MINORITY

Agustus 29, 2007 at 4:51 am (MINORITY)

I want to be the minority

I dont need your authority

down with the moral majority

’cause I want to be the minority

…..

Bagi loe yang penikmat musik-musik cadas luar negri pasti udah kenal betul dengan lirik lagu di atas? Yoi, ini adalah chorus dari tembang Minority miliknya Greenday. “Greenday? Greenday yang mana yach?” Gubrak!, norak banget sih! Makanya jangan cuma dengerin …… kelakuan si kucing garong.. terederedet… lagu manca sekali-kali dong!

Nah, bicara tentang lagu-lagu Greenday memang rata-rata asyik punya. Simak aja hitnya seperti American idiot, She’s a rebel, Wake me up when September end, dan lainnya yang rata-rata keluar dari pakem kebanyakan lagu masyarakat Amerika. Greenday membawa tema pemberontakan! Bosan juga kan dengar lagu-lagu cinta melulu yang bassiii.. sekali-kali lagu yang menghentak kayak punyanya Greenday asyik juga disimak.

Dari sekian banyak hit yang diusungnya, lagu Minority ini betul-betul menempati tempat yang layak di sisi gue. Ritme lagunya keren, bo! Dan terlebih adalah liriknya yang ‘gue banget!’

I want to be the minority…. Gue mendadak teringat dengan bunyi sebuah hadits dari kekasih tercinta saya, Rasulullah SAW yang kira-kira bunyinya sebagai berikut

Islam itu pada awalnya asing, kemudian akan kembali asing seperti semula. Tapi beruntunglah orang-orang yang asing”

(maafkan gue, karena nggak hapal persis bunyinya, untuk nyari-nyari buku referensi udah males. Dulu sih punya bukunya yang mengupas tuntas hadits di atas. Tapi ada yang minjam dan dengan pedenya menjadikan buku itu sebagai koleksi pribadinya. Nah, makanya.. mumpung lagi nulis artikel ini, gue menghimbau barangsiapa yang kebetulan menemukan buku tersebut harap segera menyerahkannya pada gue. Yang menyerahkan, bila laki akan diangkat saudara, bila perempuan dijadikan pembantu.)

Islam itu pada awalnya asing…. Yaa kita baca aja siroh nabi. Islam kala itu dianggap sebagai ajaran yang aneh. Para pemeluknya dianggap manusia aneh pula. Bukan hanya dianggap aneh, bahkan mereka disiksa karena ’keanehan’ mereka itu. Mereka diasingkan, dan dikucilkan… Betul kata hadits di atas, Islam itu pada awalnya memang asing….

Lalu tibalah saat kejahiliyahan bertekuk lutut di hadapan yang haqq…. dan benderanglah semesta dengan cahaya, merembes dari sela-sela padang pasir Arabia, merambati hutan-hutan Afrika, merayap ke kota-kota Eropa, menyisir semenanjung Hindia, merapat ke dataran China, melayari kepulauan-kepulauan Nusantara…. saat itu… Hip hip Hurayyy! Ajaran Islam meraja dan jadilah hamparan dunia sejahtera.

Tibalah kemudian mendung jahiliah kembali menggelayut. Kedigdayaan islam kian meredup. Jahiliyah kembali menelusupi cakrawala dunia. Pudarlah kebenaran! …kemudian akan kembali asing seperti semula…

Saat ini, yaa seperti yang kita lihat bersamalaah. Islam kembali asing. Orang merasa risih bicara islam. ”Sok alim loe” begitu celetukan yang akan terdengar bila ada sobat kita yang pengen konsisten dengan keislamannya. Pakai Jilbab yang longgar sesuai syariat…. ”Awas-awas…. ada ninja!” Atau nggak mau pacaran ”Loe iu cuma dua kemungkinan, Pren. Antara gak laku atau homo!” Asaghfirullahal’azhim ”Hah… mantra apa lagi tuh!” Aaarggghh!

Namun beruntunglah…. di akhir hadits Rasulullah tersayang muji begini ….. Tapi beruntunglah orang-orang yang asing… Hahaha… satu-kosong! Biar terasing yang penting kan beruntung!

Benarlah ucapan Rasulullah. Dan tepat juga kata Greenday…. I want to be the minority… Gue ingin jadi minoritas…. Biarin gue jadi yang terasing…

Hei, jangan-jangan Greenday ini terinspirasi bikin lirik lagu di atas gara-gara denger hadits Rasulullah itu? Alaaahh… ngaku aja, mas Green. Gitu aja malu-malu….

Minoritas yang terasingkan…. Memangnya kenapa? Apa salahnya? Buat apa jadi kalangan mayoritas kalau itu mah bakalan menyeret kita ke neraka? Ups, gue nggak asal ngomong, setidaknya dalam AlQur’an Allah SWT pernah mengancam kayak gini ”.. dan janganlah kalian mengikuti orang kebanyakan… karena kebanyakan orang berada dalam neraka..” (maafkan gue, sekali lagi saya lupa itu di surah berapa ayat berapa. Tapi percaya deh, itu memang ada betul-betul dalam Qur’an)

98 persen remaja menurut survey katanya pernah pacaran. Yang dua persennya terbagi lagi, yaitu yang emang kagak laku, yang homo, dan sisanya karena memang paham bahwa dalam Islam itu pacaran diharamkan.

Nah, mayoritas pacaran. Lalu apakah karena mayoritas lantas gue turut pacaran juga.

Sori ya… I want to be the minority..

Bahkan, seandainya suatu ketika Pacaran dijadikan Undang-Undang dan pelaku yang tidak mau pacaran bakal dijerat dengan hukuman penjara atau maksimal hukuman gantung?

Sori…. I dont need your authority…

Atau misalnya suatu ketika menurut kacamata seluruh masyarakat, orang-orang yang nggak pacaran adalah kalangan yang tidak bermoral?

Tetep…. Huh.. down with the moral majority…

Lho kenapa emangnya?

’cause I want to be the minority

(Eh, supaya lebih seru loe bacanya sambil nyanyiin minoritynya Greenday ya… )

Muslim sekarang jadi minoritas, kata Ustadz Ihsan Tanjung. Lho, bukannya jumlah muslim itu 1,3 miliar lebih, Tadz?

Lha iya… kata beliau… tapi itu mesti dikurangi dengan golongan aliran sesat seperti Ahmadiyah, Lia Aminuddin, Inkar Sunnah dan lain sebagainya. Numpang ngaku Islam padahal tidak beraqidah Islam. Ini belum lagi dikurangi dengan golongan ’Muslim tapi’… Muslim tapi nggak sholat, muslim tapi nggak berjilbab, muslim tapi pacaran, muslim tapi sekuler, muslim tapi nggak kenal ajaran islamnya. Artinya yang muslim doang itu jumlahnya sedikit aja… Minoritas! Tegas beliau.

Ustadz… bisik gue kepada beliau…. gue mau jadi yang minoritas itu… I want to be the minority! teriak gue kemudian. Tapi Ustadz Ihsan Tanjung tak menanggapi, beliau terus melanjutkan ceramahnya. Kesal karena tak ditanggapi gitu, langsung deh gue matikan MP3nya. Rasain Tadz!

Minoritas yang terasingkan. Biarin dikatain aneh karena konsisten akan islamnya. Biarin pula dikatain teroris, fundamentalis, ekstrimis, gara-gara mendakwahkan Islam secara kaffah! Biariiiinnn.

Loelah yang aneh! Loe nggak tahu sih, kalau islam itu keren banget. Ajaran keren yang mengkerenkan! Loe nggak tahu kalau hanya dengan ajaran ini lah pintu keselamatan bisa diraih. Loe nggak tahu! Atau memang gak mau tahu?

Islam yang minoritas. Bahkan menyebutnya pun orang enggan. Bicara islam…. ”Bukan tempatnya , Bung! kalau mau khutbah sana di masjid tunggu jum’atan”. Bikin undang-undang, perda, aturan hukum, ketatanegaraan……

Jadi bagaimana menurut kalian tentang penertiban prostitusi…” Wakil Rakyat1 melempar ke forum.

Yap, ini memang perlu ditertibkan. Mengacu pada hukum, kalau kita larang berarti melanggar hak asasi dan kebebasan. Makanya kita perlu menertibkan dengan membikin daerah-daerah pelacuran yang resmi” Wakil Rakyat2

Oke, ini juga sudah sesuai dengan contoh undang-undang di negara maju. Karena itu dengan mengucapkan bismillah kita sahkan Undang-Undang Pelacuran ini…” Wakil Rakyat1 bersiap mengetuk palu

Interupsi, pimpinan sidang! Tapi menurut AlIsra 32 Allah bilang ..janganlah kamu mendekati zina…” Wakil Rakyat3

”Hahaha… ini forum resmi bung! Jangan bawa-bawa agama. Udah! Ganggu aja… kirain mau bicara apa…” Wakil Rakyat1. Segenap hadirin di forum tertawa terbahak. Wakil Rakyat3 hanya ternganga tak percaya.

Minoritas…… Islam terasingkan..

Masjid terkunci saat waktu shalat. Suara Adzan hanya kaset rekaman. Sementara hingar bingar konser musik berjubel hingga pengunjungnya mencak-mencak karena tak bisa masuk akibat kehabisan tiket.

Islam minoritas…. Islam terasingkan.

…..Tapi beruntunglah yang terasing…. Yaitu yang berupaya memperbaiki di tangah kerusakan-kerusakan” Begitu bunyi hadits dalam riwayat yang lain.

Terasing, bukan berarti mengasingkan diri… bersembunyi dari kehidupan manusia, tidak mau bergaul. Justru sebaliknya keterasingan menuntut pihak yang terasing untuk berusaha memperbaiki kerusakan ini. Ketika ibadah sepi, ketika kemaksiatan merajalela, ketika sistem islam digantikan dengan sistem kufur, maka bangkitlah para pendekar minoritas yang terasing! Sudah saatnya mengubah dunia yang rusak jahiliyah ini!

Dan biarlah nanti mereka akan terpana, ketika di Yaumul Akhir diumumkan….. Yang masuk neraka adalah golongan mayoritas….. Yang di surga golongan minoritas….

Dan golongan minoritas pun berkata dengan bangga….

”hehehe… I am the minority!”

(Sehelai Bumi Allah, 28 Agustus 2007. Teriring doa ’Ya Allah jadikan gue salah satu dari minoritas itu’. Buat fundamentalis dan ekstrimis pacaran… maaf gue nyinggung loe lagi… tapi ini memang disengaja kok. Hehehe…)

Permalink & Komentar

RUANG RINDU

Agustus 29, 2007 at 4:50 am (RUANG RINDU)

Lama tak sua. Tiap kali Save us lama gak hadir ke hadapan pelupuk mata kalian, selalu aja ada berita-berita miring, ada yang bilang Save us udah mati lah. Ada yang mau coba ngidupin Save us lagi… eh sembarangan, emangnya Save us udah jadi mayat. Kemarin setelah lama gak buka blog, bahkan ada yang nyeletuk jangan-jangan gue udah bosan dakwah…. Yee.. enak aja, nggak gue banget gituh. Padahal kan udah gue wanti-wanti jauh-jauh hari. Save us itu media yang serba gak jelas, bentuknya gak jelas, yang bikin gak jelas siapa, isinya gak jelas, aturan edisinya gak jelas (loncat-loncat), kapan pertama terbit gak jelas, terbit tiap kapan gak jelas, dan kapan mau terbit lagi juga gak jelas, termasuk yang ngebaca kayaknya juga gak jelas.

Nah, untuk menghadapi gosip-gosip gak sedap itulah (yah, ternyata Save us udah jadi selebritis makanya ikut-ikutan digosipin) akhirnya…. Jreeeengg…. Save us mau gak mau mesti muncul lagi.

“Hahaha… paling-paling sekitar satu dua edisi lagi juga ngilang lagi… itu biasa mah… dulu-dulu juga gitu” celetuk seseorang dari ujung sana.

Ya… biarin.. semau gue dong.

Eh, pren. Kalian sering denger lagu Ruang Rindunya Letto, gak?. Iya sih, emang terlampau melow. Tapi lagu itu asik juga, kan? Nah, ngomong-ngomong tentang ruang rindu itu… Percaya nggak walau Save us lama sekali gak nongol namun sesungguhnya tiap kali denger lagu itu benak gue langsung aja terbayang-bayang kalian. Gue rindu loe-loe pade, walau kita gak saling kenal dan pertemuan kita hanya lewat perantara media butut ini. Tapi sesungguhnya loe-loe udah tersimpan di dalam bilik hati gue yang terdalam. Walau lama tak bertemu, namun seperti katanya Letto, di ruang rindu kita tetap bertemu.

Kalian percaya kan?

Hahaha… mau-maunya percaya? Ngapain juga gue ngerinduin loe… ih kayak gak ada kerjaan aja. Mending gue ngerinduin yang lain…..

Tapi ngomong-ngomong soal ruang rindu… loe percaya nggak tentang keberadaan ruang rindu? Iya, ruang rindu… dimana konon walaupun si perindu tak bertemu langsung, namun di suatu tempat yang bernama ruang rindu, mereka bisa bertemu bermesraan saling melepas rindu. Sehingga kepedihan yang lama terpendam bisa terobati begitu rupa. Ruang rindu ada gak yach…. karena kalau memang ada, gue ingin segera bertamasya ke sana sekarang juga. Karena kepedihan gue saat ini begitu membuncah! Kerinduan gue sudah tak terperikan!!

Pagi tadi gue lihat di Televisi tentang rencana penggusuran ribuan rumah warga yang berada di sapanjang jalan tol. Pemerintah DKI Jakarta tak menggubris kepedihan mereka dan tetep keukeuh bakal menggusur ‘perumahan mewah’ milik warga miskin itu. (Loe paham kan maksud gue bikin miring tu tulisan? Rumah yang dimaksud sebenarnya hanyalah gubuk reot dan tumpukan kardus!) Huh, alih-alih memberikan rumah yang layak, eh ini udah miskin dipelorotin lagi. Lalu kemana lagi mereka harus pergi… bila senantiasa diusir!

Kemanapun aku pergi

Bayang-bayangmu mengejar

Bersembunyi dimanapun

Slalu engkau temukan

Aku merasa letih….

Bahkan Ebiet G Ade sendiri tak tahu harus menjawab apa.

Gue geregetan. Mana katanya Pemerintah yang berupaya mensejahterakan rakyatnya?! Woi, Om Fauzi Bowo! Loe juga mungkin nanti tampaknya sama saja. Kampanye sih manis-manis, tapi gue gak yakin loe bakal menghentikan penggusuran-penggusuran ini.

Di saat kepedihan hati ini maka mendadak gue ingin lekas menuju ruang rindu…

Di ruang rindu gue ingin ketemu sama Bang Umar bin Khattab!

Gue akan mengadu pada beliau, sebagaimana dulu seorang Yahudi tua pernah menghadap pada beliau. ”Woi, bang Umar! Lihat tuh atas nama keindahan kota, ribuan rumah warga miskin di DKI Jakarta mau digusur paksa!”

Wajah bang Umar pun mengerut dan memerah. Giginya menggeretak. Diambilnya sebuah tulang dan digoresnya keras dengan sebilah pedangnya.

”Ini, serahkan pada Gubernur DKI Jakarta, berlaku luruslah. Ingatlah kamu akan menjadi tulang belulang. Kalau tidak berlaku lurus, maka aku yang akan meluruskanmu dengan pedangku!” tegas Bang Umar.

Ahhh… Bang Umar! Satu tulang mana cukup. Masalahnya yang perlu dikirimi tulang ini ada ribuan oknum. Rakyat yang digusur ribuan. Dan bukan sekali saja… kejadian ini sudah jadi hal yang biasa….” protes gue

”Apaa!!!” Bang Umar terhenyak tak percaya.

Pagi tadi pula gue lihat berita di layar tivi tentang penyiksaan TKW di Malaysia, Pemerintah hanya diam melihat warga-warga muslimnya dianiaya, bahkan ada yang sampai mati terbunuh.

Aargghhh…. apa pula ini! Bukankah kata Allah nyawa seorang muslim begitu berarti. Bahkan lebih berarti daripada isi bumi.

Gue terperangah. Kembali gue berlari ke ruang rindu. Gue set pertemuan dengan Khalifah Mu’tashim billah.

“Khalifah… khalifah…. di sana khalifah… kembali muslim dianiaya!” teriak gue sambil berlari ke arah beliau.

Beliau terkejut. Beliau yang dulunya, karena mendengar seorang muslimah dilucuti kehormatannya oleh tentara romawi dan langsung mengerahkan pasukan untuk menyerbu Romawi yang panjangnya nauzubillah…. ketika ujung depan pasukan sampai ke tempat perang, ujung belakang masih ada di dalam kota.

”Oke! Panggil para panglima! Kita segera mobilisasi pasukan. Kali ini mesti lebih banyak…. eh tapi dimana tempatnya… dan siapa pelakunya? Romawi lagi? Atau Persia?” tanya Khalifah Mu’tashim

Mmm…. bukan Khalifah…. di Malaysia…. negri yang penduduknya juga muslim. Pemerintahnya juga muslim….” sahut gue sambil menggaruk-garuk kepala.

Brak! Khalifah Mu’tashim terduduk mendadak tak percaya.

Gue kemudian baca koran hari ini. Harga-harga naik lagi. Para pengungsi korban Lapindo terancam kelaparan, sementara di beberapa desa terpaksa memakan nasi aking.

Gubrak! Aduh, karena tergesa berlari, gue sampai kesandung. Gue udah tak tahan. Gue mau segera ke ruang rindu. Gue pengen ketemu dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis!

Beberapa saat kemudian, di ruang rindu…

Khalifah Umar bin Abdul Azis menyambut gue dengan ramah di rumahnya yang teramat sederhana.

Sebentar… ini masalah umat atau masalah pribadi…. soalnya kalau masalah pribadi kita tidak akan memakai lampu yang didanai dari uang umat ini” Tahan beliau sebelum gue memulai pembicaraan.

Masalah umat, mas khalifah! Ini lho…….” gue langsung menunjukkan Koran yang tadi gue baca.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis deras. Beliau terpana, di pemerintahan, beliau pernah memacahkan rekor dimana tak seorangpun ditemukan warga miskin yang hidup di daerah kekhilafahan. Sekarang…..

”Panggil Yahya, petugas amil zakatku…. suruh dia menguras baitul maal. Dan segera selesaikan masalah kemiskinan ini. Aku tak akan pernah bisa tidur nyenyak sebelum masalah ini terselesaikan.” titah beliau masih dalam keadaan terisak.

Gue tercenung.

Palestina kembali membara. Daerah-daerah umat kembali dicaplok oleh zionis Israel la’natullah. Palestina ini….. ini tanah umat. Tak berhak diinjak oleh Yahudi keparat itu. Gue setting Ruang Rindu, kali ini tujuan gue Sultan Abdul Hamid 2, sultan yang termasuk deretan khalifah terakhir di masa Kekhilafahan Turki.

”Sultan….Gue…” gue terdiam sejenak. Muka beliau tampak merah padam. Entah apa yang beliau hadapi. Gue tunggu sampai kemarahan beliau mereda.

”Oh, maaf…” kata Sultan setelah menyadari kehadiran gue. ”barusan tadi ada seorang Yahudi bernama Theodore Hertzl memohon kepadaku untuk memberikan tanah Palestina untuk pemukiman Yahudi” Lanjutnya.

”Lalu apa jawab Sultan?”

Demi Allah! selama aku masih hidup, aku tak akan membiarkan sejengkal pun tanah Palestina di tangan mereka. Tanah itu bukan milikku… tanah itu milik umat!” jawab beliau.

Sultan, sayang sekali….” sahut gue. ”Sepeninggal sultan, dan setelah kekhilafahan runtuh pada maret 1924, Kaum Yahudi telah merampas dengan paksa tanah suci itu. Darah kaum muslim membanjir di sana. Sementara Pemerintah negri-negri muslim tak bergeming, dan….” kata-kata gue terhenti. Gue lihat muka Sultan kembali merah padam. Hii.. mending gue kabur… gue set ruang rindu segera ke tempat lain…

”Hei, anak muda. Jangan menghalangi jalan kami!” teriak seseorang mengejutkan gue.

Gue buruan minggir. Sosok tegap berwibawa di atas kuda itu…. tak salah lagi. Pasti ini Panglima Salahuddin!

”Panglima Salahuddin kan….?” tanya gue.

”Maaf, anak muda. Tapi aku dan pasukanku mau bergegas menuju Baitul Maqdis untuk membebaskan tanah itu dari kaum salibis yang merenggutnya. Tak akan kubiarkan mereka mengotori tanah suci itu. Allahu Akbar!” serunya yang disahut denan takbir serupa oleh segenap pasukannya.

Oii… Panglima…. tunggu dong…. gue mau foto-foto dan minta tanda tangan dulu….!” Tapi terlambat, pasukan itu telah melaju dengan cepat. Huuhh

Kembali ke habitat.

Palestina masih terjajah.

Negri muslim yang lainnya terobarak-abrik terpecah-pecah.

Penguasa-penguasa bermuka manis dengan rakyat sementara tangannya menindas dengan zalim.

Rakyat terbebani hutang. Kemiskinan merajalela. Harta rakyat dikuras habis.

Aqidah tercerabut, syariat dipinggirkan. Hukum kufur merajalela.

Akhhh… gue gak betah hidup di sini! Gue pengen di ruang rindu aja! Saat kedamaian di bawah naungan islam menaungi semesta. Saat islam meraja, saat bumi menjadi hamparan sajadah, saat ukhuwah terpelihara, saat taqwa mengakar melangit. Gue pengen di sana aja!

Jalanku hampa

Dan kusentuh dia

Terasa hangat oh di dalam hati

 

Mata terpejam dan hati menggumam

Di ruang rindu kita bertemu.

 

Permalink & Komentar