THE LAST JOMBLO (BEHIND THE SCENE)
Setting beralih ke sebuah pelataran masjid. Angin sepoi ringan namun terkesan menusuk. Pelita matahari hangat merembes ke pilar-pilar pelatar.
“Gue kecewa, bro….” wajah gue sengaja dibikin memelas. Tangan menopang dagu, mata nanar menatap kosong.
Si ‘bro’ hanya tersenyum tipis. Tak ada reaksi berarti.
“Loe tahu kan gue kemaren bela-belain nulis ‘the last jomblo’ unek-unek gue tentang pacaran…. maksiat yang begitu lestari….”
“Yep… terus emangnya kenapa?” ‘bro’ balik tanya…
“Nah, itu dia. Hati gue perih teriris-iris. Kelopak mata gue sembab menahan air mata. Gue kecewa berat, bro! Gue emang gak berharap banyak dari selebaran kucel butut yang huruf-hurufnya aja gak kebaca jelas itu. Tapi paling nggak gue pengen ada ketersinggungan yang jelas dari orang-orang yang nyempetin membacanya. Gue berharap ada yang sampai merobek-robek selebaran itu, sampai menginjaknya, meludahinya, atau malah membakarnya sebagai manifestasi rasa tersinggung. Tapi apa yang gue lihat? Hanya tatapan dingin, senyum-senyum kecil, atau cuma membaca sekilas terus menaruhnya sembarangan atau cuma melipatnya, dan menyimpannya diantara tumpukan kertas-kertas bekas untuk kemudian dilupakan…. dicampakkan”
“Hahahaha…..” tawa itu, gue sama sekali nggak lagi ngelucu. Dasar loe bro! Ternyata loe sama aja dengan mereka. Pahit!
“Sori, gue nggak lagi nyepelein loe dan selebaran butut loe yang apa itu… terbitnya aja kalo lagi pengen, nggak jelas isinya, tata bahasanya kacau, dicetak di tempat potokopian murahan… Oke… paling nggak gue mesti ngasih loe applause untuk kerja keras loe…. Tapi loe mesti nyadar kalo loe itu sangat naif. Loe mengharap dengan selebaran itu loe bisa ngubah seseorang, loe bisa nyadarin dia. Aaakhh… siapa sih loe? Sehebat apa sih loe?”
Hening. Suara jantung beradu dengan desir waktu. Gue tatap selebaran butut di tangan gue yang kebetulan masih tersisa, dari bekas-bekas yang sempat gue pungut.
Gue tarik nafas panjang.
”Yep, bro. Loe emang bener dalam hal itu. Gue naif, ya gue terima… selebaran butut itu emang bukan media yang representatif dan layak untuk diharapkan merubah dan menyadarkan kembali seseorang ke islam. Jauuhh… tapi yang gue permasalahkan adalah betapa hati-hati sudah begitu tertutup, sehingga ketika mendengarkan kebenaran, celah-celah dalam hati mereka tidak ada yang mampu terbuka….. Beda banget ketika gue bandingin dengan perilaku para sahabat dan tabi’in yang gue baca dalam sirah, ketika mereka diperintah untuk suatu kebaikan atau dilarang dari suatu kemunkaran, maka mereka bersegera dan berlomba untuk melaksanakannya. Suatu ketika turun ayat tentang haramnya minuman keras, maka seketika para sahabat membuang minuman-minuman keras yang ada di tangannya.. Madinah banjir dengan minuman keras…. tiada pembangkangan atau pikir-pikir dulu. Ketika diturunkan ayat tentang wajibnya memakai jilbab, maka para wanita di Madinah segera mencari apapun yang bisa digunakan untuk menutupi aurat mereka… Sekali lagi nggak ada yang namanya ragu, atau alasan nunggu datangnya hidayah dulu. Ah, gue merindukan zaman itu… dimana amal adalah kompetisi, iman mengakar, dan ketaatan adalah segalanya. Dan era inilah sebenarnya sebuah kenaifan sejati, dimana kemunkaran meraja, ketaatan hanya terhimpit di kolong-kolong mushalla”
”Oke… oke… bolehlaaaah… trus mau loe apa? Loe nulis kemarin tentang pacaran, jadi pengen loe yang baca selebaran loe itu sadar, terus tobat, mutusin pacarnya. Alaaahh, loe pikir sesederhana itu?”
”Pinter. Loe kok tahu cita-cita gue? Dasar paranormal loe, bro. Gue yakin bahwa semua orang itu pada dasarnya tahu tentang hukum haramnya pacaran. Setahu gue ulama-ulama sepakat tentang haramnya aktivitas maksiat itu… Jadi nggak ada sama sekali dalil yang bisa digunakan untuk mengatakan kalo pacaran itu mubah, makruh, apalagi sunnah dan wajib. Jadi sebenarnya apa sih yang menghalangi mereka untuk nyadar? Manusia itu pada dasarnya cenderung pada fitrah, cenderung kepada kebenaran. Nah, masalahnya adalah di bisikan syaitan. Syaitan emang selalu berusaha menyesatkan manusia… dengan berbagai cara, membikin rasa manis di maksiat, dan kepahitan dalam taat. Maksiat semacam pacaran sengaja dikasih bumbu oleh syetan dengan bumbu-bumbu penyedap, dihias dengan aneka pesona pembangkit citarasa. Hingga tergiurlah mata yang memandang, terkecap manislah lidah yang mencicip. Namun ketika telah tiba di lambung, menjelmalah jutaan racun, dan binasalah….. Pendek kata, hanya orang begolah yang mau makan racun, hanya orang bego yang begitu mudah dikibuli oleh syetan.
Dan satu hal bro, dalam ajaran islam yang kita yakini (kecuali loe nggak yakin… ya udah.. ke laut aja sana…) gak ada diskriminasi terhadap perintah dan larangan Allah. Wajibnya shalat lima waktu sama wajibnya dengan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Sama halnya… haramnya daging babi nggak ada bedanya dengan haramnya pacaran….. Jadi pacaran sama aja dengan babi!!! sama dari segi keharamannya, dan dari segi kita harus menjauhinya… kenajisannya. Sehingga ayat wa aqimis shalat, yang menyuruh kita untuk mendirikan shalat statusnya sama halnya dengan ayat walaa taqrabuz zinaa yang memerintahkan kita menjauhi segala pintu ke arah zina.”
”Biar gue tegasin lagi, jadi loe berharap orang-orang yang baca tulisan loe kemarin mutusin pacarnya… gitu? Naahh ini dia yang gua gak suka dari loe. Loe itu gak punya perasaan sama sekali. Tegaan banget. Loe gak tahu sih gimana rasanya cinta. Dasar makhluk gak perasa!” wajah ’bro memerah.
”Bahkan, gue adalah orang yang paling berbahagia bila melihat ada seseorang mutusin pacarnya… karena dengan itu, paling nggak dia telah menutup satu pintu yang akan membawanya ke jilatan neraka. Biarin sampai nangis-nangis segala…. dasar cengeng! Bahkan tangis patah hatinya itu juga gak lepas dari bisikan syaitan yang selalu memanas-manasi untuk maksiat.
Namun sesungguhnya gue lebih bahagia lagi bila melihat mereka memilih memutuskan hubungan pacaran dan merajut hubungan yang sah yaitu pernikahan… karena nikah adalah sunnah, nikah adalah salah satu pintu surga…. Jadi kalo memang gak tega mutusin, kalo emang ’manusia sejati’ seharusnya mereka memilih jalan yang halal, yaitu nikah.
Dan tentang guenya yang dituduh gak paham cinta, tegaan, gak perasa… Oke… gue terima kritikan loe… gue itu pada dasarnya suka kritik, apalagi kritik singkong.. alaaah ngaco aja. Maksud gue kalo kritik itu berdasar, gue terima dan gue akan introspeksi. Tapi masalahnya siapa sih sebenarnya yang tegaan, gak paham cinta, dan gak perasa? Setahu gue cinta itu adalah perasaan yang diciptakan Allah yang ditanamkan untuk memperelok perasaan manusia. Nah cinta sejati harusnya nurut pada kehendak dari sang Pencipta. Pada kasus pacaran layakkah itu disebut sebagai cinta sejati? Heh, boro-boro! Jadi siapa sebenernya yang gak paham cinta? Terus masalah tegaan dan gak perasa…. gue rasa predikat ini tepat banget disandang bagi orang-orang fundamentalis pacaran. Mereka itu sudah hilang urat akar perasaannya, sehingga dengan pedenya terang-terangan menentang aturan Allah…. Maafkan gue, karena gue rada kasar bicaranya. Tapi mau gimana lagi? Ketika kita bilangin dengan cara yang halus, mereka malah enjoy-enjoy tak bergeming. Mending gue blak-blakan…”
”Alaaaahhh.. dasar elonya aja yang ekstrimis… radikal loe!!”
”Lho…? siapa sebenarnya yang ekstrimis dan radikal? Gue atau mereka yang pacaran. Oke, gue udah sering bilang, gue emang bukan orang yang sepenuhnya baik, alim, dan bertaqwa… gue nyadar kalo gue masih jauh dari status itu… tapi paling nggak gue berusaha ke arah sana… karena gue percaya bahwa Allah itu Tuhan gue, Allah yang nyiptain gue sekaligus Allah telah membuatkan seperangkat peraturan buat jadi pedoman hidup gue. Allah mencipakan surga bagi yang mengikuti perintahNya, dan menciptakan neraka bagi yang mendurhakaiNya. Gue adalah manusia biasa, gue demen sama surga-Nya yang manifestasi keridhaanNya dan gue ogah masuk neraka, tempat orang-orang yang dimurkaiNya. Jadi apa salah kalo gue berusaha eksis di jalan yang diridhai-Nya? Dan sesungguhnya hanya orang-orang yang radikal dan ekstrim yang dengan pongah menganggap sepi kemurkaan Allah. Malah dengan bangga dengan kemaksiatannya…”
“Yaa… terserah loe lah….!” si bro mendengus kesal.
“Hehehe… terserah gue? Kenapa dikembaliin ke gue? Seharusnya terserah mereka yang pacaran dong! Pilihan itu udah jelas, apa masih mau tetap bermaksiat dengan konsekuensi neraka ditanggung dia sendiri, atau memilih menuju keridhaanNya..
Dan, bro…. gue tegasin sekali lagi kalo gue gak berharap banyak bisa merubah seseorang dengan selebaran butut ini. Tapi gue hanya takut jangan-jangan gue juga termasuk ke dalam golongan yang dimurkai Allah, bila gue hanya diam saat melihat kemunkaran. Gue takut nanti di hari pembalasan Allah menanyai orang-orang yang berpacaran, kenapa mereka berpacaran? Dan mereka menjawab karena gue….. Iya, karena gue nggak mengingatkannya… jangan-jangan malah gue yang dilemparkan ke neraka gara-gara itu…”
Si Bro hanya terdiam. Kayaknya dia udah malas melayani pembicaraan gue… semalas gue juga untuk berlama-lama melayani dia.
”Terakhir, gue nggak peduli gara-gara ini gue jadi dimusuhin orang, gue dijauhin. Gue juga nggak peduli selebaran tulisan gue nggak dibaca lagi, nggak laku lagi… lagian gue nggak pernah jualan selebaran juga kok, jadi gak pa pa biar gak laku….”
Selebaran yang udah kumel tadi gue lipat dan gue press biar bisa masuk ke kantong celana gue… Gue tarik nafas panjang, seraya bersiap beranjak.
Langit masih sebiru semula. Cahaya matahari tetap sayu. Klakson motor berdendang seirama sepoi basah angin yang membawa harum debu aspal. Seiring tapak sepatu butut yang menoreh jejak, menjauh dari pelatar masjid.
”Ya Allah, jadikanlah selebaran butut ini menjadi saksi di akhirat kelak, dan jadikanlah ia pemberat timbangan amal hambamu yang hina ini…. ” desis gue, akhirnya.
THE LAST JOMBLO
“Ngomong-ngomong kenapa sih, sampai sekarang loe masih tetep ngejomblo?” suatu ketika ada temen yang iseng nanya gitu.
Gue diem aja. Gue memang lagi males ngeladenin tu anak. Mending nerusin ngirup teh es manis… sluurrrpp..
“Gue tau… bilang aja loe emang gak laku-laku… alaahh.. dasar muna loe’’
Bletak ! gak bisa didiemin ni anak. Lama-lama ngelunjak. Oke….
“Yup, loe bener. Gue emang gak laku-laku. Dan karena itu gue malah bersukur berat. Karena kalo gue laku, berarti gue nggak ubahnya bagaikan barang. Sori, gue gak pernah menjual diri tuh. Wassalam”
tuutt…. tuutt… percakapan berakhir.
Hmm… bicara tentang makbulnya sebuah do’a. Gue jadi inget cerita bunda gue tercinta. Konon doa seorang Bunda kepada Allah terkenal sangat makbul. Allah begitu mendengarkannya. Apalagi kalo doa itu tulus untuk kebaikan anaknya. Trus gimana kalo doa itu yang buruk-buruk ? yah sama ajja. Inget kan cerita Malin Kundang yang bermetamorfosis menjadi batu, walau itu cerita fiktif. Namun ada terkenal di zaman sahabat cerita beneran tentang mujarabnya doa seorang ibunda yang menyebabkan keburukan bagi anaknya. Pasti pernah denger tentang alQomah yang tersiksa dalam sakaratulmautnya kan?
Nah, katanya sih bunda gue dulu pernah doa yang kurang lebihnya kayak gini ”Ya Allah, hamba gak pengen anak-anak hamba cakep-cakep, namun sebagai gantinya jadikan anak hamba pinter-pinter ”
Dan, kayaknya doa itu terkabul. Kami bertiga bersaudara tampangnya apa adanya semua, pas-pasan semuanya (masih mending berujud manusia). Keliatannya gak ada yang mewarisi bunda gue, padahal konon dulunya bunda adalah kembang kota (soalnya tinggalnya kan di kota, jadi bukan kembang desa) itu doa bagian pertama, dan alhamdulillah Allah pun mengabulkan bagian yang keduanya. Paling nggak kami bertiga gak bodo-bodo amat dan semuanya bisa sekolah tinggi, padahal bunda cuma tamatan eSeMPe tsanawiyah.
Bagian kedua, adalah sebuah kebaikan yang sangat gue syukuri. Dan untuk bagian pertama… nggak! Gue sama sekali gak menganggap itu sebuah keburukan, apalagi menyesalinya, sembari protes, ’coba dulu bunda doa supaya anaknya cakep juga’. Nggak pernah. Gue merasa dua-duanya adalah anugerah yang luar biasa.
Dan Allah memang Mahaadil. Kalo gue diciptakannya cakep, belum tentu gue bisa jaga diri… bisa aja gue nantinya memanfaatkan kecakepan untuk bercebur di lembah kemaksiatan. Mungkin gue juga gak bisa menahan rasa sombong. Kalo sekarang apa yang bisa disombongin coba? Hehehe.. ke laut aje loe
Dan kembali masalah doa, jangan pernah menyepelekan juga doa spontan dari seorang anak ingusan. Buktinya gue. Seingat gue, dulu waktu eSeMPe gue pernah spontan berdoa kayak gini ”Ya Allah, jadikanlah hamba gak dapet pacar”! Dan kembali terbukti, doa itu benar-benar makbul!!
Dan terlahirlah ke hamparan dunia… ’the Jomblo’…
”Huh, jadi jomblo aja bangganya bukan main..”
Iya dong! Jadi jomblo adalah anugerah yang begitu indah. Jomblo adalah pilihan akal sehat. Jomblo itu keren jack!
Betapa nggak, lihatlah betapa merananya orang-orang yang gak jomblo. Berapa banyak alokasi dana yang tersita buat pacaran, berapa waktu yang terbuang buat jalan-jalan, sms-an, telpon-telponan, ngejemput sang pacar, ngantar balik. Trus betapa sengsaranya hidup dalam kepura-puraan, pura-pura bertingkah manis, jambu-jambuan, bertingkah perfect…. Sementara lihatlah seorang jomblo… dia melenggang tenang dengan senyuman lepas dan bahagia… layaknya burung camar yang mengepakkan sayapnya mengitari cakrawala.
”Cukup… cukup…. loe bicara kayak gitu kan karena emang gak ada yang kepengen sama loe… coba ada yang naksir, pasti loe juga gak bisa nahan. Sekali lagi… jangan munafik..!”
Wakakakakakak.. loe bener, emang gak ada yang naksir… emangnya kenapa? Malah bagus lagi…. Dan itu dia, benteng yang membuat gue bisa bertahan gak pacaran kayak gini memang begitu kokoh dan berlapis-lapis. Pertama, gue sedikit punya temen cewek… jadi kesempatan dekat juga minim, nah kalo pun ada temen cewek mereka juga gak bakalan ada yang naksir. Kalo pun suatu ketika ada yang naksir, guenya yang gak mau. Nah, walaupun andaikan nih gue tergoda buat pacaran, pasti gue juga gak punya waktu buat melanggengkan pacaran itu, wong sekarang aja gue kebingungan bagi waktunya…. udah kuliah, banyak tugas, organisasi, nyediain waktu juga buat nulis selebaran butut ini, belum lagi kalo tiba-tiba ada undangan selamatan di kampung, kan rugi tuh kalo gak didatangin… kebayang kan betapa sibuknya gue. Dan biar kate ada waktu pun, gue pasti juga gak berani pacaran. Karna gue punya banyak temen yang bakal ngingetin gue… Cerita dikit nih, gue waktu kelas dua eSeMA, pernah bikin pernyataan spektakuler di kelas, gue bilang ke semua temen sekelas, ’gue nggak akan pacaran’. Dan spontan temen-temen pada bilang ”Awas, kalo gue liat loe pacaran!”. Nah, jadi gue gak akan merasa aman.
Dan walaupun gue bisa sembunyi-sembunyi tanpa ketahuan, gue ternyata harus menerima kenyataan….. bahwa dimanapun gue, di kolong meja, di dalam kantong celana, atau di kerak bumi…. tetap ada Dzat Yang Maha Menatap…. Allah SWT. Dan inilah benteng terakhir yang terkuat dan gak bisa digoyahkan!
”Lho, emangnya kenapa kalo Allah tau loe pacaran?”
Lha…. loe itu primitif banget sih? Masa nggak tau kalo pacaran itu haram…
”Ha… maksudnya….”
Haram… haram, haram, haram, haram, haram, haram….HARAM. perlu gue tulis sampai akhir halaman??
Dalam AlIsra 32, Allah menegaskan janganlah kamu mendekati zina, dalam AnNur ayat 30-31 Allah memerintahkan kita untuk menjaga pandangan. Dalam AlHadits Allah melarang pria wanita bukan muhrim berdua-duaan, dilarang interaksi laki perempuan di tempat-tempat pribadi, seperti di kos kalo tidak ada muhrim, jalan-jalan berduaan naik motor atau mobil pribadi.
Nah, pertanyaannya yang namanya pacaran itu kan jelas gak mungkin gak ada aktivitas semacam itu, jalan berdua, saling memandang…. dan biasanya selalu meningkat intensitasnya, awalnya cuma pegang-pegangan tangan, trus meningkat jadi cipika cipiki, trus lip ketemu lip dan seterusnya…. Ouwww! Pokoknya abang mesti tanggung jawab! Gugurkan saja kandungan loe itu!!
”Aaahh.. loe generalisir, yang penting kan kita bisa menjaga diri..”
Bersyukurlah yang bisa menjaga diri, namun mana ada orang pacaran bisa menjaga diri. Minimal untuk tidak menatap atau pegang-pegangan tangan. Lagian tidak ada jaminan seseorang bisa bertahan. Sealim apapun dia, ketika nafsu sudah membuncah…. nggak pilih kasih. Wajar, karena syaitan selalu ada di pihak ketiga dari sepasang laki perempuan yang berdua-duaan.
”Aaahhh.. udahlah. Kayaknya loe itu sensi banget sama yang namanya pacaran. Padahal kan pacaran cuma salah satu yang diharamkan. Masih banyak yang lain.”
Seratus! Loe bener. Pacaran hanya satu jenis kemaksiatan. Tapi jangan pernah menganggap remeh satu kemaksiatan, bung! Gue melihat pacaran adalah gerbang menuju kemaksiaan-kemaksiatan yang lain. Logikanya gini, ketika seseorang pacaran, maka seseungguhnya dia sedang melakukan kemaksiatan yang terang-terangan. Nah, terang-terangan aja dia berani, apalagi yang sembunyi-sembunyi seperti melalaikan shalat, puasa, berdusta, dan lainnya. Dan percayalah, ketika seseorang masuk dalam pintu gerbang ini, maka akan terbuka lebar pintu-pintu kemaksiatan yang lainnya, dan akan banyak tertutup baginya pintu-pintu kebaikan. Orang yang aktif dulunya mengemban dakwah akan meninggalkan dakwah karena pacaran, yang aktif ngaji bakal ogah ngaji lagi… percaya deh. Makanya tutup sejak awal kesempatan itu.
”Sebentar, sebentar. Kalo loe gak pacaran, gimana caranya loe bisa dapet jodoh”
Aaaah. Jodoh?? Klise banget. Emangnya kebanyakan yang pacaran itu buat nyari jodoh. Banyak yang bilang ke gue kalo pacaran itu buat having fun aja, mereka gak berpikir untuk meneruskan ke taraf yang lebih serius. Nah, walaupun ada yang buat nyari jodoh…. berarti kelihatannya dia ragu terhadap Allah. Bukankah Allah bilang kalo jodoh itu sudah ditentukan oleh Allah. Artinya pacaran gak pacaran, jodoh kita sudah ada ditetapkan. Tinggal bagaimana mendapatkan jodoh yang baik. Nah, masalah ini, Allah pun menegaskan dalam firmanNya bahwa laki-laki yang baik akan berjodoh dengan wanita yang baik, wanita yang buruk buat laki-laki yang buruk. Jadi teknik terbaik mendapatkan jodoh yang terbaik adalah dengan senantiasa memperbaiki diri, mempertebal ketakwaan, dan kita menjemputnya dari tangan Allah dengan senyuman merekah sang bidadari. Lagian gue percaya bahwa satu-satunya ikatan laki perempuan yang dibolehkan adalah khitbah dan nikah. Selain itu, No way!
”Oke, oke… tapi kayaknya sulit banget deh…”
Yep, itu perasaan yang dibangun oleh bisikan syaitan. Emang sih rada sulit, karena katanya survey menunjukkan 98% remaja itu berpacaran. 2% yang tidak terbagi lagi menjadi yang tidak laku, dan yang emang keukeuh nggak mau. Tapi Alhamdulillah, senengnya gue pernah denger kalo Allah mengatakan janganlah kamu mengikuti orang kebanyakan, karena kebanyakan orang masuk neraka hehehe… Yo i, gue gak peduli. Bahkan jika suatu saat nanti, semua orang di dunia ini berpacaran semuanya, maka biarkanlah gue menjadi orang yang terakhir yang gak berpacaran. The last jomblo…
Biarin….
Catatan :
- Gue yakin, tulisan ini bakal menuai kontroversi. Bakal banyak yang marah dan benci ke gue, selebaran butut ini bakal dirobek-robek, diludahin, atau diinjak-injak. Ya… biarin, nggak pa pa. Gue cuma bisa berdendang kayak bunyi kasidah dangdut lawas… ’Biarkan orang benci… Asalkan Tuhan sayang……jreng.. jreng jreng…’
- Kata-kata the last Jomblo sebenarnya gak tepat. Karena gue gak akan betah sendiri. Kalo udah waktunya lebih baik gue nikah… Halalan thayyiban…
SAAT KEJUJURAN DITERTAWAKAN
Sebenarnya tulisan ini udah lama ingin gue buat. Cuma karena banyaknya kesibukan sehingga nggak kesampaian terus buat nulisnya. Lagipula saat itu gue dalam keadaan emosi. Gue pikir kurang baik menuangkan suatu pemikiran dalam keadaan emosi.
Kolega Save us, saat gue menulis ini nggak ada kepikiran buat menyombongkan diri dengan berkata gue nih orang jujur, dan elo nggak jujur. Nggak ada! Sejujur-jujurnya gue bilang gue masih jauh dari predikat orang jujur. Kadangkala sebagai manusia gue juga sering khilaf. Tapi yang jelas, gue percaya kalo jujur itu adalah suatu kebenaran. Dan kebenaran musti ditegakkan dan diperjuangkan. Gimanapun, nggak peduli elo dibenci dan dimusuhi, atau bahkan dibunuh. Karena gue percaya mati dalam kebenaran jauh lebih baik daripada hidup aman dalam kemunafikan. Ah, jadi kebanyakan ngelanturnya, jadi malah lupa apa yang pengen ditulis tadi….
Kolega Save us, pernahkah kalian nyontek saat ujian? Gue pernah, dulu, saat gue masih belum begitu paham akan islam. Tapi kini insya Allah nggak lagi. Hey, kenapa pandangan kalian jadi berubah kayak gitu! Kalian nggak percaya, atau kalian nganggap tidak menyontek adalah suatu hal yang aneh? Maka bila kalian berpikir demikian, maka sungguh kalianlah yang aneh.
Trus pernahkah kalian menyontekkan hasil jawaban kalian ke orang lain? Kembali sorotan mata tajam terarah ke gue. Mata sinis itu, dan cemoohan itu. Yep, karena itulah gue jadi bela-belain menuliskan tulisan ini.
Kolega Save us, gue selalu aja menghindar kalo saat ujian ada temen yang nanya atau minta dicontekin. Gue selalu pura-pura cuek, atau cari-cari alasan yang pada intinya menolak memberikan contekan. Agak risih memang dan rasanya emang nggak enak menolak permohonan teman. Hingga akhirnya suatu ketika pada saat ujian, seorang teman mencak-mencak, karena gue nggak mau mencontekin jawaban ujian gue. Saat itu, asli, perasaan gue nggak menentu. Gue tumpahkan kekesalan gue ke teman-teman yang lain. Gue bilang gue tetap pada pendirian gue, gimanapun gue ingin berpegang teguh pada prinsip, bahkan gue bilang gue berani mati demi prinsip tersebut. Nggak nyangka, respons dari teman gue malah ngetawain pendapat gue, padahal gue saat itu betul-betul serius. Asli, hati gue saat itu terluka dan dangan majas hiperbola gue katakan hati gue remuk berkeping-keping. Bukan! Bukan karena guenya yang ditertawakan. Gue sakit hati karena mereka mentertawakan kejujuran! Mentertawakan kebenaran!!
Kolega Save us, Allah memerintahkan kita berbuat jujur. Banyak ayat AlQur’an dan hadits yang menunjukkan demikian. bahkan dalam suatu hadits, Rasululullah mengatakan bahwa salah satu ciri orang munafik adalah berdusta. Nggak hanya itu, Allah juga mengharamkan perbuatan curang. Karena itu musti kita pahami bahwa ketika kita berbuat jujur, semata-mata karena itu adalah perintah Allah, bukan karena adanya standar manfaat dari kejujuran tersebut. Sepakat?!
Selain itu Allah juga memerintahkan kita tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan melarang kita tolong-menolong dalam berbuat keburukan. Firman Allah:
“Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam keburukan dan dosa” (QS AlMaidah:2)
Dari ayat di atas jelas, bila itu perbuatan keburukan baik yang menolong maupun yang ditolong memiliki status yang sama, sama-sama berdosa.
Makanya gue berprinsip mencontekkan orang lain sama dosanya dengan mencontek itu sendiri. Bahkan bisa jadi memberi contekan dosanya lebih besar. Karena dengan memberi contekan, kita telah memberi kesempatan orang lain untuk berbuat dosa.
“Ah, berlebihan loe. Contek-mencontek aja dibikin masalah. Gue rasa perbuatan itu wajar-wajar aja. Loe sendiri juga pasti pernah mencontek!!” mungkin ada diantara kalian yang berpikiran kayak gitu.
Kolega, gue rasa penuturan gue nggak berlebihan. Mencontek gue rasa adalah suatu masalah yang nggak bisa dianggap sepele. Ketika guru atau dosen telah memberikan ujian dan mengakadkan tidak boleh mencontek, buka buku dan lainnya, maka apabila kita mencontek maka kita jelas telah berbuat tidak jujur dan telah curang. Beda halnya bila akad awalnya memang diperbolehkan mencontek. Sehingga dalam hal ini haramnya mencontek sama aja status haramnya dengan daging babi, haramnya berzina, atau haramnya membunuh. Karena dalam islam nggak dikenal istilah sedikit haram, agak haram, atau sangat haram. Pokoknya kalau Allah telah melarang sesuatu, nggak ada alasan buat kita memilih-milihnya atau membuat skala prioritasnya. Jadi sekali lagi sama sekali nggak berlebihan!
Trus yang bilang contek mencontek adalah wajar-wajar aja…, maka inilah jawaban gue: Apakah hanya karena banyak orang yang melakukan, dan itu sudah jadi tradisi, maka kita dengan seenaknya menganggap itu sebagai hal yang wajar. Trus seandainya suatu ketika zina menjadi tradisi, maka dengan entengnya kita juga bakal menyebutnya sebagai sesuatu yang wajar. Apakah karena banyak orang yang melakukan maka itu menjadi legitimasi terhadap kebenaran perbuatan tersebut. Nggak sobat, perbuatan yang haram nggak boleh dianggap wajar. Adalah kurang ajar bila kita memberikan predikat wajar pada sesuatu larangan Allah.
Kemudian tentang gue sendiri pasti pernah mencontek…. Bukankah diawal-awal sudah saya tegaskan: iya, gue pernah mencontek. Tapi gue berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak lagi mencontek atau mencontekkan. Lagipula, apa jika gue juga seorang pencontek maka status hukum mencontek akan berubah, atau apakah itu akan jadi legitimasi bagi loe buat mencontek juga. Betapa naifnya elo bila begitu….
“Sebentar… sebentar… perbuatan tidak jujur kan tidak hanya mencontek…. Nah, gue juga pernah ngeliat elo misalnya berdusta, atau berbuat curang….”
Yup, seratus buat loe! nggak cuma masalah contek-mencontek. Tapi gue pengen aja nulis panjang lebar tentang masalah itu. Mengenai gue, di awal-awal gue kan udah bilang (aduuuh! Baca lagi dah mulai awal) kalo gue masih jauh dari predikat sebagai orang jujur. Kadang gue juga khilaf, misalnya berbohong dan lain sebagainya. Cuma gue yakin akan kebenaran, kalo gue tidak jujur Allah benci ama gue, dan gue bakal disiksa ntar di akhirat dan kalo gue jujur Allah bakal ridla ama gue. Jadi sedapat mungkin gue belajar jadi orang jujur. Dan gue rasa nggak salah kalo dalam keadaan yang masih jauh dari kesempurnaan ini, gue mengajak orang lain untuk berbuat jujur. Terus terang gue kurang sependapat dengan pernyataan yang bilang jangan mendakwahi orang kalo elo sendiri belum sempurna. Lihat diri loe dulu dong! Nah, kalo semua orang berpikir kayak gitu maka risalah islam ini hanya sampai di segelintir orang seperti sahabat-sahabat Rasul aja. Soalnya semua orang merasa dirinya tidak sempurna dan tidak pantas untuk berdakwah.
Kalo makai perasaan emang sulit. Terkadang kita berada dalam kondisi kepepet. Kalo nggak mencontek bisa-bisa nilai kita hancur dan nggak lulus. Trus misalnya kalo tidak memberi contekan kita bakal dimusuhi, nggak enak sama teman, dibilang sombong atau mau pinter sendiri, atau macem-macem. Ya..itu tadi, seperti kasus yang gue ceritain di awal, teman gue yang nggak gue contekin mencak-mencak (Padahal sebenarnya kalo dia tahu, gue sendiri saat itu dalam keadaan ‘blank’ hanya sedikit yang bisa gue jawab, sisanya kosong atau kalo terisipun jawabannya asal). Tapi percayalah sobat, semua hal diatas: nilai hancur, nggak lulus, dibilang sombong, dimusuhi… nggak ada artinya bila dibandingkan dengan murka Allah bila kita berbuat sesuatu yang dilarang-Nya. Terlalu tidak berharga apabila kita menjual keyakinan kita hanya untuk seonggok kenikmatan dunia yang sesaat.
Kolega Save us. Gue nggak terlalu berharap loe –dengan selembar kertas lecek potokopian buram ini- bakal berubah. Gue juga nggak peduli apakah sehabis loe baca tulisan ini loe nyumpah-nyumpah, ngetawain gue, merobek kertas ini, atau membuangnya ke tempat sampah, dijadikan coret-coretan, pesawat-pesawatan, atau malah dijadikan kertas kerpean buat ujian. Gue nggak peduli! Gue ikhlas kok. Yang jelas sekarang gue telah punya jawaban bila kelak di akhirat Allah menyidang gue “Ya Allah saksikanlah, hamba-Mu yang hina ini telah menyampaikan”.
RELOAD
Prolog:
Lama gue ngelamun seraya dua bola mata melototin monitor. Lembar kerja Ms Word yang masih kosong….. nulis nggak.. nulis nggak…. Terbitin lagi nggak ya…. Dari sudut seberang sana seolah terdengar suara ejekan. ‘Ngapain loe nerbitin tulisan itu lagi. Emangnya ada gunanya?! Emangnya bagus apa tulisan-tulisan loe itu? Emangnya ada yang demen? Emangnya ada yang rindu ama tulisan jelek loe itu…..” Aarghh!! Emangnya gue pikirin!! (gue tepis semua pikiran yang entah berasal dari lobus yang mana dari hemisferum gue). Nggak ada yang bisa halangin gue nerbitin ni tulisan. Gue lagi pengen emangnya kenapa? Keberatan?!!
Dan Kolega Save us, akhirnya gue putusin selebaran jelek ini harus terbit lagi. Wong Playboy yang isinya kagak karuan aja berani terbit di bumi Indonesia. Masa gue kalah gitu aja?
Yep, nggak terasa udah lama nggak bersua. Selepas persuaan kita yang terakhir terlalu banyak perubahan yang terjadi. Harga BBM yang naik secara kurang ajar yang berimplikasi pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok (udah susah nyari nasi bungkus yang tiga rebuan, wadai yang tiga ratusan), naiknya harga kertas yang mau nggak mau juga bikin harga potokopi melambung. Naiknya ongkos transport, Meningkatnya jumlah pengangguran dan orang-orang miskin. Bertambahnya tindak kezaliman baik yang berskala lokal seperti hilangnya sandal jepit di masjid, hingga yang berskala internasional seperti makin merajalelanya tindakan dari bandit teroris Amerika yang konon tahun ini bikin rencana tuk nyerang Iran. Gile… nggak ada puas-puasnya… habis Afghanistan, Irak, terus Iran…. Indonesia mungkin tahun depan kali yee… Asyik dong bakal perang-perangan. Apa ya kira-kira nanti alasan Amerika menyerang Indonesia?…. “Pemerintah Indonesia membiarkan terbitnya media Save us yang ditengarai merupakan media propaganda terorisme yang mengancam keamanan global” Wuihhh… keren jack!
Banyak perubahan. Namun ada satu yang nggak berubah. Save us! Ya, Sobat. Save us masih seperti yang dulu. Masih kertas potokopian buram yang lecek-lecek. Mungkin sebagian tulisannya nggak kebaca karna diperbanyak di tempat potokopi yang paling murah. Dan satu hal, harga Save us terbukti saat ini yang paling stabil. Dari dulu sampai sekarang tetap gratis, nggak terpengaruh sama kenaikan harga kertas atau harga potokopian
Isinya juga masih kayak dulu. Ngawur abiezz. Mungkin kalo kebaca guru atau dosen Bahasa Indonesia, selebaran ini akan dijadikan bahan ujian “anak-anak, di hadapan kalian ada tulisan yang sangat tidak karuan baik dari segi tata bahasa, tanda baca.. sangat menyimpang dari EYD. Nah, tugas kalian. Temukan minimal 200 jenis kesalahan!” hehehe…
Tapi nggak apa-apa. Gue ikhlas kok. Seikhlas gue tatkala melihat selebaran yang gue ketik dengan susah payah ini ternyata ada di bak sampah temenan sama kulit pisang dan gelas Aqua. Seikhlas gue bahkan saat dicaci “tulisan loe nggak mutu! Apa ini? Tulisan jelek bikinan orang jelek!” pernyataan yang pertama, kedua, ketiga benar! (walau sebenarnya gue protes dikatain orang jelek, soalnya nggak ada ciptaan Allah yang jelek. Apalagi manusia. Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk) tapi satu hal, ketika tu orang bilang tulisan gue nggak mutu bin jelek, itu sudah merupakan indikasi dia sebelumnya udah membaca tulisan gue. Kalo nggak gimana dia bisa menilai? Berarti tulisan gue dibaca dong! Wah, itu aja udah jadi kebanggaan tersendiri buat gue.
Atau sebagian yang tatkala menerima selebaran jelek ini langsung menyimpannya tanpa ada rasa kepengen untuk membacanya. Waaah. Lebih-lebih lagi bikin gue bangga. Berarti selebaran ini adalah sesuatu yang sangat berarti bagi dia, hingga buru-buru disimpan. Surat cinta kan biasanya gitu juga.
“Tapi liat, yang lain malah menjadikan selebaran loe kertas gambar, catatan kuliah, atau malah dijadiin pesawat-pesawatan..” Hmmm …. Alhamdulillah! Berarti selebaran ini telah menjadi sarana yang bisa membantu mereka atau malah membahagiakan mereka, berarti gue dapat pahala dong udah membahagiakan orang.
Dan begitulah, intinya Save us kembali terbit. Nggak peduli masyarakat menginginkannya atau tidak. Yang jelas gue kepengen. Itu aja. Dan nggak peduli nomor edisinya jadi kacau balau. Soalnya terus terang gue rada-rada lupa, edisi terakhir kemarin itu dikasih nomor berapa (habis, gue bukan orang yang hobi ngarsipin segala sesuatu). Makanya daripada pusing-pusing, gue putusin aja edisi kali ini adalah edisi ke 20? (dikasih tanda tanya soalnya gue kagak yakin banget kalo gue pernah nerbitin edisi ke 18 dan 19). Tapi apalah artinya sebuah urutan nomor (hmm.. paling nggak gue nggak selancang Shakespeare yang bilang ‘apalah artinya sebuah nama’ padahal jelas-jelas Rasulullah bilang nama itu sangat berarti. Nama itu mengandung do’a!)
Kolega Save us, mungkin ada di antara kalian yang heran mengapa gue bela-belain nerbitin selebaran gelap ini? apa untungnya buat gue? Buat apa gue cape-cape ngetik trus ngabisin tinta ngeprint, (itupun komputer sama printernya barang pinjeman) besoknya bersusah payah ngantri di potokopian, trus merogoh kocek dalem-dalem buat memperbanyak selebaran yang bagi sebagian orang gak lebih dari sampah serapah yang gak ada gunanya. Buat apa coba? (Iya ya…. Buat apa gue ngelakuin semua itu?)
Iseng? Kurang kerjaan? Nggak juga. Gue bukan orang yang keisengan sampai rela ngabisin duit jatah jajan gue, rela membagi waktu dengan berbagai tugas yang menumpuk. Popularitas? Ah lucu banget kalo gue nyari popularitas dari kertas potokopian jelek ini. Mending ikut Indonesian Idol atau KDI atau melamar jadi playmatenya playboy versi Indonesia (huss!)…
Trus buat apa?
Kolega Save us, pernah denger lagu terbarunya Jikustik feturing Lea yang bertitelkan Aku datang untukmu? Nah di reffnya ada syair begini: “Menyelamatkanmu….. /??????(seterusnya pake bahasa Inggris, dan sampai sekarang gue belum ngeh dengan kelanjutan syair tersebut) Apa hubungannya coba dengan pertanyaan di awal tadi?
Ada. Arti dari Save us, sejauh yang pernah gue buka di kamus adalah mirip-mirip syair di atas. Tapi lebih canggih. Save us bukan hanya menyelamatkanmu, tapi save us adalah menyelamatkan kita. Ya, sobat sebagaimana maknanya, tujuan dari selebaran gelap kucel bin jelek ini adalah untuk menyelamatkan kita, bukan hanya kamu tapi mereka, dan gue juga.
“Wah loe berlebihaaan!” kembali sebuah ejekan mampir di telinga gue.
Begini jack, gue percaya dengan sabda rasul junjungan “Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” Kezaliman merajalela. Pelanggaran terhadap syari’at Allah dimana-mana. Penjajahan terhadap kaum muslimin… Apa gue diem aja dengan kemungkaran itu seraya cuma mengingkarinya dalam hati. Nggak sobat. Gue nggak mau dibilang Rasul ntar sebagai manusia yang paling lemah imannya. Paling nggak gue suarakan penentangan gue. Paling nggak gue coba luruskan yang mana yang menurut pemahaman gue itu salah ke arah yang menurut apa yang gue pahami benar. Bukan karena gue orang paling lurus atau manusia sok suci. Nggak! Gue juga –sama kayak kalian- adalah kolektor dosa. Bahkan sangat mungkin koleksi gue lebih lengkap dari punya kalian.
Tapi karena gue sadar sepenuhnya kalo dakwah itu wajib bagi tiap individu. Nggak peduli loe adalah sang pendosa. Hmm paling nggak dengan dakwah kita bisa seraya membenahi diri. Malu kan nasehatin orang, tapi kita sendiri nyatanya kagak bener. Makanya Dakwah itu sebenarnya bukan hanya bermanfaat buat orang yang didakwahi tapi manfaatnya jauh lebih besar bagi individu yang bersangkutan. Dakwah bukan hanya menyelamatkanmu tapi juga menyelamatkan gue. Dakwah itu Save us!
Dan sobat…. Mungkin terlalu naif kalo gue bilang selebaran gelap Save us ini sebagai sarana dakwah yang tepat. Tapi gue pikir nggak ada salahnya gue mencoba menyampaikan dakwah sesuai apa yang gue bisa. Moga aja si kucel gelap ini bisa menjadi pelita kelak di hari akhir, jadi pemberat timbangan di hari dimana tiada naungan selain naungan-Nya. Amin.
Epilog
Save us bakal musnah, dan gue sebagaimana elo juga bakal mati. Tapi selama bumi masih berputar…. Dakwah ini kagak bakal mati…… Believe it!!
PROSA CINTA BUAT BUNDA
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.
***
Tangan bunda adalah perpanjangan tangan Tuhan, begitu yang pernah gue baca. Bahkan, kata sebuah hadits, seandainya di dunia ini ada makhluk yang pantas disembah, maka makhluk itu adalah ibu. “Ibumu…… Ibumu…… Ibumu….” Begitu ulang lisan mulia Rasulullah hingga tiga kali, ketika salah seorang sahabat menanyakan siapa yang paling pantas untuk dihormati.
Seberapa dalam cinta dan hormat gue, loe, kita? Pada makhluk yang bernama IBU. Sedalam lautankah? setinggi gunungkah? Atau hanya sebatas remang cahaya lilin yang tak berdaya di terobos terik matahari? Atau hanya sebagai fatamorgana yang munculnya hanya menipu… ketika mendekat hakikatnya tiada!
***
Suatu ketika ada seorang bayi yang siap dilahirkan. Sebelum dilahirkan dia bertanya kepada Tuhan. “ya Tuhan, Engkau akan mengirimku ke bumi. Tapi aku takut. Aku masih kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku di sana?”
Tuhan pun menjawab, “di antara semua malaikat-Ku, Aku telah memilihkan seorang yang khusus untukmu. Dia akan merawat dan mengasihimu” Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini, di surga ini, aku tidak berbuat apa-apa, selain tersenyum dan bernyanyi. Semua itu cukup membuatku bahagia” Tuhan menjawab lagi,”Tak apa, malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu, dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang. Itu akan membuatmu bahagia.”
Namun si kecil bertanya lagi, “bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, bila aku tidak mengerti bahasa mereka?”
Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu akan membisikkan kata-kata paling indah, dia akan selalu bersabar di sampingmu, dia akan mengajarimu bicara dengan bahasa manusia”
“Lalu bagaimana jika aku ingin bicara padaMu, Tuhan?”
Tuhan menjawab,”Malaikatmu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu, dan mengajarkanmu untuk berdoa” Lagi-lagi si kecil menyelidik,”Namun aku mendengar, disana, banyak sekali orang jahat, siapa yang akan melindungiku nanti?”
Tuhanpun menjawab, “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu, bahkan hingga nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu”
“Ya Tuhan, tentu aku akan sedih jika tak melihatMu lagi” Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan membimbingmu untuk selalu mengingatKu, dia akan mengajarkan keagunganKu. Walau begitu, Aku akan selalu tetap di sisimu”
Hening, kedamaianpun menyeruak. Suara panggilan dari bumi terdengar sayup. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang. Tolong, sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku…”
Tuhanpun kembali menjawab, ” Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan: Ibu…”
***
Ibu, Bunda, Mama, Mother, Ummi, …. tak penting loe nyebutnya apa. Namun yang penting adalah cinta dan kasih sayang yang bisa kita tumpahkan sebagai purna bakti padanya. Namun ada yang jauh terpenting, bahwa betapapun, bahkan jika dalam diri loe tak ada sebersit kasih sayang padanya…. maka ketahuilah sesungguhnya kasih sayangnya tak pernah luntur terhadap loe.
***
Kasih ibu itu seperti lingkaran. Tak berawal dan tak berakhir
Kasih ibu itu senantiasa berputar, dan terus meluas
damainya melingkupi seperti kabut pagi
menghangatkan seperti matahari siang
dan menyelimuti seperti bintang-bintang malam.
***
Gue masih ingat ketika kecil dulu, ketika naik kelotok di hiliran sungai barito, (tahu kelotok kan? Jukung pake mesin yang bunyinya klotok klotok) dengan manja, kepala kecil jelek ini merebahkan diri ke paha bunda. Gue pandangi dengan asyik awan lembut berarak, begitu teduh…. kualihkan pandangan ke wajah bunda….ya Allah, wajahnya selayaknya awan putih kebiruan begitu lembut dan meneduhkan…. belaiannya begitu menenangkan…. hingga kini, bila gue rindu dengan bunda, cukup gue tengadahkan wajah ke langit, ke awan-awan kebiruan, karena gue yakin wajahnya ada di sana….
***
Ingin ku dekap… dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa, lalu di sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…..
***
Thank’s Bunda….
atas teh hangat yang engkau suguhkan di tiap pagi dan sore
atas teriakan sayang yang berkumandang tiap subuh, membangunkan si bengal ini (walau mesti engkau ulangi hingga puluhan kali… bukan.. bukan karena diri ini tidak terbangun! Sungguhh, telinga ini sangat sensitif dengan teriakan engkau. Namun telinga ini begitu rindu dengan suara kasihmu itu….
atas alunan doa-doa yang tak henti engkau panjatkan di tiap penghujung sholatmu, doa yang sama, kebahagiaan teruntuk buah hatimu…
atas tiap bulir keringat yang jatuh dari pagi hingga petang, jerih payah menambah penghidupan untuk buah tercintamu…..
atas pisang goreng yang dengan mata mengantuk kau buatkan di malam-malam larut, hidangan yang engkau harapkan bisa menemani buah hatimu belajar (sorry Mom, engkau kira di depan komputer itu anakmu belajar… padahal cuma lagi maen game)
atas pelbagai kisah yang selalu engkau ceritakan dulu sebagai pengantar tidur
atas ajaran, atas bimbingan, atas senandung indah, atas hembusan nafas…
atas segenap cinta, kasih sayang
yang hingga matipun, diri ini takkan pernah sanggup membalas,
walau hanya setengahnya…
***
Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Kalau ibunda membelai rambutmu
Kalau ibunda mengusap keningmu, memijiti kakimu
Nikmatilah dengan syukur dan bathin yang bersujud
Karena sesungguhnya Allah sendiri yang hadir dan maujud
Kalau dari tempat yang jauh engkau kangen kepada ibunda
Dendangkanlah nyanyian puji-puji tuk Tuhanmu Karena setiap bunyi
Kerinduan hatimu adalah
Sebaris lagu cinta Allah kepada segala ciptaanNya
***
Hehehe…. Dan begitu banyak cerita manis tentang kasih sayang engkau. Saat menyeberangi titian, kau gendong tubuh mungil ini, karena engkau cemas buah hatimu terjatuh, namun nyatanya dirimu yang oleng dan terjatuh. Saat itu tiada dendam sedikit pun. Raut mukamu malah mencemaskan buah hatimu
Bahkan saat buah hatimu ini usil bermain ketika menuruni tangga dan mendorongmu dari belakang, dan kau terjatuh di anak-anak tangga, kakimu terkilir, dan sakitnya terasa hingga kini….. raut mukamu masih begitu…. Tak ada sesal di sana
Begitupun ketika mulutmu sampai berdarah terluka akibat ulah bocah cilikmu yang asyik main loncat-loncatan hingga menghantam dagu indahmu…. Hanya meringis…. Matamu tetap penuh kasih….. tak pernah ada dendam di sana… hangat…
Sehangat dan sesetia dirimu menemani setiap saat dimana bocah cilikmu meronta kesakitan, dimana hanya pelukmu dan belaianmu yang bisa menjadi penawarnya….
Dimana engkau selalu ada di setiap saat, kala bahagia, kala derai air mata.
Dan hingga ujung waktu, bahkan hingga hari akhir kelak, diri ini berharap kasih sayang itu tetap terasa…. tetap wujud hingga berkumpulnya kita kembali di surga-Nya kelak.
***
Ya Ilahi, diri ini tak pernah akan sanggup membalas cinta dan kasih sayangnya. Sejuta maaf tak kan bisa menebus dosa hamba padanya… Hanya cinta dan kasih sayang-Mu yang sepadan sebagai balasan cinta dan kasih sayangnya…
Rabbighfirlii wa li walidayya…..
Warhamhumaa kama rabbayanii saghiiraa….
SURAT CINTA
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..
Seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada
My Dear….
Gue suka banget dengan puisi ini. Asli! Padahal bait puisi, senandung milik Sapardi Djoko Damono ini sebenarnya terlampau pendek untuk sebuah ungkapan cinta, tak sepanjang roman-roman cinta yang biasa dipakai para pujangga dan pembual untuk merayu kekasihnya. Akan tetapi bait di atas gue pikir mewakili sebuah cinta yang betul-betul tulus. Makanya gue bela-belain nulis puisi itu sebagai preambule.
Karena cinta adalah aktivitas personal, aktivitas yang tak menginginkan balasan. Oleh karena itu gak ada istilah cinta bertepuk sebelah tangan. Kalau cinta ya cinta, ya udah. Karena cinta yang mengharapkan balasan, sejatinya bukanlah cinta. Ketika mencinta, itulah budi bahasa kalbu yang segenapnya dicurahkan. Ikhlaskanlah deras curahan itu mengalir. Bahkan, ketika yang dikasih, balas menyakiti, tidak sepantasnya kita menagih cinta itu lagi. Karena cinta kita semestinya setulus cinta dari kayu kepada api, walaupun sang api yang dikasihi menyakitinya dan menghitamkannya. Seikhlas cinta awan kepada hujan. Walaupun dengan hujan itu awan menjadi tiada. Deuu.. romantis yaa… gue orangnya memang romantis kok, hehehe..
My Dear..
Bicara cinta yang agung, selayaknya kita iri dengan cintanya alam semesta, cinta sang matahari yang setia jutaan tahun menyinari bumi, setiap hari tanpa sekali pun ingkar janji. Padahal apa balasan bumi? Sebagaimana kasih pepohonan yang merelakan sebagian tubuhnya dilubangi, dikotori oleh burung-burung demi menyediakan tempat berhuni.
Dan cinta…. gue sepakat dengan lagu lama yang disenandungkan ulang oleh Balawan
Kalau kau benar-benar sayang padaku
Tak perlu kau ungkapkan semua itu
Cukup tingkah laku
Semua bisa bilang cinta
Semua bisa bilang…
Apalah artinya cinta
Tanpa kenyataan
Karena cinta adalah bahasa kalbu, yang wujud dalam bahasa tingkah laku. Maka cinta sejati bukanlah mainan gerak bibir, tapi cerminan pengorbanan hakiki. Ya tokh?
Alangkah agungnya karunia ini, andainya tidak ada cinta apalah jadinya semesta. Seorang ibu akan melemparkan jabang bayinya ketika terlahir, sang induk ayam akan memakani daging anak-anaknya. Rembulan tak akan mau begadang saban malam menemani makhluk-makhluk dunia.
Namun, My Dear
Karena cinta adalah sebuah cahaya agung yang disematkan Allah ke segenap makhluknya, sebuah cahaya dari Cahaya.
Maka demi cinta… maka sudah sepatutnyalah cahaya itu tunduk patuh kepada si pemberi cahaya.
Cinta bukan sembarang senjata yang bisa sekehendak hati dimain-mainkan oleh manusia.
Cinta adalah fitrah. Maka gunakan fitrah itu sesuai dengan fitrahnya….
”Cinta yang paling utama adalah cinta kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada Perjuangan di jalan-Nya..
Cinta yang kedua adalah cinta kepada Ibu, Ayah, Saudara, Sahabat, Istri, anak, harta, perniagaan…
Cinta yang ketiga, sejatinya adalah cinta yang sungguh hina, adalah cinta yang menomorduakan cinta yang pertama, sembari mengutamakan cinta yang seharusnya dinomorduakan.
Apatah lagi cinta kepada kemaksiatan, dan cinta kepada musuh-musuh-Nya, maka cinta yang ini tidak berhak disebut sebagai cinta”.
Begitu kira-kira intisari firman Allah, Sang MahaCinta dari surah atTaubah.
Ah, resah rasanya, gundah gulana, karena selama ini kita telah terperosok dengan menomorduakan-Nya
My Dear,
Gue malu pada Allah, bahwa selama ini apa yang kita agungkan sebagai cinta nyatanya hanyalah kubangan maksiat belaka. Kita nodai cinta yang mulia. Allah yang memberi cinta namun kita hancurkan karunia itu dan kita gunakan di kubangan lumpur dosa. Sungguh kita manusia tak tahu diri…
Sungguh nista…
Kita abaikan perintah-Nya, yang sejatinya adalah perintah dalam rangka kecintaan-Nya kepada makhluk-Nya.
Kita durhakai Dia dengan malah mengerjakan larangan-Nya. Padahal larangan-Nya sebenarnya adalah karena sayangnya Dia kepada makhluk-Nya.
Ketika Dia mensyariatkan jalan cinta yang sejati… malah bilik hati kita menertawakan, kita anggap Pacaran atau apalah namanya… sebagai ’sebenarnya cinta’
Ketika Dia larang untuk mengikuti kebiasaan orang-orang kafir dalam bercinta, sekali lagi kita anggap kuno larangan itu sembari bersuka ria dengan Valentine atau apalah namanya…. dengan sombongnya kita katakan hari itu sebagai ”hari cinta”
Betapa angkuhnya kita di hadapan Yang Mencipta dan Yang Memiliki.
My Dear,
Allah… ArRahman…. arRahiim.. semesta bertasbih kepada-Nya, dedaunan, rerumputan, gunung-gunung bebukitan, kuman terkecil hingga gajah dan jerapah. Semua tak pernah berhenti menyebut asma-Nya.
Dan manusia…. bahkan seharusnya manusialah yang lebih banyak mengagungkan dan mencurahkan cinta kepada-Nya. Karena manusia diberi akal, manusia dijadikan pemimpin bagi semesta.
Dan kecintaan mana lagi yang lebih besar, dibandingkan dengan mengokohkan ketakwaan, mengagungkan syariat-Nya, meneladani sunnah Rasul-Nya dan mengabdikan diri semata untuk perjuangan di jalan-Nya.
Maka, kalaupun kita saling mencinta jadikanlah cinta kita adalah cinta yang kedua, jauh di bawah kecintaan kepada Allah dan RasulNya dan Jihad di jalanNya. Biarlah loe jadikan gue yang kedua! Yang penting di barisan cinta pertama loe adalah cinta kepada Allah. Cinta mana yang lebih mempesona daripada itu…
Dan bila suatu saat kita kumandangkan cinta, maka jadikan kumandang cinta itu adalah cinta semata-mata karena Allah, seraya kita buang jauh-jauh cinta semu yang selama ini telah melenakan.
My Dear,
Cinta gue cinta sejati… bukan cinta semu… seperti dengan besar mulut dikatakan orang yang berpacaran ”engkaulah cinta sejati, cinta gue hanya untuk loe, sehidup semati” Ugh, betapa angkuhnya bila demikian. Sehingga dia menganggap sepi cinta-cinta yang lain, dan menganggap sejati kemaksiatannya.
Namun, gue akan mengatakan begini, ”Gue cinta elo, tapi gue lebih cinta Allah. Cinta gue telah banyak kebagi-bagi buat Allah, buat Rasul, buat perjuangan Islam, buat Ortu, buat saudara-saudara muslim… sisanya buat elo paling cuma beberapa persen. Tapi gue akan mencintai loe dengan tulus ikhlas sebagaimana cinta Rasul kepada Khadijah, cinta Ali kepada Fatimah.”
Gue juga gak bakalan mau kayak Romeo yang sudi mati demi Juliet. Enak aja! Mati apaan kayak gitu, gak keren banget. Gue pengen kita nantinya sama-sama mati syahid, entah itu di medan jihad atau di tiang gantungan akibat penyiksaan orang-orang kafir. Wuih, keren gak tuh.
Gue juga gak janji bakal ngasih kemewahan. Maka siap-siaplah tinggal di rumah kontrakan yang…. yaaah mirip-mirip rumahnya Abu Dzar alGhifarilah, yang bila berdiri kepala kesantuk atap, bila bersonjoran kaki menyentuh dinding
Kalo loe gak bersedia ya udah. Gue juga gak maksa kok. Toh Allah menjanjikan banyak bidadari surga yang sejuta kali lebih cantik daripada elo. Elo gak ada seujung jarinya tuh.
My Dear,
Terakhir, biarlah cinta ini disimpan dalam bilik-bilik kalbu kita. Jangan sampai syaitan bisa mengambil kesempatan menyeret kita untuk menodainya. Biarlah kita tabung, kita pelihara dan kita kerangkeng… hingga nanti Allah sedia mempersatukannya dalam ikatan yang sah dan Dia ridhai
Oke?
Amiiin!
Wassalam
Gue
The adventure of sandal jepit
Sandal apa yang paling ngetop sedunia? Yup, jawabannya adalah sandal jepit! Lho, kok bisa? Lha iya dong, sandal jepit emang sandal paling top, ngedapetinnya gak butuh banyak duit, sederhana dan nyaman dipakai. Itulah salah satu sebabnya mengapa kemana-mana gue selalu pake sandal jepit (kecuali kalo kuliah tentunya, bisa-bisa sandal jepitnya malah pindah ke kepala karma ditimpukin dosen), di samping tentunya sebab-sebab yang lain (bilang aja lo terlampau kere buat beli sandal yang bagusan).
Kolega Save us, mengapa pada edisi kali ini kita bicara sandal jepit, kayak nggak ada topik yang lain aja. Iseng banget! Kurang kerjaan! Dasar loe! Waahh… jangan keburu nyumpah-nyumpah kayak gitu dulu dunk. Gue nulis ini bukan nggak ada sebabnya. Ini semata-mata buat ngobatin kekesalan hati gue, yang mungkin juga kekesalan ini adalah kekesalan yang sama dengan kekesalan kolega Save us, terutama sesama sandal jepit mania.
Pernahkah kalian memiliki sesuatu yang sangat kalian sayangi, sesuatu yang setia melindungi kalian, selalu siap mengorbankan dirinya demi kalian, sangat lengket dengan kalian hingga kalian dengannya tak bisa terpisahkan. Kemudian suatu hari datanglah petaka itu, tanpa alasan yang jelas, seseorang dengan kasarnya dan tanpa merasa berdosa merenggut dia dari kalian. Pernahkah kalian merasakan hal yang sama? Gue pernah, sering lagi, dan gue yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang pernah merasakan hal yang sama. Ya, semua orang mungkin pernah kehilangan sandal jepit.
“Ah, loe berlebihan ngungkapinnya, itu kan cuma sandal jepit. Kayaknya dari tadi loe kebanyakan mendramatisir.deh” Hey, jangan pernah meremehkan sandal jepit. Bukankah sandal jepit setia melindungi kita dari kerikil-kerikil yang setiap saat bisa melukai telapak kaki kita, dari tai kucing yang kadang sulit dideteksi sebelumnya keberadaannya. Sandal jepit rela mengorbankan dirinya jadi kotor, atau benjol-benjol. Lalu dengan alasan apa kita meremehkan sandal jepit! (atau jangan-jangan yang bilang barusan, itu yang ngambil sandal jepit gue kemaren..).
Dan di tempat manakah, kalian paling sering kehilangan sandal jepit? Gue rasa jawabannya bakal sama, yaitu di mesjid atau langgar! Bayangin, rumah Allah jadi tempat yang paling tidak aman. Gue rasa ini bukan salah mesjidnya. Melainkan salah orangnya. Orang ke mesjid yang seharusnya beribadah terkotori dengan sering hilangnya sandal jepit? “Tapi kan kebanyakan karena nggak sengaja!” seseorang menginterupsi. Ya, betul. Memang kebanyakan nggak sengaja. Tapi apakah kita tidak bisa meresapi yang mana punya orang dan yang mana punya kita, ataukah karena sandal jepit begitu tidak berharga bagi kalian.
Seringkali kasus kehilangan sandal jepit memiliki modus operandi yang hampir sama. Yaitu biasanya pelaku meninggalkan sandal jepit yang lain sebagai pengganti punya kita. Dan hamper tidak pernah mereka meninggalkan barang yang lebih baik. Biasanya pasangan sandal yang tersisa adalah pasangan sandal hasil perkawinan antara sandal yang jenis kelaminnya sama, sebelah kiri dengan kiri atau kanan dengan kanan. Atau pasangan hasil kawin silang antara sandal jepit warna biru dengan warna merah. Atau hasil perkawinan yang tidak sederajat, yang satu ukuran nomor tujuh dan yang satu lagi nomer sepuluh setengah. Atau malah hasil kawin paksa antara sandal jepit dengan bakiak.
Apakah karena alasan itu gue nggak mau ngambil gantinya sebagai ganti sandal jepit gue yang hilang. Nggak!, gue punya prinsip bahwa sekecil apapun atau semurah apapun suatu barang, bila itu bukan milik kita, maka pantang buat mengambilnya. Kalo kita mengambil sandal gantinya toh kita sama aja dengan mereka yang mengambil punya kita. Sama-sama mencuri! Bahkan seorang syeikh pendiri sebuah partai islam internasional dalam kitabnya ‘Nidzamul Uqubat’ mengatakan bahwa hukuman bagi pengguna barang milik orang lain (yang nantinya akan dikembalikan, bukan untuk dicuri) tanpa seizing pemiliknya (ghashab) bisa dikenai sanksi penjara 6 bulan!
Kolega Save us, gue cuma ingin menegaskan, jangan pernah meremehkan hal-hal kecil. Bila dari awal kita meremehkan hal-hal yang kecil maka ke depannya kita bakal meremehkan hal-hal yang besar. Ya, begitu pula jangan pernah meremehkan suatu dosa atau keharaman meski itu hanya seujung kuku, karna sungguh Allah akan mengadili segala perbuatan kita walaupun hanya sebiji atom.
“Lho, Allah kan Mahaadil, tak mungkin Allah menjatuhkan adzab yang besar untuk dosa yang kecil” mungkin ada yang nyeletuk dalam hati kayak gitu (ayo ngaku, siapa yang nyeletuk barusan?). Ya, Allah Mahaadil. Dosa yang paling kecil nanti di akhirat akan dihukum dengan hukuman yang paling ringan di neraka. Apakah itu? “Adzab teringan di neraka pada hari kiamat, adalah laki-laki yang di kedua kakinya ada dua butir bara api yang dapat mendidihkan otak” (HR Tirmidzi). Mau loe?
SEMBELIH
Studi komparatif antara metode penyembelihan dengan syariat Islam dengan metode Captive Blot Pistol
Schultz1 Hazim2 Gue3 Loe4
1,2, Staf ahli peternakan Hannover University yang meneliti 3Yang iseng ngetik tulisan ini 4Yang iseng baca
Abstract
Kolega Save us, izinkan gue, untuk kali ini aja, menyajikan tulisan dengan sedikit niru format ilmiah. Nggak, Save us bukan sedang mengalami sebuah peralihan metamorfose menuju artikell ilmiah hingga nantinya Selebaran gelap ini berubah nama menjadi Jurnal berkala Save us! Nggak, kok, tenang aja… imej Save us sebagai media asal-asalan akan tetep gue pertahankan. Dan kalian juga gak diizinkan protes dengan penampilan save us kali ini. Terserah gue dong mau bikin kayak apa juga… ya suka-suka gue.
Keywords: Save us, gue, nggak.
Introduce
Tiap taon umat islam menyelenggarakan ibadah kurban, dan tiap taon juga pemandangan yang sama kita lihat, sapi dan kambing dibanting, diiket kencang, trus lehernya digorok, dan mengalir deraslah darah ke permukaan bumi, dan menggelepar-geleparlah seluruh jasadnya…
Ouwww!! Betapa kejamnya, sungguh tidak berperikebinatangan! Yang begitu disebut sebagai ibadah!? Mungkin ada di antara kita yang sempat berpikir kayak gitu[1]. Iya sih, emang kalo dipikir-pikir ngeri banget ya. Pernah liat ritual penyembelihan itu kan? Bahkan terkadang kita mesti menyaksikan tubuh yang disembelih itu terus mengalirkan darah dan masih tersengal-sengal dalam sakaratul mautnya…
”Seutama-utama ibadah pada hari Adha adalah mengalirkan darah binatang ternak” begitu kira-kira konteks salah satu hadis dari Rasulullah. Nah, ini apalagi. Ternyata Islam betul-betul melegalisasikan penyiksaan dengan membungkusnya sebagai ibadah, hmm betapa sadisnya, betapa bengisnya… mungkin ada yang berpendapat demikian ketika dengar hadits tadi[2].
Nah, beda banget dengan yang dilakukan oleh Barat ketika melakukan penyembelihan. Mereka berusaha melakukan penyembelihan dengan cara yang tidak menyiksa dan menyakiti binatang ternak. Metode yang menurut mereka modern ini dikenal sebagai metode dengan Captive Blot Pistol. Dimana ternak dipingsankan terlebih dahulu dengan memukulkan alat tadi di bagian tertentu di kepala ternak dengan kecepatan tertentu dan beban tertentu. Cara ini menurut mereka adalah yang terbaik, karena ternak tidak meronta-ronta, tidak nampak kesakitan, dan tidak nampak teraniaya.
Hayooo!! Bandingkan dengan cara islam!! Yang kejam, dan tidak peduli dengan Hak Asasi Binatang…
Gue tertunduk. Gue juga bingung mau jawab apa. Bagaimanapun itulah syariat dan hukum Allah, ya mau gimana lagi… Sami’na wa atha’na… kami denger dan kami taati… tapi masa kita bisa gitu aja diolok-olok kayak gitu!!!!?
Namun dari salah satu satu sudut persada bangkitlah dua ilmuwan dari Hannover University, Jerman. Prof. Dr. Schultz dan Dr. Hazim yang memimpin suatu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan, manakah yang lebih manusiawi? Penyembelihan secara Syariat Islam (tanpa pemingsanan) atawa penyembelihan cara barat (dengan pemingsanan?[3]
Insrument
- Elektrokardiograf (EKG)
- Elektroencephalograf (EEG)
- Captive Blot Pistol
- Sapi-sapi dewasa
Method
Sekelompok sapi dewasa dipasang chip elektroda EEG dengan menyentuhkan beberapa titik panel rasa sakit di permukaan otak kecilnya. Pada jantung dipasang EKG. Selanjutnya, sapi dibiarkan beradaptasi beberapa minggu. Separuh sapi kemudian disembelih secara syariat Islam dengan menggunakan pisau sangat tajam dan memotong dengan potongan yang dalam pada 3 saluran leher bagian depan (esofagus, trakhea, arteri karotis dan vena jugularis) Sebagian lagi dengan cara barat yaitu dengan terlebih dahulu dipingsankan dengan metode Captive Blot Pistol (CBP)- Stunning4. Selama penelitian, semenjak penyembelihan hingga ternak mati EEG dan EKG pada seluruh ternak dicatat.
Result and Analysis
a. Penyembelihan ala Syariat Islam
Pada 3 detik pertama setelah 3 saluran diputus, tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG, hal ini berarti pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.
Pada 3 detik kedua, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara gradual yang sanga mirip dengan kejadian deep sleep hingga sapi-sapi tersebut benar-benar kehilangan kesadaran. EKG tercatat mengalami peningkatan aktivitas
Setelah 6 detik pertama, EKG merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik darah sebanyak mungkin dari seluruh tubuh dan memompanya keluar, yang merupakan refleks koordinasi jantung dan spinal cord. Pada saat darah keluar melalui 3 saluran ini, grafik EEG tidak naik, justru drop sampai ke zero level, yang diterjemahkan sebagai no feeling of pain at all[5] .
Oleh karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat yang layak dikonsumsi manusia yang sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice
b. Penyembelihan ala Barat
Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps. Setelah itu sapi tidak bergerak-gerak lagi sehingga mudah dikendalikan. Sapi (nampaknya) tidak merasa sakit saat disembelih, dan hanya sediki mengeluarkan darah.
Kedua, tercaat adanya kenaikan yang cukup nyata pada grafik EEG segera setelah proses pemingsanan. Hal tersebut mengindikasikan adanya cekaman rasa sakit yang diderita ternak (pada saat kepalanya dipukul).
Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik EKG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti berdetak. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar tubuh.
Keempat, oleh karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa kelar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan daging yang tidak sehat, yang tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Hal ini karena timbunan darah yang tidak sempat keluar pada ternak yang disembelih merupaka ntempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yang merupakan agen utama perusak kualitas daging.
Discussion
Muncul beberapa pertanyaan, bukannya meronta-ronta dan meregangkan otot saat disembelih itu merupakan ekspresi rasa sakit? Nah, dugaan loe itu ternyata keliru, masih menurut penelitian Prof.Dr Schultz dan Dr Hazim, bahwa pisau yang mengiris leher itu tidak menyentuh saraf rasa sakit. Sehingga yang terjadi adalah tidak ada rasa sakit sama sekali. Sedangkan aktivitas meronta itu hanyalah ekspresi keterkejutan otot dan saraf saja pada saat darah mengalir deras.
Timbul lagi masalah, tentang seringkali sapi sangat lama setelah disembelih baru mati. Hal ini terjadi karena sapi memang spesies yang memerlukan waktu yang lebih lama bisa bertahan setelah disembelih sebelum matinya.
Nah, kemudian juga masih ada kaitannya nih, dengan metode Captive Blot Pistol. Kita sering dihantui ketakutan tentang bahaya penyakit Sapi Gila yang ditularkan virus Bovine Spongioform Enchepalopathy (BSE). Sebenarnya penyakit ini tidak perlu dirisaukan, karena hanya menjangkiti daerah otak sapi. Sehingga memakan dagingnya terhitung aman-aman aja. Masalahnya, publik kemudian dikejutkan dengan temuan adanya virus ini pada daging sapi yang siap dimakan. Permasalahan kemudian terjawab dari beberapa penelitian. Bahwa jaringan otak bisa sampai ke daging adalah akibat proses CBP Stunning tadi, karena pada saat di stunning otak yang semula compact pecah selaputnya karena tekanan dan getaran kuat, dan partikel mikroskopisnya kemudian terbawa oleh darah ke paru-paru, hati dan organ tubuh lainnya
Summary
Nah, udah jelas? Ini cuma sebagai bukti kalo Allah itu gak pernah salah dalam menurunkan syariatnya. Manusia aja yang kadang ngoyo. Ngaku modern padahal ternyata asal-asalan aja. Sekali lagi, Allah Mahabenar dan Maha Mengetahui. Ya iya laah.. Allah yang nyiptain manusia, nyiptain hewan, dan semuanya… tentunya Allah paling tahu apa yang terbaik untuk makhluknya itu…..
Footnote
- Ayo ngaku, siapa yang mikir kayak gitu?
- idem
- Tulisan ini beneran lho, gue kutipnya dari buku Gue Never Die karangan Salim A Fillah. Tapi kalo mo baca jurnal aslinya, silakan nyari sendiri aja ya..
- Jangan tanya gue gimana bentuk alatnya. Pikir aja sendiri.
- Aduh, masa yang beginian mesti gue juga yang nerjemahin. No feeling at all itu aritnya tidak ada rasa sakit sama sekali. Berapa sih nilai bahasa inggris loe? ®