IMAJINASI

Mei 28, 2007 at 4:33 am (IMAJINASI)

Hari yang indah di bikini bottom, tempat para makhluk laut menjalani hidupnya dengan gembira… Tapi tidak demikian dengan Squidward. Semenjak siang tadi otaknya nggak bisa tenang. Bahkan televisi yang baru aja dibelinya gak bisa membuatnya nyaman….. ”Pasti gara-gara ulah jahil si Spongebob dan Patrick lagi deh?” Yee, sobat Nick jangan su’udzon dulu… Spongebob dan Patrick gak ngapa-ngapain kok. Malah dari tadi mereka cuma duduk diam nyantai di dalam kotak televisi. ”Lalu, lalu, kenapa jadi Squidward kesel banget?” Jadi gini ceritanya…. tapi duduk yang manis dulu yaaa…. Naahh, jadi ceritenya kan kotak televisi itu emang udah dibuang ama Squidward. Eh, tapi uniknya Spongebob dan Patrick malah maen-maen di dalamnya, mulai dari maen tembak-tembakan, petualangan, main koboy, dan banyak lagi deh…. dan mereka berbuat seolah-olah itu benar-benar terjadi nyata, lengkap dengan efek suara yang seperti asli. Tentu aja Squidward kesel dan merasa terganggu. Sebelnya, berkali-kali Squidward melongok ke dalam kotak, dia tetap tidak menemukan apa-apa di dalam kotak ajaib itu, yang ada hanya muka-muka bloon Spongebob dan Patrick yang duduk diam sambil memejamkan mata… Nah lho… ”Bagaimana mungkin ini bisa terjadi!! Bagaimana kalian membuat ini seolah benar-benar nyata!!” umpat Squidward kesal. Dan, dengan nyantai Spongebob hanya menjawab….. “…. Kau hanya perlu…. imajinasi…..!” *** Loe-loe para spongebob maniak pasti udah berkali-kali menonton episode di atas (heh, dasar kanakan! Tontonan spongebob! Yang ilmiah dong!), soalnya episode Spongebob emang selalu diulang-ulang, bahkan episode diatas sudah ditayangkan puluhan kali. Maklum aja, Spongebob emang keseringan diputer, sehari ada empat kali, dan diputar tiap hari, bahkan hari minggu diputar lebih sering. Heran, kok loe nggak bosen-bosen juga ya nongkronginnya? Nah, ada suatu hikmah yang menarik dari cuplikan episode Spongebob di atas (Wayyooo, hikmah neeh…). Yaitu tentang sebuah kekuatan yang seringkali kita remehkan dan diabaikan, yaitu kekuatan imajinasi! Ya, kekuatan imajinasi sering dilecehkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya intelek dan mengaku dewasa. Kekuatan ini acapkali dicap kekanak-kanakan, dan uniknya menurut penelitian, kekuatan ini emang lebih dominan dimiliki oleh anak-anak dibandingkan dewasa. Orang dewasa lebih percaya dengan kekuatan rasio dan matematis. Sehingga kemampuan imajinatif dan kreatif mereka biasanya terkubur di balik alam rasio yang mereka agung-agungkan. Nah, mengutip apa yang pernah diungkapkan oleh Einstein, bahwa “Energi mengikuti Imajinasi”. Einstein serius betul dengan ucapannya. Dia sendiri mengaku telah membuktikannya saat dia ditanya bagaimana dia mampu menghasilkan begitu banyak teori spektakuler, dia menjawab imajinasinyalah yang menjadi salah satu bahan bakar dari idenya itu. Persis seperti sebuah pepatah latin ‘Fortis imaginatio generat casum’ artinya imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan. Maka wajar kebanyakan orang sukses bukan mengandalkan kekuatan intelektualnya, namun berkat… sekali lagi… imajinasi! Gue punya sebuah cerita menarik yang gue kutip dari sebuah blog di internet. Ini tentang kisah hidup Mayor James Nesmeth, seorang tentara yang doyan main golf. Si mayor ini begitu tergila-gila dengan golf. Sayangnya, sebelum menikmati kesempatan itu, dia ditugaskan ke Vietnam Utara. Sungguh sial, saat di Vietnam si mayor ditangkep oleh tentara musuh dan dijebloskan ke penjara yang pengap dan sempit. Dia nggak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan siapa pun. Situasi pengap, kosong, dan beku itu sungguh menjadi siksaan fisik dan mental yang meletihkan baginya. Untungnya, Nesmeth sadar dirinya harus menjaga pikirannya agar gak sinting. Dia mulai berlatih mental. Setiap hari, dengan imajinasinya, dia membayangkan dirinya berada di padang golf yang indah dan memainkan golf 18 hole. Dia berimajinasi secara detail. Dia melakukannya rata-rata empat jam sehari selama tujuh tahun. Lantas, tujuh tahun kemudian, dia pun dibebaskan dari penjara. Namun, ada yang menarik saat dia mulai bermain golf kembali untuk pertama kalinya. Ternyata, Mayor James Nesmeth mampu mengurangi rata-rata 20 pukulan dari permainannya dulu. Orang-orang pun bertanya kepada siapa dia berlatih. Tentu saja, tidak dengan siapa pun. Yang jelas, dia hanya bermain dengan imajinasinya. Tetapi, ternyata itu berdampak pada hasil kemampuannya. Nah, inilah kekuatan imajinasi itu. Imajinasi membentuk mimpi, mimpi membentuk cita-cita, dan cita-cita membentuk realita. Jadi awalilah dengan berimajinasi dan bermimpi! Ada cerita lain tentang kekuatan imajinasi dan mimpi. Cerita ini berasal dari zaman Rasulullah yang kurang lebihnya seperti ini (sori, gue lupa naruh bukunya, jadi ceritanya yang seingat gue aja yah.. sori kalo ada yang salah) Jadi sewaktu perang khandaq, Beliau dan para sahabat menggali parit yang rencananya digunakan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh, yaitu Kaum kafir Quraisy dan para sekutunya. Di saat menggali parit, para sahabat menemukan sebuah batu besar. Satu per satu para sahabat mencoba memecahkannya dan gak ada satu pun yang sukses mecahin. Akhirnya Rasulullah turun tangan langsung. Beliau mengayunkan kapak dengan kuat, kemudian batu itu mengeluarkan kilatan, beliau mengayunkan lagi dan keluar kilatan lagi. Hingga yang terakhir juga mengeluarkan kilatan sebelum akhirnya batu hancur berkeping-keping. Nah, di tiap kali keluar kilatan, Rasul tercinta bersabda (Nah, ini dia, gue rada lupa isi sabdanya, nanti koreksi ya) Beliau bercerita bahwa di tiap kilatan itu beliau melihat penaklukan Persia, Penaklukan Romawi, Penaklukan Mesir. Tentunya Rasul bisa melihat ini melalui perantaraan wahyu dari Allah. Namun menariknya adalah beliau saat itu sebenarnya sedang menanamkan mimpi dan imajinasi kepada para sahabatnya. Ini unik! beliau menanamkan imajinasi di benak mereka bahwa pada waktu yang tidak lama lagi mereka akan menaklukkan 3 negara yang paling berkuasa saat itu, yaitu Persia, Romawi, Mesir. Padahal, saat itu mereka –Rasul dan para Sahabat- sedang dalam keadaan paling kritis, yaitu ancaman mematikan, serangan telak dari musuh bebuyutan kafir Quraisy dibantu para sekutunya dari kabilah-kabilah Arab. Hitung-hitungan rasio dan matematis, mustahil mereka bisa selamat. Bahkan kebanyakan berpikir inilah saatnya kaum muslimin menemui ajalnya… hancur lebur. Rasulullah sendiri hanya bisa memilih bertahan di Madinah. Namun, kita simak bagaimana beliau memberikan imajinasi kepada para pengikutnya… gak alang tanggung, imajinasi yang ditanamkan bukan hanya kemenangan pada perang itu… namun kemenangan bahwa mereka setelah ini akan menjelma menjadi umat terhebat, negara mereka menjadi negara paling adidaya, superpower mengalahkan Persia dan Romawi. Imajinasi membentuk mimpi dan mimpi menjelma menjadi nyata…. hingga akhirnya terbukti, kata-kata yang disampaikan Rasul di saat-saat kritis itu benar-benar nyata. Satu per satu daerah tadi kemudian akhirnya ditaklukkan oleh kaum muslimin. Imajinasi adalah energi. Energi yang kalo diolah terus-menerus akan wujud dalam apa yang kita imajinasikan itu. Dengan kekuatan imajinasi, masa depan akan menjadi milik kita sesuai yang kita cita-citakan. Dengan imajinasi, kita bisa menjadi tuan atas takdir kita. Stephen Covey dalam 7 Habits mengatakan kita membuat kreasi mental lebih dulu sebelum kreasi fisiknya. Semakin kuat gambaran mental yang kita miliki, semakin besar energi yang kita miliki untuk mewujudkannya. Sebaliknya, jika kita terlalu banyak membayangkan yang buruk dan negatif, kita menarik energi negatif dan kita semakin ter-demotivasi untuk meraihnya. Suatu ketika gue pernah berdebat dengan seseorang…. ”Ah, loe itu naif, mimpi loe itu terlalu mengangan-angan. Yang realistis sajalaahh…” Hardiknya. Gue waktu itu cerita kepada dia tentang mimpi gue bahwa dalam beberapa waktu lagi akan terbentuk sebuah negara Islam yang super power jauh mengungguli Amerika Serikat. Negara itu menerapkan Islam secara totalitas, menjadi adidaya di dunia. Seluruh umat Islam bersatu dalam negara itu. Panji Islam mengangkasa, musuh-musuhnya takluk. Kesejahteraan dan Kedamaian mencuat dan merajai dunia. ”Oke, kita memang sama-sama memperjuangkan islam. Tapi loe itu kelampau ketinggian bermimpinya. Jangan berlebihan jack!” ucapnya lagi. ”Lho? Apanya yang berlebihan? Gue tidak sedang berangan-angan kosong. Setidaknya mimpi gue ini logis. Buktinya keberadaan kejayaan Islam seperti yang gue impikan itu memang pernah terjadi” jawab gue. ”Atau loe malah meragukan kalo kita pernah mengalami masa adidaya? Padahal kaum di luar islam saja banyak mengakuinya. Catatan sejarah jadi saksi jelas kalo umat muslimin sebelumnya berabad-abad telah menjadi adidaya memimpin peradaban umat manusia. Di segala bidang kita memimpin, di sains, di militer, di ekonomi, semuanya. Negara itu, Daulah Khilafah Islamiyyah, secara nyata pernah eksis dan berjaya dari kurun waktu 622 M dari hijrahnya rasul hingga 1924 M saat diruntuhkan oleh Agen Yahudi Mustafa Kemal atTaturk. Lalu dari sisi mana kita meragukannya?” “Atau loe menganggap mimpi gue cuma mengada-ada. Padahal cita-cita mengembalikan kejayaan negara islam ini sebenarnya cuma layaknya meneruskan estafet saja. Kita hanya membangun kembali” “Ya ya ya… tapi masalahnya sampai kapaaaannn. Lihat di sekitar loe? Jangankan untuk membangun negara adidaya, untuk makan sehari saja umat ini udah susah bukan main!” bantahnya kembali. “Masalah kapan berhasil bukan urusan manusia. Itu urusan Allah. Yang kita lakukan adalah prosesnya, perjuangannya! Allah akan menilai seberapa keras perjuangan kita. Masalah hasil, biarlah Allah yang menentukan. Jadi jangan pernah bertanya sampai kapan mimpi itu baru bisa terwujud. Bahkan kalo Allah mengingini saat ini pun bisa aja terwujud. Nah, kemudian seperti kata loe tentang masalah umat ini…. Ini gue kembalikan lagi semata adalah akibat ketiadaan Negara yang menerapkan Islam secara Kaffah tersebut. Umat betul-betul terpuruk di seluruh bidang kehidupan. Parah! Bahkan saking parahnya, untuk bermimpi saja, -sebuah pekerjaan yang sangat mudah- mereka nggak berani tinggi-tinggi. Gue berprinsip, kalo masang cita-cita jangan kepalang tanggung, karena bercita-cita gak perlu bayar. Maka bercita-cita besarlah. Terlebih kalo pada faktanya, kita memang mempunyai potensi untuk mencapai cita-cita itu” Daulah Khilafah Islamiyyah, sebuah negara adidaya. Inilah jawaban terhadap masalah umat. Hanya negara ini yang mampu menegakkan Islam secara totalitas. Negara ini pula yang bisa mengangkat kejayaan Islam kembali seperti masa awal-awal Islam. Yang dapat mengatasi seluruh problematika umat. Inilah negara yang pernah didirikan oleh Rasulullah dan para Sahabat. Negara yang pernah menaungi kesejahteraan dunia lebih dari 13 abad. Negara yang sempat runtuh beberapa puluh tahun lamanya hingga saat ini… dan negara yang besok akan segera berdiri kembali, sebagaimana imajinasi yang ditanamkan oleh Rasulullah melalui Hadits sahihnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ..Tsumma takuunu khilafatan ‘ala minhajin nubuwwah…” Kemudian akan berdiri kembali negara khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian….. Maka, selayaknya Spongebob, ketika mengucapkan di hadapan Squidward ”…Imajinasi!” dengan percaya dirinya, kemudian pelangi keluar dari kedua tangannya. Begitu juga gue, dengan percaya diri dan lantang gue katakan ”Imajinasi!!” gue akan mulai dengan itu. Bahwa kebangkitan kejayaan, dan keadidayaan Islam saat ini adalah masih sebatas imajinasi. Namun gue katakan imajinasi itu dalam waktu yang teramat singkat akan menjelma menjadi realita. Imajinasi itu akan nyata!

Permalink & Komentar

MUAK

Mei 7, 2007 at 9:17 am (MUAK)

Di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang puteri nan cantik jelita. Dia tinggal di menara tinggi yang dijaga oleh naga yang menyemburkan api. Sang putri sudah bertahun-tahun tertidur. Konon tidurnya ini hanya bisa dibangunkan oleh kecupan cinta sejati dari seorang pangeran.

Berita keberadaan putri ini terdengar sampai ke negri tetangga, tempat tinggal seorang pangeran budiman dan rupawan. Dia kemudian bergegas pergi menaiki kuda terbangnya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang nenek sihir tua yang sedang mengendarai sapu terbangnya. Sang Pangeran dan Nenek Sihir pun saling jatuh cinta. Dan mereka hidup berbahagia selama-lamanya….

Hahaha… gak nyambung ya… terserah gue dong! Mau ceritanya gue akhiri dengan Pangeran akhirnya menikahi sang naga juga terserah gue. Kenapa? Protes?!

Oke, sekarang mari kita simak cerita yang kedua…

 

Semenjak tragedi 911 atau 11 September yang meluluhlantakkan menara kembar WTC, dan gedung pertahanan AS di Pentagon, muncullah satu selebritis baru di dunia terorisme. Usamah bin Laden yang diyakini otak di balik tragedi kemanusiaan terbesar itu. Tokoh yang sangat berbahaya, yang dengan alQaeda-nya bagaikan setan yang selalu menghantui sendi-sendi kemanusiaan yang selama ini dibangun oleh Amerika. Maka, demi melindungi umat manusia dari petaka yang lebih berbahaya, AS rela mengorbankan diri untuk terjun langsung memimpin perang global melawan terorisme. Tak ayal, dua negara poros setan dalam waktu berdekatan berhasil diselamatkan dari kejamnya terorisme. Dua negara yang beruntung itu adalah Afghanistan dan Irak. Namun tugas Amerika dan sekutunya tentunya belum bisa dianggap selesai. Usamah bin Laden sampai saat ini masih bercokol di dunia. Dia dan alQaeda masih terus menjadi ancaman laten bagi perdamaian dunia.

Sementara itu di Timur Tengah aksi ketegangan seperti tak pernah reda. Aksi bom bunuh diri yang masih sering dilancarkan oleh kaum militan Palestina mengusik kedamaian yang berusaha dibangun oleh Israel dan Otoritas Palestina. Wajar, bila Israel melakukan tindakan bertahan demi menyelamatkan dirinya.

Di Indonesia, tidak jauh beda. Jamaah Islamiyyah yang diyakini merupakan bagian AlQaeda terus menebarkan terornya. Pasca tragedi bom Bali I kemudian menyusul bom Bali II, serangkaian aksi terorisme yang diorganisir mereka terus saja terjadi dan menghantui kehidupan masyarakat sipil. …..

Cut! Cut!

Sekarang mari kita perhatikan perbandingan antara cerita yang pertama dengan cerita kedua. Cerita pertama tadi jelas-jelas cerita ngibul. Dongeng belaka, yang digunakan untuk membodohi anak-anak.. Kuda terbang, naga menyemburkan api, nenek sihir, dan lain-lainnya… mana ada di kehidupan nyata. (Atau jangan-jangan loe masih percaya tentang cerita pangeran, putri dan naga? Dasar kanakan!) Sampai di sini orang dewasa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, betapa mudahnya anak kecil dibohongi. Namun untuk cerita yang pertama, tak urung juga mendapatkan protes, bahkan dari anak kecil sendiri. Kok tokoh baiknya malah kawin sama nenek sihir sih. Terus nasib sang putri jelita bagaimana?

Nah untuk cerita yang kedua sebenarnya rada-rada mirip. Cerita kedua juga adalah cerita ngibul. Namun kali ini bukan anak kecil yang dikibulin, melainkan kita!. Pihak yang mengibulin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, betapa mudahnya orang-orang muslim itu dibohongi. Sayangnya, beda dengan cerita pertama yang banyak diprotes karena keanehan jalan ceritanya, dan penyelewengan cerita tokoh-tokohnya, namun untuk cerita yang kedua sangat sedikit terdengar protes. Padahal cerita kedua juga aneh banget, dan penuh dengan kibulan-kibulan.

Dan begitulah…. ternyata selama ini, kita begitu mudah dikibuli oleh propaganda-propaganda yang dikoar-koarkan barat yang sejatinya adalah penghinaan besar-besaran kepada umat muslim. Dengan berbagai media yang dikuasainya, Barat membuat kesan seolah-olah pemberitaan-pemberitaan yang dialamatkan kepada muslimin itu adalah benar adanya. Dan secara tidak sadar kita telah dihina habis-habisan. Sebuah penghinaan yang sistematis!

Suatu ketika gue berdebat dengan salah seorang guru. Kala itu beliau menyatakan bahwa kaum Taliban dan pejuang Palestina adalah para teroris. Asli, gue sangat keberatan. Menurut beliau teroris adalah istilah bagi orang atau kelompok yang menyebarkan rasa takut di masyarakat dan menggunakan senjata untuk menyebarkan rasa takut tersebut. Nah, karena itu menurut beliau para pejuang palestina dan pejuang taliban itu pantes diberi label teroris bila mengikuti definisi di atas.

Keberatan, Pak! kalo Bapak mengatakan begitu, berarti saya juga boleh mengatakan Pangeran Dipenogoro, Imam Bonjol, dan Panglima Sudirman juga adalah para teroris! alasannya mereka adalah komplotan yang menyebarkan rasa takut ke masyarakat Belanda saat itu, dan mereka mengangkat senjata….”

Interupsi gue diputus ”Oh, nggak bisa, mereka itu berjuang untuk kemerdekaan tanah air mereka, mereka adalah pahlawan”

Berarti Bapak yang tidak adil,” sahut gue cepat. ”Apa bedanya Pejuang Bersenjata Palestina dan Pejuang Taliban dengan pasukan sabilnya Pangeran Dipenogoro atau Tentara gerilyanya panglima Sudirman. Mereka sama-sama memperjuangkan hak kemerdekaan tanah airnya dari penjajahan. Persamaannya mereka sama-sama dilabeli sebagai ’musuh’ oleh para penjajahnya, namun diberi label pahlawan bagi rakyatnya. Kalo Bapak mengatakan kaum Taliban mengancam keamanan dan menimbulkan kekacauan, maka apa bedanya dengan tentaranya Panglima Sudirman yang juga menimbulkan kekacauan bagi penjajah sekutu saat itu? Anehnya, untuk kasus yang satu kita puja sebagai pahlawan, yang satu kita cap jelek sebagai teroris!?” Hehehe…satu-kosong. Gue merasa menang. Beliau gak berkutik.

Pembunuhan karakter. Begitu mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan media-media Barat saat ini. Sebutlah nama Usamah sekarang di hadapan orang banyak, maka kesan yang ada terhadap nama itu adalah identik dengan pimpinan kelompok teroris AlQaeda, biang keladi peledakan WTC. Padahal menilik sejarah, Usamah adalah nama seorang sahabat Rasulullah yang sangat disayangi beliau, putra dari Zaid bin Haritsah, anak angkat kesayangan Rasulullah. Begitu hebatnya pemuda ini, hingga di usia 18 tahun, sudah dipercaya oleh Rasul sebagai panglima memimpin sebuah angkatan bersenjata, membawahi sahabat Abu Bakar dan Umar. Nah, dan sekarang, nasib nama Usamah telah terlampau jelek. Jangan beri nama anak Usamah, nanti salah-salah dituduh sebagai anggota AlQaeda!

Nasib yang sama juga menimpa tokoh-tokoh kebanggaan islam yang lain. Rupanya mereka belum puas hanya melakukan pembunuhan karakter terhadap Muhammad Rasulullah. Para Sahabat utamanya pun tak luput dari penghinaan. Nama Abu Bakar akan diidentikkan dengan Abu Bakar Ba’asyir, tokoh yang dituduh oleh media sebagai otak bom Bali dan sejumlah peristiwa terorisme. Padahal, kita tahu persis nama Abu Bakar adalah nama Khalifah pertama, sahabat terdekat Rasulullah. Nasib yang sama juga menimpa Khalifah yang kedua, Umar alFaruq. Sekarang orang mengenal Umar alFaruq sebagai salah satu gembong terorisme yang berhasil dibekuk oleh AS. Tak ketinggalan Khalifah keempat, Ali. Saat ini nama Ali lebih identik sebagai pentolan kasus bom Bali, Ali Ghufron. Dan masih banyak nama-nama lainnya. Sehingga wajar bila sekarang orang-orang muslim rada-rada malu menggunakan nama-nama islam. Mereka lebih pede memakai nama-nama seperti Alex, Jason, Alice, Michael, Brandon… katanya sih lebih keren.

Dan ternyata, bukan hanya tokoh-tokoh islam yang dibunuh karakternya. Barat belum puas. Sehingga supaya merata dibuatlah skenario untuk menjelek-jelekkan seluruh umat islam. Dan akhirnya ditemukan cara yang tepat. Jamaah Islamiyyah! Lihat saja bila disebut begitu, maka yang ada di benak orang sekarang adalah sebuah organisasi teroris yang terkait dengan alQaeda. Hahaha… berarti sekarang semua umat Islam telah disebut sebagai teroris. Padahal, Jamaah Islamiyyah adalah istilah padanan lain dari umat islam. Arinya, semua yang mengakui Allah Tuhannya, Muhammad Rasulnya sama dengan te-ro-ris Keren, keren… hebat dan sistematis sekali penghinaan yang mereka lakukan. Sekarang orang jadi takut mengaku sebagai jamaah islamiyyah. Bisa ditangkap!

Dan yang bikin kesalnya, penghinaan sestematis dari barat ini diterima mentah-mentah oleh kaum muslimin. Ibaratnya mereka mengarahkan moncong senjata ke mulutnya sendiri dengan ikhlasnya….

Bukan satu dua kali gue dibilang orang ekstrimis, fundamentalis, dan radikal. Terakhir beberapa saat yang lalu saat gue bincang-bincang dengan anak satu tingkat di bawah, kemudian dia teriak ”Awas! Ada bom!” seraya menunjuk ke arah tas gue seakan-akan gue teroris yang bawa-bawa bom. Buseett, emangnya apa salah gue, kenapa gue jadi dicap ekstrimis, radikal, atau teroris? Padahal gue gak pernah melukai orang, gak pernah ngejahatin orang, kalo ngusilin orang sih sering… Tapi apa karna itu gue jadi disebut teroris?!

Nggak, coy! Pemikiran loe itu loh… radikal, loe itu islam garis keras!!!” salah seorang sohib akhirnya membantu menjawabkan.

Oalaahh…. jadi itu toh. Gara-gara itu? Jadi gara-gara gue selama ini anti pacaran, ngajakin pengajian, koar-koar masalah pentingnya penegakan syariat islam secara kaffah, bahayanya pemikiran kapitalis, keculasan Amerika menjajah negri-negri Islam maka gue termasuk si radikal ekstrimis!?

Kalo begitu betapa asalnya sebutan radikal ekstrimis tersebut. Definisi radikal ekstrimis tergantung siapa yang bilang. Nah, kalo begitu apa salahnya kalo gue bilang, sebenarnya loe lah yang ekstrimis dan radikal! Karena loe hobi nyontek, rajanya pacaran, dan suka gosipin orang. Radikal karena loe begitu keras kepala menentang larangan Allah, Ekstrimis, karena perbuatan loe itu sungguh ekstrim berlawanan dengan syariat Allah.

Lagian, pengkategorian islam menjadi islam garis keras dan islam moderat gak pernah dikenal dalam khazanah islam. Itu hanya pembagian dari Barat. Islam moderat, adalah yang sesuai dengan keinginan Barat, dan islam ekstrim atau islam garis keras, yang tidak sejalan dengan keinginan Barat. Kelompok yang memperjuangkan islam disebut dengan kelompok pemberontak, islam fundamentalis, atau teroris. Sedangkan kelompok yang bersedia bersimpuh terhadap keinginan Barat disebut islam toleran. Dalam Islam, gak pernah ada! Allah hanya membagi umatnya menjadi Muslim, yaitu yang berserah diri mengikuti jalan perintahNya; Fasik, yang mengaku islam tapi tidak mau mengkuti ajaranNya; Munafik, yang bermuka dua antara islam dan kafir; dan Kafir yaitu yang tidak mengakui Allah sebagai TuhanNya. Cuma itu….

Dan seperti tak puas hanya membunuh karakter kaum muslim, mereka pun melanjutkan dengan pembunuhan karakter simbol-simbol islam. Kita menyaksikan sendiri di media, misalnya pengidentikan orang Arab yang notabene identik dengan islam sebagai sekumpulan orang barbar yang kolot, bodoh, dan suka kekerasan. Sementara bahasa Arab, bahasa resmi umat Islam dijadikan bahan lawakan yang seru. Para ulamanya ditiru dan diparodikan untuk dijadikan model lawakan, yang selalu riuh dijadikan bahan tertawaan. Kemudian bila ada orang yang memanjangkan janggutnya dengan harapan bisa menyuburkan sunnah malah diteriaki kambing atau teroris. Ketika ada sebagian umat muslim yang memakai gamis putih panjang, maka masyarakat memicingkan mata kalau tidak meledek: ada unta kesasar!. Para akhwat yang berjilbab panjang -karena percaya begitulah jilbab yang sesuai syariat- pun juga mesti lebih bersabar dengan berbagai olokan, seperti ’ninja sasat’, orang eskimo dan lainnya

Astaghfirullah…..

Kebenaran dilecehkan, Ajaran Allah dipreteli, dan umatnya terhinakan. Sementara musuh-musuh Allah menjelma menjadi layaknya superhero dan ajaran Syaitannya dijadikan keagungan. Kalau begitu caranya gue katakan ”Dunia sudah betul-betul gila!”

Dan gue sudah betul-betul muak…..

Permalink 1 Komentar