AYAT-AYAT CINTA (the GUE version)
Hmm…
Gue pada dasarnya kurang suka baca novel, apalagi baca novel yang tebel-tebel. Bukan kenapa-napa… gue cuma ngerasa kayak gak ada kerjaan laen aja ngabisin waktu baca yang banyak-banyak kayak gitu. Makanya waktu dulu-dulu temen-temen pada asyik rebutan giliran baca Harry Potter, gue termasuk orang pertama yang ngetawain mereka. Waktu loe kelampau berharga, masa dibuang-buang buat baca kisah mistis tebel yang lebih cocok buat bantal tidur itu…. Dan biasanya yang gue ejek cuma ngasih sorotan mata nggak suka, mesem-mesem sambil bibir manyun……..
Namun, nyatanya gue mesti meralat dikit pernyataan gue tadi. Ternyata membaca novel kadang-kadang menyenangkan juga…. (dengan penekanan di kata kadang-kadang. Gue tetep bertahan gak hobi baca novel tebel). Beberapa jam yang lalu gue baru aja menamatkan satu novel cinta yang sangat keren menurut gue. Habiburrahman elShirazi dengan novelnya yang fenomenal “Ayat-ayat cinta”. Hahaha… mungkin ada yang meledek gue, masalahnya novel itu termasuk keluaran yang lumayan lama, bahkan loe-loe mungkin udah lama banget membacanya. Tapi biarin weee…
Masing-masing orang punya kesan tersendiri ketika membaca sebuah prosa atau puisi, menonton film, drama, atau sinetron. Kesan ini tergantung dari maklumat-maklumat sebelumnya yang pernah diterimanya yang menjadi pengalaman dimana otaknya akan menggarap fakta baru dan pengalaman tadi menjadi bentuk sebuah kesan. Setiap orang punya pengalaman berbeda, maka kesannya juga akan berbeda.
Gue gak akan meresensi novel setebal 400an halaman itu, karena sekali lagi masing-masing orang punya kesan berbeda-beda, maka lebih baik mendapatkan ceritanya dari bukunya langsung. Gue gak nyuruh beli lho… kalo ngikutin prinsip gue, selama masih bisa minjam buat apa beli, hehehe… tapi kalo emang mau beli gue saranin beli buku novel karangan kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman, pengarangnya) yang lain…. biar gue bisa minjem hehehe… Tapi biarlah gue ceritain sedikit kisahnya… biar…. biarin… gue lagi pengen cerita aja…
Gue paling suka dengan gaya cerita novel ini. Cerita yang bersettingkan negri Mesir ini ditata sungguh apik. Ceritanya segar dengan balutan cinta yang romantis, namun tetap syar’i dan tetap tidak melenceng dari niat utama sang penulis, dakwah! Gue akui pada awal-awal cerita gue hampir aja memutuskan untuk menghentikan membacanya, karena alurnya yang sungguh datar dan bikin mulut menguap lebar. Namun, akhirnya di bab-bab selanjutnya gue akhirnya terkesima dengan kejutan-kejutan yang terdapat dalam novel ini.
Cinta segilima! Lebih keren dari kisah di pilem-pilem india. Fahri, mahasiswa kere dari desa yang dengan segenap pengorbanan akhirnya bisa sampai menuntut ilmu sekolah S2 di AlAzhar, Mesir, universitas tertua di dunia. Fahri gak punya kelebihan dalam hal tampang.. ya standar orang desa lah…. namun kerennya kang Abik, sang pengarang menjadikan Fahri yang ndeso ini menjadi tokoh yang diperebutkan para gadis. Setidaknya ada empat gadis yang menitipkan hatinya ke jiwa Fahri. Nurul, si cantik mahasiswa alAzhar keturunan ningrat santri; Aisha, wanita yang dilukiskan secantik bidadari, kelahiran Turki, dari kalangan jetset; Noura, gadis cantik malang yang hidupnya menderita di bawah tekanan ayahnya; dan Maria, gadis cantik cerdas, tetangganya yang pemeluk kristen koptik. Hebat kan? Kira-kira pada siapa akhirnya labuhan hati Fahri berlabuh? Hehehe… empat-empatnya!? Itu sih mau loe! Fahri memilih Aisha, bukan.. bukan karena dia yang paling cantik dan paling kaya. Namun karena Aisha lah yang pertama kali mengutarakan cintanya, saat ketiga yang lainnya hanya memendam dalam dada. Namun tragisnya, ketiga cewek yang tersisa gak terima begitu aja. Perjuangan belum berakhir! Nurul yang pertama menulis surat cinta gak lama setelah Fahri dan Aisha menikah, saat-saat keduanya berbulan madu. Isinya, kegelisahan dan kecintaan yang begitu sangat, dan permintaannya untuk menjadi istri Fahri yang kedua. Kemudian Maria, yang jatuh sakit hingga koma karena mengenang cintanya kepada Fahri. Lalu apa kabar Naora? Gadis malang yang pernah diselamatkan Fahri dari kekejaman ayahnya ini karena merasa sakit hati cintanya tertolak, malah berbalik memfitnah Fahri memperkosanya, yang akhirnya berhasil menjebloskan Fahri dalam siksaan penjara yang terlampau pedih dan bayang-bayang hukuman gantung. Nah, gimana cerita akhirnya? Di sinilah ternyata keajaiban cinta suci terbukti… keajaiban ayat-ayat cinta…. hmmm… baca sendiri aja ya kelanjutannya…
Kisah cinta Fahri yang romantis ini menjadi suatu bukti bahwa syari’at islam tidak pernah menghalang-halangi cinta. Islam malah menjunjung cinta. Nah, karena menjunjung cinta inilah makanya cinta di dalam islam diletakkan di tempat yang agung, cinta suci antara sepasang laki dan perempuan pantang ternodai dan terlalu mulia untuk ditempatkan di kubangan sampah dengan jalan maksiat seperi pacaran, zina, dan lainnya. Cinta itu agung, tempatkanlah dia di tempat yang agung. Maka layaklah kisah Fahri ini dijadikan sebagai rujukan tentang bagaimana cinta agung ini terlaksana, tanpa mengurangi nilai sakral percintaan berupa romantisme dan sensualitas.
Sejenak gue memperhatikan ke diri gue….. si jelek ini…… Hmmm… kayaknya jauh banget kisah gue dengan si Fahri. Mungkin kalo mau disamakan, sama-sama kerenya aja kali… hehehe… namun lainnya….? Fahri, si cerdas yang hafidz qur’an, murid syekh terkenal di Mesir, syeikh Utsman ahli qiraah sab’ah, Fahri yang mandiri, yang romantis, yang tekun beribadah dan pencari ilmu sejati, Fahri yang tegar, Fahri yang dicintai…..
Dan gue….? hehehe…. bicara romantisme cinta, gue pengen mengutip sebuah puisi yang ditulis Fahri dalam buku hariannya di saat-saat masa lajangnya,
Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam cataan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku
Sekali lagi, itu tulisannya Fahri! Tapi kayaknya puisi itu gue banget! Pas dengan kehidupan gue. Entah, gue juga bingung, bisa jadi loe bakal bilang gue abnormal, karena –serius- sampai saat ini gue belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta pada seorang gadis. Aneh ya? Padahal jatuh cinta adalah perasaan yang fitrah yang tidak pernah diharamkan. Yang diharamkan adalah bila manifestasi cinta direndahkan dengan mengikuti jalan yang tak diridhoinya, layaknya pacaran, kumpul kebo, dan lainnya. Sedangkan cinta…. ah ini anugerah indah yang dikaruniakan Allah kepada segenap makhluknya… ”Lalu kemana aja loe selama ini??”
Nah itu dia, gue juga bingung… di samping gue sebaliknya bersyukur bahwa bisa jadi ketumpulan perasaan cinta gue terhadap lawan jenis adalah merupakan karunia dari Allah, sehingga gue yang labil ini tidak terjebak dalam permainan cinta yang diharamkanNya. Ya Allah Mahaadil…. diciptakanNya orang berjiwa labil kayak gue dengan tampang seadanya, karena kalo diberi tampang keren mungkin bakal berpaling dari jalanNya. Tampang pas-pasan aja kadang-kadang masih kurang ajar, apalagi kalo tampang bak selebritis. Alhamdulillah…
Dan jelas tumpulnya perasaan cinta pada lawan jenis ini bisa jadi merupakan sebuah isyarat bahwa gue mesti terlebih dahulu mendahulukan cinta-cinta yang lebih utama, yang bisa jadi telah gue lalaikan… Cinta pada Allah… Cinta pada rasulullah, cinta pada perjuangan di jalan Allah, cinta pada Ibu, pada ayah, pada keluarga…. Gue gak bilang cinta pada lawan jenis itu gak perlu…. namun Bullshitlah… bila ternyata rasa cinta kita terfokus pada lawan jenis dengan mengabaikan atau menomorduakan kecintaan yang lebih Utama. Dan semakin Bullshitlah kata cinta walaupun indah beraneka rasa bila jalan cinta itu bukan jalan yang diridhaiNya
Banyak orang yang bilang, bila keadaan loe dengan idealisme cinta seperti itu, maka loe gak bakal laku-laku…. sebagian lagi mengatakan bagaimana mungkin loe dapat jodoh tanpa pacaran, tanpa menjalin cinta sebelumnya? Gue hanya mengatakan: yuk baca novel ayat-ayat cinta seperti yang gue anjurkan sebelumnya. Simaklah jalan cinta Fahri dan Aisha, betapa indah jalinan cintanya, betapa cocok, betapa romantis, betapa sakinah mawaddah wa rahmah…. dengan catatan, sebelumnya mereka tidak pernah berpacaran! Dan gue juga banyak menemukan puluhan bahkan ratusan contoh serupa tentang betapa bahagia dan langgengnya pasangan yang menikah tanpa embel-embel pacaran sebelumnya. Sebaliknya ratusan bahkan ribuah kasus pasangan yang telah meniti titian pacaran sebelum pernikahan dengan begitu lama, setelah menikah ternyata dalam waktu sekejap ambruk hancur lebur.
Lalu dengan bagaimana jodoh didapatkan? Sederhana sekali ketika kita mempercayai takdir. Bahwa kita ini diciptakan Allah berpasang-pasangan. Allah menciptakan kita, dan Allah menciptakan bagi kita pasangan yang sesuai. Kemudian atas izin Allah juga di suatu waktu dipertemukanNya. Maka sebaik apa sang jodoh, tergantung sebaik dan setakwa apa kita. Sehingga rumusnya sederhana sekali: tingkatkan ketakwaan loe pada Allah, maka jodoh loe akan sebaik apa yang loe idamkan. Dan loe bakal terkejut, karena layaknya bidadari surga nan sucilah yang kemudian menghampiri loe!
Dan cinta….. persis seperti yang diungkapkan Fahri ketika menasehati Nurul, ”Cinta dua insan yang berbeda jenis yang sejati adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan” gue setuju dengan loe, Fahri!
Maka di suatu saat, ketika ada yang iseng nanya ”lalu bagaimana kriteria bidadari yang kelak loe pilih?” maka gue hanya menjawab, bidadari yang mau diajak ke surga! Orang Yahudi memilih wanita karena kekayaannya, orang Nasrani karena kecantikannya, orang Arab jahiliyyah karena keturunannya, namun muslim memilih wanita karena ketakwaannya…. begitu sabda Rasulullah. Kecantikan sepuluh tahun lagi pudar, kekayaan bakal musnah, namun takwa itu abadi. Gue ingin bidadari gue di dunia juga adalah bidadari gue di akhirat kelak…..
Segera kan kujemput engkau bidadari
Bila tiba waktu pertemukan aku
Ya Ilahi Robbi keras ku mencari diri sepenuh hati
Teguhkanlahku dilangkah ini
Dipencarian hakikat diri
Dan izinkan kujemput bidadari
Tuk bersama menuju Mu mengisi hari..
(Nasyid Menjemput Bidadari, Epicentrum)
TITIP SURAT BUAT AS
“….. karena sahabat sejati…..
akan selalu ada di hati………
dia selalu ada………
dan tak pernah pergi…………”
Hehehe…. rasanya baru kemarin ya…. padahal udah hampir enam taon sejak perkenalan kita yang pertama. Nggak romantis banget, dan nggak ada asiknya sama sekali. Terlalu biasa buat dijadikan kisah ke anak cucu. Kala itu di terminal sambil nunggu angkot, loe tepuk pundak gue, (untung puntung rokok yang loe isap udah dibuang. Kalo nggak habis dah seragam baru gue!) Dengan santai loe bilang ”Kita kan satu kelas?” dan dengan sok akrabnya loe memperkenalkan diri ”Panggil aja gue As’” padahal gue nggak ada nanya dan gak kepingin tahu.
”Ooo…” menurut gue kata itu udah cukup buat memuaskan loe. Sebenarnya gue udah memperhatikan gerak-gerik loe sejak hari pertama masuk, dan saat itu gue udah bisa mengambil kesimpulan loe emang rada kurang waras. Makanya gue kurang apresiatif. Tapi nyatanya… suratan takdir berkata lain. Kita akhirnya jadi sahabat se-taksi dan lambat laun menjadi sahabat se-jati….
(Entah kenapa kali ini gue kepingin nulis tentang beberapa serpihan kisah pribadi gue… bisa jadi karena iseng lagi kumat, bisa jadi karena emang gak ada ide lain, bisa jadi juga…. karena saat ini, di detik ini gue sedang rindu-rindunya dengan salah seorang sahabat gue, sahabat yang pernah menjadi salah satu belahan hati gue, sahabat yang saat ini jauh di perantauan. Sahabat yang meski telah jauh, namun jasadnya masih tetap tersimpan rapi di ruang rindu. Gue gak ada maksud apa-apa dengan tulisan ini. Gue juga bingung apakah cerita ini bisa diambil sebagai ’ibrah atau nggak. Tapi alaaahh.. biarin, gue juga gak maksa loe buat nerusin baca tulisan asal ini. )
Dan gak salah penilaian gue di awal…. loe emang gak waras! Dan itulah ternyata segi kecocokan kita. (dengan kata lain gue emang sama gak warasnya dengan elo).
As, loe ingat gak saat pertama kali kita bolos berdua. Asli, itu pengalaman pertama gue. Nggak banyak yang tahu tentang jalan rahasia itu. Celah pagar itu kecil aja, tapi pas buat tubuh ceking kita. Dan yes, kita berhasil lolos dari penjara yang berkedok sekolah itu, hehehe…. saat itu gue merasa begitu bebas lepas. Bagai burung camar yang lolos dari kandang emasnya. Pengalaman itu jadi inspirasi buat bolos-bolos selanjutnya, tidak hanya kita, tapi sohib-sohib yang lain. Tapi loe ingat gak sama si Herman? Dia kan tubuhnya gempal gitu… jelas aja gak bisa meneladani jejak kita… hihihi..
Loe masih ingat juga kan, kita dulu di sekolah terkenal paling rajin. Bayangin, saat orang lain lagi tekun belajar, kita dengan tekunnya ngebersihin lapangan basket, atau mushalla… Yup, loe dan gue biangnya telat! Kalo gak disetrap, ngebersihin lapangan atau disuruh lari keliling lapangan, itu udah jadi menu biasa. Lumayan, sekalian beramal.
Kita berdua juga kan yang dulu sering bikin masalah dengan guru. Sampai pernah sang guru ngambek gak mau ngajar lagi di kelas kita? Hmmm… inspirasinya sih dari gue, tapi pelaksana lapangannya kan elo waktu itu?!
Hahaha.. kita pokoknya emang pasangan serasi! Dan konon kita juga termasuk orang terkaya di sekolah. Gimana nggak? Tiap hari kita ganti-ganti mobil, udah gitu pakai supir segala lagi. Tapi toh kita gak sombong waktu itu…
Yang gue paling berkesan juga saat dulu waktu kita di depan studio musik nunggu giliran. Saat loe asyik ngerokok, dan gue bilang ”gue gak suka ngelihat loe ngerokok” dan loe langsung aja ngebuang rokok yang baru beberapa kali loe isap. Wuih, loe emang sahabat gue sejati…
Dan kemudian perjalanan takdir membawa kita pada suatu masa dimana kita merasa bahwa ada sesuatu pada bilik kehidupan kita yang hampa……….
Loe ingat kan saat kita berdua diculik, dibawa di suatu tempat terpencil, dimana dari situ satu terobosan cahaya perlahan merubah hidup kita….
Cahaya itu…. Perjuangan Islam! Dan kita pun mendadak menjadi pion-pionnya. Kita, si manusia-manusia tengil ternyata bisa terbakar juga oleh apinya.
Loe masih ingat kan saat kita mengajak satu persatu kawan kita untuk menghadiri pengajian-pengajian keislaman. Biar bandel-bandel kita juga mesti berdakwah, memperjuangkan Islam. Loe habiskan uang receh loe tiap minggunya untuk menelepon mereka satu per satu guna mengingatkan untuk berhadir di pengajian. Kita bikin forum pengajian rutin dengan memaksa sohib-sohib kita untuk datang. Memaksa!! Kita gak peduli, kaya miskin, cakep jelek, bandel atau pendiam, pokoknya semua yang muslim wajib ikut pengajian. Nggak jarang ada yang protes karena merasa dirinya diteror. Hehehe.. biarin, diajak ke kebaikan kok protes.
Yoi, dan kita dengan tak tahu malunya mengundang beragam penceramah dan pulangnya cuma kita bisiki di telinga beliau ”Maaf Pak, kami nggak bisa ngasih apa-apa, cuma lain kali datang lagi ya…”
Loe masih inget juga kan… saat loe sering motokopi berbagai artikel keislaman dengan uang loe sendiri kemudian membagikannya dengan gratis ke temen-temen sekelas… Gue iri As, padahal hitung-hitungan, loe lebih kere dari gue.
”Ini dakwah dan kita mesti rela berkorban untuknya” begitu yang terpatri dalam diri loe.
Dan… As, betul kata loe, dakwah itu emang mesti berkorban….
Loe juga yang dulu hampir berantem dengan kakak-kakak senior demi mempertahankan prinsip. Loe ingat kan pembangkangan kita terhadap acara pemeloncoan yang kita pikir acara yang sia-sia dan tak ada gunanya? Loe saat itu di sisi gue saat gue berteriak mengemukakan keberatan gue. Loe teriak paling kenceng mendukung pendapat gue… gak peduli sorotan sinis semua orang di situ, gak peduli tatapan tajam dari sang guru…
Atau di saat kita memboikot sebuah acara maksiat besar-besaran yang mentradisi di sekolah dan akhirnya menyetop tradisi itu untuk selamanya. Saat gue di black list dan dijadikan most wanted oleh kakak-kakak senior yang jadi panitia…………. loe ada di samping gue…
Atau di saat berikutnya, disaat kita bersikeras dengan ketidaksetujuan kita terhadap pagelaran busana di sekolah yang mengumbar aurat…… loe ada mendampingi gue…
Loe emang partner sejati As, bahkan saat gue bilang ke elo… gue tetep akan ada di jalan dakwah ini biarpun sendirian, tanpa ada yang lain… loe saat itu menepuk pundak gue, meyakinkan gue untuk meralat habis kata-kata tadi… bahwa sebenarnya gue gak sendirian… ada loe di samping gue..
As, ingat gak saat kita mengendap-endap naik ke tembok kelas meraih patung burung garuda yang lumayan gede bergantungan, kita menurunkannya kemudian mematahnya menjadi beberapa bagian. Yeah. Kita memang menentang Pancasila yang selama ini sudah hampir didewakan bahkan lebih diagungkan dibandingkan AlQur’an. Dengan puas kita keluar kelas sambil membagi dua kepingan-kepingannya. As, kepingan-kepingan itu sampai saat ini masih gue simpan. Gue harap “cendera mata” itu juga masih loe simpan baik-baik. Hahaha… gak pernah ada yang menduga kitalah pelakunya, kita sangat rapi tanpa meninggalkan alibi di tempat kejadian perkara. Hanya tiba-tiba penghuni kelas itu keesokan harinya kebingungan karena kehilangan patung garudanya. Hmmm.. kita memang pasangan pemberontak paling keren saat itu.
Atau di saat kita menjadi pelopor untuk tidak hormat bendera, bahkan mengajak banyak kawan-kawan untuk melakukan hal serupa. Bendera simbol nasionalisme, nasionalisme yang diagungkan lebih daripada ikatan aqidah. Inilah yang merusak umat! (Hahaha…. Loe yang baca mungkin banyak yang protes dengan tindakan kami, oke.. karena ini murni cerita maka kalian gak diperbolehkan protes dulu, nantilah kita diskusi tentang masalah di atas. Yang jelas gue gak sembarangan, gue punya alasan untuk tindakan gue) Gue sekali lagi, menjadi black list. Kali ini bukan oleh senior, tapi oleh para guru! Dan sekali lagi sebagai sahabat sejati loe membuktikan, loe tidak beranjak, tetap di samping gue!
Bahkan di saat kawan-kawan yang lain mulai menghindar, loe tetap ada di sini. Karena persahabatan kita melebihi ikatan darah. Persaudaraan kita disatukan oleh Aqidah, azzam dan cita-cita yang sama.
As, loe tau apa saat-saat terindah yang paling gue ingat? Saat itu, As. Saat hujan mengguyur tubuh kita, di saat banjir menggenang di pekarangan sekolah. Namun kita berdua berhujan ria keliling dari satu kelas ke kelas lain meloncati genangan air, membagikan selebaran-selebaran dakwah yang kita perbanyak dengan uang urunan kita. Gue ingat saat itu pertanyaan retoris dari loe ”Buat apa sih kita cape-cape ngelakuin ini?” dan gue cuma mengulum senyum. Saat itu gue tidak menjawab karena gue tahu loe sendiri udah tahu jawabannya. Karena kita mencari keuntungan yang lebih besar dari seisi dunia!!
Ah, terlalu banyak! Terlalu indah! Seindah apa yang pernah kita alami…. Walau ternyata kita tak bisa menolak perjalanan masa. Ada masa pertemuan ada masa perpisahan. Saat itu gue bener-bener takut kehilangan loe……..
As, terakhir ketika gue temui di saat senggang loe.. cahaya wajah loe gak seperti dulu. ”Loe telah berubah, As!!” desis gue. Loe hanya tersenyum hambar.
”Gue capek, kayaknya gue mesti berhenti” ucap loe. Gue cuma gigit jari. Lama kita terdiam. Hingga keheningan gue pecahkan “As, dalam perjalanan ada saatnya memang kita berhenti sejenak untuk melihat peta, memastikan apakah perjalanan kita udah di arah yang benar. Tapi gak boleh brenti lama-lama… loe tahu kenapa…. karena perjalanan kita terlampau panjang… As…”
dan loe hanya diam terpaku.
Yep, perjalanan terlampau panjang, dan perjalanan panjang nan sunyi ini semakin sepi tanpa loe.
Gue rindu elo, As.
Kini tanpa loe di sisi gue, gue nggak setegar dulu. Gue gak lagi segarang dulu…
Ah, seandainya suatu waktu nanti gue dihukum pancung oleh tentara kafir dan diberi permintaan terakhir. Maka permintaan terakhir gue adalah: gue ingin loe juga ada di situ sama-sama gue (walaupun loe pasti ngamuk, enak aja ngajak mati sama-sama) Karena gue pingin kita sama-sama mengisi ketegaran di dada masing-masing.
As, Gue pingin elo kembali……….
(seandainya kalian sempet ketemu As, tolong sampaikan surat ini kepadanya)
Mengenangmu…. Mencintaimu…..
Terik matahari menggelayuti kota Makkah.
Pelepah-pelepah tamar tersusun membangun sebuah salib besar. Salib, dimana disana disandarkan seorang laki-laki muda. Salib, dimana dirinya menjadi saksi bisu sebuah episode eksekusi mati, yang bahkan untuk masa jahiliyyah saat itu terlampau sangat kejam. Dimana si laki-laki meregang nyawa saat panah-panah bertancapan tanpa henti ke seluruh tubuhnya, dimana pedang-pedang beringas menyayat-nyayat dagingnya.
Di saat-saat seperti itu, salah seorang pemimpin Quraisy mendekatinya seraya berkata: ”Sukakah engkau, bila Muhammad saat ini menggantikanmu, dan engkau sehat wal’afiat bersama keluargamu?” Tenaga laki-laki itu tiba-tiba pulih kembali, dan dengan suara laksana angin kencang dia teriakkan, ”Demi Allah, tak sudi aku bersama anak isteriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedang Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri…!”
Di detik-detik sebelumnya, kalimat serupa itu pula yang diteriakkan teman seperjuangannya kepada sang pembesar Abu Sufyan bin Harb sesaat sebelum dipancung, ”bahkan di saat aku dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tak akan rela andai kata Rasulullah dicucuk duri di rumah beliau”. Kalimat yang menyebabkan sang pembesar hanya bisa berkata, ”Belum pernah kulihat seseorang yang dicintai oleh para sahabatnya seperti mereka mencintai Muhammad”
Dua laki-laki itu, Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ditsinnah…
Kita menengok ke belakang, saat perang Uhud sedang berkecamuk dengan dahsyatnya… Saat itu serangan mendadak yang dilancarkan pasukan musyrik tiba-tiba memutar balik keadaan dan mengkocar-kacirkan barisan kaum muslimin. Di saat yang genting itu seorang laki-laki menyerbu ke daerah dimana didapatinya seseorang berdiri, dan menjadi sasaran empuk serbuan musuh. Lelaki itu Talhah bin Ubaidillah. Seketika dilihatnya orang itu adalah Rasulullah, sang pujaan hati yang telah bercucuran darah, maka naik pitamlah dia, dan dengan lompatan dahsyat diayunkannya pedang ke segala penjuru.
”Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan berdiri tegak, nanti panah-panah akan mengenaimu! Biarkanlah aku yang berkorban, jangan engkau…”
Dan bagaikan satu peleton tentara, Talhah berdiri kukuh bagaikan tameng hidup melindungi buah hatinya. Dan cukuplah cerita dari Abu Bakar ini menggambarkan episode dahsyat itu,
”Itu semuanya adalah hari Thalhah….! Aku adalah orang yang mula-mula mendapatkan Nabi saw, maka berkatalah Rasul kepadaku dan Abu Ubaidah: ”tolonglah saudaramu itu… (Talhah)!” Kami lalu menengoknya, dan ternyata pada sekujur tubuhnya terdapat lebih dari tujuhpuluh luka berupa tusukan tombak, sobekan pedang dan tancapan panah, dan ternyata pula anak jarinya putus….!”
Gue cuma bisa terdiam, gue hanya berdecak kagum dalam hati. Gilee… betapa dahsyat! Setau gue gak pernah ada cerita pengorbanan seorang manusia kepada manusia lain sedahsyat pengorbanan para sahabat kepada Rasulullah. Tidak romeo kepada juliet, tidak juga leonardo di caprio kepada kekasihnya dalam pilem titanic (eh, siapa sih yang meranin tokoh wanitanya itu? gue lupa nih) Cinta yang bukan cinta gombal, kaya cinta-cinta loe… mmm, jauh jack! Namun kecintaan yang tiada tara, yang membuat para pencintanya berebut mengorbankan nyawa demi sang terkasih. Hingga seorang Tsumamah yang dulu paling membenci dirinya, berucap, ”ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada di muka bumi ini satu wajah pun yang paling aku benci melebihi wajahmu. Tapi akhirnya wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai….”
Itu belum seberapa, dan cerita di atas hanya seujung jari dari contoh kecintaan mereka, namun bolehlah buat merangkum gue sudahi dengan hadis dari Ibnu Sirin, ia berkata kepada ’Abidah, ”Aku memiliki sebagian dari rambut Nabi saw. Kami menerimanya dari Anas bin Malik dari keluarga Anas.” maka ’Abidah berkata, ”Sungguh, satu lembar rambut Nabi saw. yang ada padaku lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya” (HR alBukhari)
Lalu siapa sebenarnya sosok yang teramat dicintai itu, padahal dia pula yang mengatakan kepada orang-orang yang mencintainya ”Aku tidak mempunyai wewenang untuk memberimu manfaat atau mudharat…”
Muhammad bin Abdullah, dia hanyalah manusia biasa. Bukan malaikat, bukan tukang sulap kaya David copperfield, bukan tukang hipnotis kaya Romi Rafael, bukan mentalist kaya Deddy Corbuzier. Dia manusia biasa banget, gak beda dengan manusia lainnya, gak beda dengan gue dan elo …..Namun ke-manusiabiasaannya itu menampilkan pesona yang begitu luar biasa, menjadi cahaya yang meyakinkan segenap orang sekelilingnya untuk melebur ke dalam cahaya itu.
Dialah Muhammad, seorang pemimpin yang dalam waktu singkat berhasil menguasai seluruh jazirah arabia, namun hartanya yang paling mewah hanyalah sepasang alas kaki kuning hadiah Negus dari Abessinia. Tinggalnya di pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Kamarnya dipisahkan oleh batang pohon yang direkatkan lumpur bercampur kapur. Beliau sendiri yang menyalakan api, mengepel lantai, memerah susu, dan menjahit alas kakinya yang putus. Santapannya yang paling mewah, yang jarang dinikmatinya adalah madu, susu, dan lengan kambing. Beliau pula yang di akhir hayatnya, baju besinya masih tergadai di tempat seorang Yahudi.
Kelakuannya tenang dan tenteram. Beliau gagah berani, namun memiliki senyuman memikat, bahkan dalam hal-hal tertentu beliau lebih pemalu daripada gadis pingitan. Kemampuan intelektualnya tidak diragukan. Daya imajinasinya sangat tinggi, dan ekspresinya sangat mendalam.
Akhlak dan pergaulannya sangat luhur. Sosok ganteng yang ramah, diulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tidak dilepasnya sebelum yang dijabat melepaskannya. Beliau tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan teman-temannya yang sedang duduk. Beliau berjalan dengan penuh dinamisme, bagaikan turun dari satu dataran tinggi. Beliau menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya, berbicara perlahan dengan menggunakan dialek lawan bicaranya sambil sesekali menggigit bibirnya, menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuk ke telapak tangan kanannya.
Dia pula yang pada suatu ketika ingin memanjangkan sholatnya karena kerinduannya kepada Rabbnya, namun tiba-tiba mempersingkat shalatnya hanya karena mendengar seorang bayi sedang menangis.
Di dalam dirinya terkumpul berjuta keagungan. Seorang suami yang begitu penyayang kepada istri-istrinya. Ayah yang sangat mencintai anak-anaknya. Kakek yang menyempatkan bercanda dengan cucu-cucunya. Sahabat yang agung. Sosok guru yang disegani. Pemimpin yang berwibawa, panglima yang gagah berani, dan Kepala Negara yang begitu adil. Di luar itu beliau adalah Nabiyullah, hamba Allah yang begitu takut akan Tuhannya…
Maka di saat ini, 1400 tahun lebih sepeninggalnya, maka resapan keagungan itu sungguh masih terpancar.. Mengenang sosok bersahaja, mencintainya… Shalawat menggema, salam cinta mengangkasa… Allahumma shalli ’ala muhammad wa ’ala ali muhammad….
Dan semerbak wangilah dunia dengan dendang doa dan shalawat
Namun mendidihlah kemudian. Bergejolaklah lahar api neraka…
Ketika lantunan shalawat tergantikan dengan noda-noda penghinaan…
Ya Allah…. Manusia sehina apa yang berani mencela dan menghina rasulmu yang mulia ini…. Padahal para musuh besarnya layaknya Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sufyan saja terkagum dan jatuh hati dengan keluhuran dan kemuliaan manusia ini…
Gue terkesiap. Bukan satu dua kali penghinaan yang disematkan pada sang pujaan hati. Waktu gue kecil dulu… gue masih ingat kehebohan tragedi ”Satanic verses”. Novel karangan Salman Rushdie yang menggegerkan dunia dengan pelecehannya terhadap Rasulullah dan ayat Qur’an. Seluruh dunia islam mengecamnya, bahkan Ayatullah Khomeini menghalalkan darahnya. Tapi toh, kenyataannya, Salman Rushdie tidak pernah tersentuh, dia aman di luar negeri sana.
Nah, ternyata gak kapok juga. Kaum kafir kembali bikin ulah, berpayung istilah ’kebebasan pers’ mereka mengolok-olok sang junjungan melalui gambar-gambar karikatur rendahan. 30 September 2005 tepatnya, ketika Jyllands-Posten, surat kabar asal Denmark itu dengan angkuhnya menerbitkan 12 buah karikatur yang mengolok-olokkan sang Rasul, Muhammad SAW. Masih ingat? Ouw, kebangetan sekali kalau loe lupa! Masalahnya, walaupun kasus penistaan itu sudah terhitung basi dan kadaluwarsa dari segi tanggal, namun masalah ini belum pernah dituntaskan.
Saat gambar karikatur itu menjadi heboh, gue segera browsing gambar laknat itu ke internet. Beruntung, gue dapet, dan….. wajar bila seluruh dunia islam murka. Lebih 14 abad sepeninggal Rasulullah, kaum muslimin tidak pernah berani mengilustrasikan Rasulullah. Seberani-beraninya mereka, paling-paling hanya sebatas menggambar lingkaran yang di dalamnya bertuliskan huruf arab ’Muhammad’ (itu yang biasa gue liat di komik-komik yang gue koleksi dulu). Dan kini muncul gambar-gambar yang menunjukkan sosok Rasulullah secara langsung, dan lebih dari itu dengan gambar rendahan selevel ’shinchan’ dan dengan nada penuh ejekan. Walah, ini nantang, jack!
Gimana nggak, misalnya di salah satu gambar, diilustrasikan nabi membawa pedang dengan wajah beringas, sedangkan di kiri kanannya ada dua orang perempuan. Atau di gambar lain, wajah nabi digambarkan seperti bajak laut, dengan bulan sabit mengitari wajah dan bintang menutupi mata kanan beliau. Dan yang lebih dahsyat, dalam satu gambar nabi digambarkan memakai sorban hitam yang di atasnya terdapat bom yang siap meledak. Di bom tersebut tertera kaligrafi laa ilaha illallah muhammadurr rasululullah…
Maka sangat wajar bila hati seluruh kaum muslimin meledak! kaum muslimin turun ke jalan, boikot, gedung Kedubes Denmark dan Norwegia di Suriah dan Libanon dibakar, negara-negara TimTeng menutup kedutaan. Tapi toh, sang penjahat tetap tak bergeming!
“Minta maaf untuk apa?” begitu malah ucap Editor Jyllands Posten, Flemming Rose saat didesak untuk meminta maaf. Betul-betul bikin gemes! Dan mereka, sampai sekarang tetap menolak meminta maaf atas pemuatan karikatur tersebut. Permintaan maaf mereka saat itu cuma karena telah menimbulkan perasaan tidak enak kaum Muslim. Hanya itu?!!
Dan karikatur itu, parahnya malah dicetak ulang di berbagai surat kabar Eropa. Di Perancis oleh Harian France Soir dan majalah Charlie Hebdo. Di Norwegia oleh majalah Kristen Norwegia, Magazinet. Di Selandia Baru oleh Wellington’s Dominion Post dan Christchurch’s The Press. Di Australia, The Courier Mail, koran terbesar di negara bagian Queensland, juga memuat ulang kartun-kartun tersebut di edisi akhir pekannya.
Dan belum sempat kaum muslimin bernafas damai, setahun kemudian muncul lagi kasus serupa dari tanah yang sama. Kembali ‘anak-anak’ Denmark bikin ulah dengan perlombaan karikatur. Kali ini yang mengadakan adalah anggota muda Partai Rakyat Denmark (Denmark People Party). Kembali, seperti sebelumnya tak satupun tindakan dari Pemerintah Denmark. Bedebah!
Dan bisa jadi dua kasus di atas hanyalah kasus yang mewakili berbagai penghinaan lainnya. Di dunia maya lebih mengerikan lagi. Cobalah browsing di internet, pakai google saja… maka kita akan mendapatkan berbagai gambar pengolok-olokan terhadap Nabi Muhammad, mulai dari menjadikan wajah –yang diklaim sebagai gambar beliau- sebagai gambar iklan rokok, iklan viagra, penggambarannya sedang memandikan babi, gambar di tissue toilet, dan…. Sori, gue terlalu sangat geram untuk menuliskan lanjutan contohnya di sini
Bertubi-tubi? bahkan kemudian kaum muslimin hanya bisa melongo ketika Paus Benedictus XVI, yang notabene pemimpin umat Katolik sedunia, seenaknya mencaci maki Rasulullah dan ajarannya.
Jadi tentunya penghinaan-penghinaan ini akan terus berlanjut. Dan kita sekali lagi hanya bisa mengutuk dan memboikot. Hanya itu….. padahal mereka di balik gedung-gedung pencakar langitnya sedang tertawa terkekeh-kekeh melihat begitu tidak berdayanya umat Islam……
Kemana perginya Talhah bin Ubaidillah??!
Kemana Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ditsinnah??!
Kemana Ksatria-Ksatria pembela Rasulullah?!!!!