RELOAD

April 10, 2007 at 6:12 am (RELOAD)

Prolog:

Lama gue ngelamun seraya dua bola mata melototin monitor. Lembar kerja Ms Word yang masih kosong….. nulis nggak.. nulis nggak…. Terbitin lagi nggak ya…. Dari sudut seberang sana seolah terdengar suara ejekan. ‘Ngapain loe nerbitin tulisan itu lagi. Emangnya ada gunanya?! Emangnya bagus apa tulisan-tulisan loe itu? Emangnya ada yang demen? Emangnya ada yang rindu ama tulisan jelek loe itu…..” Aarghh!! Emangnya gue pikirin!! (gue tepis semua pikiran yang entah berasal dari lobus yang mana dari hemisferum gue). Nggak ada yang bisa halangin gue nerbitin ni tulisan. Gue lagi pengen emangnya kenapa? Keberatan?!!

 

Dan Kolega Save us, akhirnya gue putusin selebaran jelek ini harus terbit lagi. Wong Playboy yang isinya kagak karuan aja berani terbit di bumi Indonesia. Masa gue kalah gitu aja?

Yep, nggak terasa udah lama nggak bersua. Selepas persuaan kita yang terakhir terlalu banyak perubahan yang terjadi. Harga BBM yang naik secara kurang ajar yang berimplikasi pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok (udah susah nyari nasi bungkus yang tiga rebuan, wadai yang tiga ratusan), naiknya harga kertas yang mau nggak mau juga bikin harga potokopi melambung. Naiknya ongkos transport, Meningkatnya jumlah pengangguran dan orang-orang miskin. Bertambahnya tindak kezaliman baik yang berskala lokal seperti hilangnya sandal jepit di masjid, hingga yang berskala internasional seperti makin merajalelanya tindakan dari bandit teroris Amerika yang konon tahun ini bikin rencana tuk nyerang Iran. Gile… nggak ada puas-puasnya… habis Afghanistan, Irak, terus Iran…. Indonesia mungkin tahun depan kali yee… Asyik dong bakal perang-perangan. Apa ya kira-kira nanti alasan Amerika menyerang Indonesia?…. “Pemerintah Indonesia membiarkan terbitnya media Save us yang ditengarai merupakan media propaganda terorisme yang mengancam keamanan global” Wuihhh… keren jack!

Banyak perubahan. Namun ada satu yang nggak berubah. Save us! Ya, Sobat. Save us masih seperti yang dulu. Masih kertas potokopian buram yang lecek-lecek. Mungkin sebagian tulisannya nggak kebaca karna diperbanyak di tempat potokopi yang paling murah. Dan satu hal, harga Save us terbukti saat ini yang paling stabil. Dari dulu sampai sekarang tetap gratis, nggak terpengaruh sama kenaikan harga kertas atau harga potokopian

Isinya juga masih kayak dulu. Ngawur abiezz. Mungkin kalo kebaca guru atau dosen Bahasa Indonesia, selebaran ini akan dijadikan bahan ujian “anak-anak, di hadapan kalian ada tulisan yang sangat tidak karuan baik dari segi tata bahasa, tanda baca.. sangat menyimpang dari EYD. Nah, tugas kalian. Temukan minimal 200 jenis kesalahan!”  hehehe…

Tapi nggak apa-apa. Gue ikhlas kok. Seikhlas gue tatkala melihat selebaran yang gue ketik dengan susah payah ini ternyata ada di bak sampah temenan sama kulit pisang dan gelas Aqua. Seikhlas gue bahkan saat dicaci “tulisan loe nggak mutu! Apa ini? Tulisan jelek bikinan orang jelek!” pernyataan yang pertama, kedua, ketiga benar! (walau sebenarnya gue protes dikatain orang jelek, soalnya nggak ada ciptaan Allah yang jelek. Apalagi manusia. Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk) tapi satu hal, ketika tu orang bilang tulisan gue nggak mutu bin jelek, itu sudah merupakan indikasi dia sebelumnya udah membaca tulisan gue. Kalo nggak gimana dia bisa menilai? Berarti tulisan gue dibaca dong! Wah, itu aja udah jadi kebanggaan tersendiri buat gue.

Atau sebagian yang tatkala menerima selebaran jelek ini langsung menyimpannya tanpa ada rasa kepengen untuk membacanya. Waaah. Lebih-lebih lagi bikin gue bangga. Berarti selebaran ini adalah sesuatu yang sangat berarti bagi dia, hingga buru-buru disimpan. Surat cinta kan biasanya gitu juga.

“Tapi liat, yang lain malah menjadikan selebaran loe kertas gambar, catatan kuliah, atau malah dijadiin pesawat-pesawatan..” Hmmm …. Alhamdulillah! Berarti selebaran ini telah menjadi sarana yang bisa membantu mereka atau malah membahagiakan mereka, berarti gue dapat pahala dong udah membahagiakan orang.

Dan begitulah, intinya Save us kembali terbit. Nggak peduli masyarakat menginginkannya atau tidak. Yang jelas gue kepengen. Itu aja. Dan nggak peduli nomor edisinya jadi kacau balau. Soalnya terus terang gue rada-rada lupa, edisi terakhir kemarin itu dikasih nomor berapa (habis, gue bukan orang yang hobi ngarsipin segala sesuatu). Makanya daripada pusing-pusing, gue putusin aja edisi kali ini adalah edisi ke 20? (dikasih tanda tanya soalnya gue kagak yakin banget kalo gue pernah nerbitin edisi ke 18 dan 19). Tapi apalah artinya sebuah urutan nomor (hmm.. paling nggak gue nggak selancang Shakespeare yang bilang ‘apalah artinya sebuah nama’ padahal jelas-jelas Rasulullah bilang nama itu sangat berarti. Nama itu mengandung do’a!)

Kolega Save us, mungkin ada di antara kalian yang heran mengapa gue bela-belain nerbitin selebaran gelap ini? apa untungnya buat gue? Buat apa gue cape-cape ngetik trus ngabisin tinta ngeprint, (itupun komputer sama printernya barang pinjeman) besoknya bersusah payah ngantri di potokopian, trus merogoh kocek dalem-dalem buat memperbanyak selebaran yang bagi sebagian orang gak lebih dari sampah serapah yang gak ada gunanya. Buat apa coba? (Iya ya…. Buat apa gue ngelakuin semua itu?)

Iseng? Kurang kerjaan? Nggak juga. Gue bukan orang yang keisengan sampai rela ngabisin duit jatah jajan gue, rela membagi waktu dengan berbagai tugas yang menumpuk. Popularitas? Ah lucu banget kalo gue nyari popularitas dari kertas potokopian jelek ini. Mending ikut Indonesian Idol atau KDI atau melamar jadi playmatenya playboy versi Indonesia (huss!)…

Trus buat apa?

Kolega Save us, pernah denger lagu terbarunya Jikustik feturing Lea yang bertitelkan Aku datang untukmu? Nah di reffnya ada syair begini: “Menyelamatkanmu….. /??????(seterusnya pake bahasa Inggris, dan sampai sekarang gue belum ngeh dengan kelanjutan syair tersebut) Apa hubungannya coba dengan pertanyaan di awal tadi?

Ada. Arti dari Save us, sejauh yang pernah gue buka di kamus adalah mirip-mirip syair di atas. Tapi lebih canggih. Save us bukan hanya menyelamatkanmu, tapi save us adalah menyelamatkan kita. Ya, sobat sebagaimana maknanya, tujuan dari selebaran gelap kucel bin jelek ini adalah untuk menyelamatkan kita, bukan hanya kamu tapi mereka, dan gue juga.  

“Wah loe berlebihaaan!” kembali sebuah ejekan mampir di telinga gue.

Begini jack, gue percaya dengan sabda rasul junjungan “Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” Kezaliman merajalela. Pelanggaran terhadap syari’at Allah dimana-mana. Penjajahan terhadap kaum muslimin… Apa gue diem aja dengan kemungkaran itu seraya cuma mengingkarinya dalam hati. Nggak sobat. Gue nggak mau dibilang Rasul ntar sebagai manusia yang paling lemah imannya. Paling nggak gue suarakan penentangan gue. Paling nggak gue coba luruskan yang mana yang menurut pemahaman gue itu salah ke arah yang menurut apa yang gue pahami benar. Bukan karena gue orang paling lurus atau manusia sok suci. Nggak! Gue juga –sama kayak kalian- adalah kolektor dosa. Bahkan sangat mungkin koleksi gue lebih lengkap dari punya kalian.

Tapi karena gue sadar sepenuhnya kalo dakwah itu wajib bagi tiap individu. Nggak peduli loe adalah sang pendosa. Hmm paling nggak dengan dakwah kita bisa seraya membenahi diri. Malu kan nasehatin orang, tapi kita sendiri nyatanya kagak bener. Makanya Dakwah itu sebenarnya bukan hanya bermanfaat buat orang yang didakwahi tapi manfaatnya jauh lebih besar bagi individu yang bersangkutan. Dakwah bukan hanya menyelamatkanmu tapi juga menyelamatkan gue. Dakwah itu Save us!

Dan sobat…. Mungkin terlalu naif kalo gue bilang selebaran gelap Save us ini sebagai sarana dakwah yang tepat. Tapi gue pikir nggak ada salahnya gue mencoba menyampaikan dakwah sesuai apa yang gue bisa. Moga aja si kucel gelap ini bisa menjadi pelita kelak di hari akhir, jadi pemberat timbangan di hari dimana tiada naungan selain naungan-Nya. Amin.

 

Epilog

Save us bakal musnah, dan gue sebagaimana elo juga bakal mati. Tapi selama bumi masih berputar…. Dakwah ini kagak bakal mati…… Believe it!!

 

             

    

 

 

 

 

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: