduli! Gue ikhlas kok. Yang jelas sekarang gue telah punya jawaban bila kelak di akhirat Allah menyidang gue “Ya Allah saksikanlah, hamba-Mu yang hina ini telah menyampaikan”. 

6 Komentar

  1. males nunggu said,

    ya allah saksikanlah hambamu ini yang telah membaca…
    hoho..
    saat kejujuran menjadi sangat memalukan
    saat kebohongan menjadi kebanggaan..
    saat kebohongan menjadi perisai..
    saat kejujuran mulai basi n harus segera masuk oven utnuk diselamatkan dan di daur ulang!!
    apa yang telah terjadi dengan manusia??????
    au’ ah burem..
    no comment..
    males mikir..
    gak tw…
    bukan peramal, bukan pengamat apalagi tukang intip..
    kalo semua orang berpikir seperti itu..
    lalu???
    lalu??
    lalu?

  2. deeylha said,

    bingung..
    ketika diri mencari kebenaran yang sesungguhnya..
    gelisah..
    ketika diri mencari pendukung hati..
    terdiam..
    ketika diri tak menemukan apa-apa dari dunia sekitar..

    tak ada yang bisa diajak sharing untk hal itu..
    masih adakah yang se-ide?
    masih adakah yang mengerti sikap ini?
    masih adakah yang bisa menerima?
    masih adakah?
    “jari..,apa engkau bisa menghitung mereka?”
    bisakah..
    y..harapku

    dunia, tersenyumkah engkau dengan kenyataan itu?
    y..harapku

    arigatou gozaimasu!! Jadi lebih tenang..

  3. iksan said,

    ga semua orang berpikiran sama dengan loe dan smw org punya priinsip masing2..
    so, jgn pernah mengusik prinsip orang lain..dan jgn mw diganggu prinsip kita.

  4. muslim cinta kejujuran said,

    Gue setuju ama loe, emang seharusnya semua penyontek itu dimusnahkan di muka bumi in. karena mereka hanya berbuat kerusakan. mereka telah melakukan penipuan, dan pengkhianatan amanah pendidikan mereka dapat. Apakah mereka gak berpikir kalau banyak saudara kita yang gak mendapat pendidikan ????
    Kalo mereka tetap memiliki watak penyontek ini, mereka akan menjadi cikal bakal koruptor. krna koruptor kan sifatnya penipu dan pengkhianat, sama sifatnya dengan penyontek.
    apa jadinya negara ini kalau banyak koruptor ???? apa jadinya negara ini kalau banyak penyontek ???? kapan majunya ???/ coba tanya sama koruptor, mereka pasti pada waktu skul or kulnya nyontek waktu ujian.

    Allahu Akbar……………….

  5. M. ARIF BUDIMAN said,

    Menurut buku yang aku baca, kalau contek menyontek itu dosanya besar. karena orang yang menyontek sama dengan perbuatan penipu, pencuri, pengkhianat (karena mengkhianati amanah pendidikan yang dia dapat). kemudian pemberi contekan menolong penyontek melakukan kemaksiatan itu semua. Dalam islam tidak dibenarkan tolong menolong dalam kemaksiatan. Kita menganggap hal ini dah biasa, sepele, padahal dosanya sangat besar. Astaghfirullah………….

    Selain itu penyontek adalah cikal bakal koruptor……karena terbiasa memiliki sifat penipu, tidak jujur, pencuri, pengkhianat, dan menghalalkan segala sesuatu untuk mendapatkan apa yang dinginkannya.

    Sudah saatnya kejujuran ditegakkan. Allahu akbar

  6. Kamil said,

    Beautifull …. pertahankan dan gigit erat2 dengan gigi geraham keyakinanmu tentang hal ini, insyaAllah mata air yang jernih akan menutupi padang-padang pasir yang gersang jika ia mengalir terus tiada henti … hati manusia memiliki kesamaan, hati yang jernih dimana-mana sama, dan hati yang keruh dimana-mana juga sama … pilihan hatimu sudah benar, tapi untuk itu akan banyak rintangan dan godaan yang menghalang, sampai waktu berakhir … semoga kita semua dapat bertahan. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: