DAN TERBITLAH TERANG……

April 3, 2007 at 3:25 am (DAN TERBITLAH TERANG)

DAN TERBITLAH TERANG……

Tahu Kartini kan? Yang gue maksud disini bukan Kartini nama tetangga loe atau nama ayam peliharaan loe. Yang gue maksud adalah Kartini yang putri Indonesia yang harum namanya yang sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia (udah ah ntar jadi keterusan nyanyi)

Kolega Save us. So pasti kita udah kenal banget dengan nama Kartini. Gimana nggak? Semenjak eSDe kita udah diajarkan oleh ibu guru kita kalo kartini yang ultahnya tiap tanggal 21 April itu adalah pahlawan wantia kebanggaan Indonesia. Sang pejuang emansipasi wanita yang meninggal di usia muda. Tapi kolega Save us, tahukah kalian bahwa ada sisi-sisi kehidupan Kartini yang sangat jarang diungkap oleh orang. Sisi kehidupan di masa menjelang akhir hayatnya dimana ternyata Si Kartini ini menyadari kekeliruan perjuangannya. Nah lho…

Sekelumit tentang RA Kartini

Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya RMAA Sosroningrat dan ibunya MA Ngasirah anak seorang ulama bernama Kyai Haji Madirono. Sejak kecil Kartini sudah berinteraksi dengan Islam. Tapi interaksi itu bukanlah hal yang menyenangkan, karena dia mengenal Islam sebagai perpaduan budaya jawa yang dilegitimasi Islam. Dia saat itu diajarkan membaca AlQur’an , huruf Arab, tanpa diperbolehkan mengetahui artinya, sementara bila malas ia dimarahi. Mungkin itulah sebabnya dia dimasa mudanya kurang tertarik dengan Islam.

Cita-cita Kartini bergerak dalam tiga tahapan. Di usia belia, Kartini memulainya dengan perjuangan emansipasi perempuan di tengah kultur yang didominasi laki-laki, tanpa memperhatikan aspek yang mempengaruhinya. Kedua ketika beranjak dewasa ialah kesadaran tentang kondisi bangsa yang dijajah Belanda. Ketiga, menjelang pernikahan dan dihari-hari terakhir hidupnya, Kartini menempatkan perjuangan sebagai usaha kemanusiaan dalam rangka pengabdian kepada Allah.

Kehanifan, kecintaan pada kebenaran dan keadilanlah yang akhirnya membawa Kartini pada pengertian yang benar tentang Islam. Allah mempertemukannya dengan Kyai Haji Sholeh Darat di Demak, dirumah pamannya pada saat pengajian keluarga. Mari kita simak dialog antara keduanya:

Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu namun dia menyembunyikan ilmunya?”. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”. “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk AlQur’an yang isnya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya mengapa selama ini ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran dalam bahasa Jawa. Bukankah AlQur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Kolega Save us, boleh jadi tidak terwujudnya cita-cita Kartini ke Eropa tidaklah disesalinya. Sebab, setelah mengenal Islam pandangannya terhadap Eropa mulai berubah. Dia mampu melihat bahwa ternyata sangat banyak hal yang tidak baik, dalam kehidupan masyarakat Eropa, termasuk Belanda. Hal itu ditunjukkan oleh suratnya yang dikirim kepada Ny.Abandanon (27 Oktober 1902): “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna. Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang baik dan indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban.”

Surat-surat Kartini lainnya di akhir hayatnya juga menunjukkan bahwa Kartini di akhir hayat telah berubah, lebih mendekatkan diri kepada Allah. Berikut adalah beberapa surat-suratnya tersebut:

Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902)

Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh).” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)

Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan.” (surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903)

Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia punm ia sebenar-benarnya bebas” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900)

Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan” (surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902)

Kolega Save us, dari mempelajari Islam lewat terjemah al-Qur’an pemberian dari Kyai Haji Sholeh Darat, Kartini menemukan Surat al-Baqoroh ayat 257. Nah, dari situ Kartini terkesan banget dengan kata “Minazh Zhulumati ilan Nuur” yang artinya “Dari Gelap kepada Cahaya”. Dalam beberapa suratnya yang ditulis dalam bahasa Belanda, Kartini sering nyebutin kata itu, yang kalo di Bahasa Belandakan “Door Duisternist tot Licht”. Selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata itu kehilangan makna sampe akhirnya diterjemahkan “Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh seorang pengarang Kristen, Armyn Pane, yang mungkin lebih puitis tapi malah nggak persis dari maksud sebenarnya (sumber : Asma Karimah, Tragedi Kartini ; Sebuah Pertarungan Ideologi, 2000).

 

Emansipasi; Antara Ada dan Tiada


Kolega Save us, lucu aja rasanya kalo mendengar slogan-slogan emansipasi yang diteriak-teriakkan oleh barat. Padahal apa sih hasil dari emansipasi yang mereka gembor-gemborkan? Perasaan malah makin rusak. Dengan ide kebebasan wanita yang mereka gembor-gemborkan yang terjadi malah derajat wanita jadi direndahkan dari posisinya yang luhur. Gue nggak asal omong Pren, ini kata seorang barat sendiri.

Masyarakat saat ini selalu menuntut mode dan hidup dengan mode tersebut. Aku tak sudi menuruti mode. Aku ingin jadi wanita, bukan sebagi benda… sungguh aktivitas-aktivitas yang menjengkelkanku saat ini adalah apa yang menamakan diri sebagai “gerakan kebebasan wanita” padahal gerakan semacam itu tak akan berhasil mengubah suatu kenyataan. Laki-laki selamanya tetap laki-laki dan wanita selamanya tetap wanita“ (Seperti yang dituturkan Anna Rode, aktris terkenal dari Rio de Jeneiro, Floranda di hadapan Konperensi Pers Roma.)

Yang lebih lucu lagi, yang menggembor-gemborkan ide emansipasi adalah bangsa-bangsa yang dulunya terkenal amat merendahkan derajat wanita. Sssttt…. Asal tau aja di abad pertengahan dulu bangsa Romawi aktif mengadakan seminar-seminar untuk membahas tabiat dan karakter wanita. Apakah ia tergolong suatu benda ataukah manusia? Apakah wanita itu hanya sebagai materi kesenangan ataukah ia tergolong makhluk hidup yang memiliki watak dan sifat manusiawi? Seminar-seminar gereja pada abad pertengahan juga membahas tentang nyawa wanita, apakah nyawa wanita sama seperti pria ataukah ia hanya memiliki nyawa seperti nyawa binatang-binatang, anjing dan musang? Dan pada akhirnya seminar itu berkesimpulan bahwa wanita itu tidak memiliki nyawa sama sekali, dikarenakan ia tidak akan dibangkitkan pada kehidupan yang kedua kalinya. Nah, terbukti kan! Sekarang aja mereka teriak-teriak tentang emansipasi.

Lalu gimana dengan Islam? Dengan tegas gue katakan Islam tidak mengenal yang namanya emansipasi! Akan tetapi Islam telah memberikan hak-hak kepada wanita seperti yang diberikan kepada pria begitu pula dalam membebankan kewajiban, kecuali dalam beberapa hal yang khas (Misal:wanita Haidh tidak shalat, Masalah waris, persaksian) Islam mewajibkan wanita menuntut ilmu. Islam juga mewajibkan wanita untuk berda’wah. Islam mengijinkan wanita menangani pertanian, perdagangan dan lainlain. Islam juga memperbolehkan diangkatnya seorang wanita sebagai pejabat pemerintahan, menangani pengadilan, berpolitik sebagaimana juga syaiat tersebut terdapat pula pada pria. Jadi tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kedudukannya dalam Islam, tetapi yang menentukan tinggi rendahnya kedudukan mereka adalah ketaqwaannya di hadapan Allah (QS AlHujurat:13)

Islam datang dengan tugas-tugas syariat yang dibebankan pada pria dan wanita. Kedatangannya tidak memandang persamaan hak (emansipasi) laki-laki wanita. Oleh karena itu masalah emansipasi atau bukan emansipasi bukanlah merupakan topik pembahasan dalam Islam. Sebab istilah ini tidak ada dalam hukum Islam. Karena hal itu sudah tegas bahwa dalam Islam keberadaan wanita sederajat dengan pria. Istilah emansipasi tersebut hanya terdapat di Barat dan tidak akan dilontarkan oleh seorangpun dari kaum Muslimin kecuali yang mengekor pada barat. Barat yang pernah merusak hak-hak kaum wanita, hingga istilah tersebut dipergunakan untuk menuntut hak-hak kaum wanita. Lalu didiskusikanlah masalah emansipasi sebagai sarana meraih hak-hak tersebut.

Kolega Save us, nggak usahlah ngekor teriak-teriak emansipasi. Nggak jelas juntrungannya dan nggak ada untungnya. Kenapa nggak meneriakkan yang lebih jelas aja seperti kewajiban pake jilbab, haramnya pacaran, atau wajib tegaknya syariat Islam. Buat para pejuang ide feminis, senior kalian Kartini aja ternyata tobat dari ide feminisnya, trus apalagi yang ingin kalian perjuangkan…….

Habis gelap terbitlah terang dan terang yang sejati hanya akan kalian dapatkan dalam Islam. Hip hip hurayyy!

 

 

1 Komentar

  1. dewi said,

    menarik banget artikelnya
    sisi kehidupan Kartini yang belum pernah kita dengar sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: